Pak Kedindil

  • Whatsapp

 

Karya: Rusmin

Isu reshuffle kabinet di Negeri Lilot sepekan terakhir makin menggema. Resonansinya getarkan alam. Wajah-wajah temaram mulai terlihat di kantor-kantor. Kelesuan melanda jiwa dan pikiran mereka, para pengabdi itu. Pembicaraan mereka pun hanya seputar soal reshuffle. Sementara ekonomi rakyat kembang kempis bukanlah prioritas. Padahal, kekeringan mulai melanda perut masyarakat. Toh tak mampu hentikan narasi mereka tentang reshuffle.

Pergantian para pejabat ini menurut sumber terpercaya, terkait upaya Kepala Negeri Lilot untuk mengaplikasikan visi dan misinya saat kampanye pada pemilu beberapa waktu lalu. Intinya, untuk perubahan pembangunan dan kesejahteraan warga.

Yang paling merasa ketakutan amat sangat adalah Kedindil, pejabat di salah satu dinas. Terlebih tatkala Kepala Negeri dalam semingggu terakhir ini, tak pernah lagi meminta dirinya datang ke ruangan. Apakah sekadar menanyakan tugas-tugas yang sudah dikerjakan, atau hal lain.

Kondisi ini membuat Kedindil makin percaya dengan isu bahwa dirinya termasuk salah satu pegawai yang akan dilengserkan. Apalagi beberapa kelompok NGO sering menyatakan hal senada kepada dirinya. Tak pelak kepercayaannya terhadap berita konon kabarnya itu makin menggundah gulanakan hatinya. Kelesuan mengabdi mulai terpancar dari jiwanya. Patah arang mengaliri sekujur jiwa raganya.

Dan siang itu di warung Mang Keliru, sejumlah warga negeri sedang berkumpul. Ramai sekali. Fokus pembicaraan tentang isu rencana reshuffle kabinet. Seolah-olah narasi tentang pergantian pejabat di Negeri Lilot itu membahagiakan semua orang. Soal perut yang keroncongan itu masalah lain. Diksi reshuffle lebih penting. Begitu kira-kira pikiran mereka. Soal harga daging dan sembako naik itu pun bukan urusan penting. Soal reshuffle lebih penting.

“Pak Kedindil, apa benar Kepala Negeri akan me-reshuffle kabinet dalam minggu-minggu ini?” tanya  Useng.

“Nah itu yang saya belum tahu sampai kini. Isu itu pun saya baru tahu dari kawan-kawan. Kepala Negeri belum pernah cerita tentang soal mutasi,” jawab Kedindil sambil menyeruput kopi yang terhidang di hadapannya.

“Saya enggak percaya kalau Pak Kedindil ndak tahu isu itu. Bapak kan tim sukses Kepala Negeri terpilih waktu pemilihan dulu. Pak Kedindil kan orang kepercayaan beliau. Masa tangan kanan pemimpin ndak tahu berita itu?” jawab Useng seraya menyantap pisang goreng.

“Jujur, saya belum tahu rencana itu,” jawab Kedindil dengan nada pendek seolah menyiratkan malasnya dia membahas soal reshuffle itu.

“Wah kalau begitu ceritanya, Pak Kedindil udah enggak dipake sama Kepala Negeri lagi. Pak Carmuk saja udah tahu kalo mau ditempatkan sebagai Kepala Dinas. Masa Pak Kedindil belum tahu posisinya. Padahal kita semua tahu bagaimana dekatnya hubungan Bapak dengan Kepala Negeri,” sela yang lain.

“Mestinya para pegawai nabat (tahu diri). Kalau usia sudah masuk masa pensiun, tak harus ngotot minta jabatan. Janganlah dengan jabatan justeru merugikan orang banyak. Buat apa bangga dengan jabatan kalo hanya untuk petantang petenteng dan tidak mampu memberikan kontribusi buat warga?  Serahkan kepada yang muda-muda dan yang ahlinya. Ada regenerasi. Saya setuju dengan langkah Kepala Negeri untuk melakukan perubahan dengan menempatkan orang yang sesuai bidangnya dan yang energik. Jangan yang diajak yang sudah tua-tua dan uzur. Kasian warga. Kasian Kepala Negeri,” kata Arok, Ketua Organisasi Pemuda.

Pengunjung warung Mang Keliru pun terdiam mendengar celetukan Arok. Dalam hati mereka berkeyakinan, apa yang diucapkan Arok ada benarnya juga.

Setiba di rumah, Kedindil diam seribu bahasa. Panggilan dari sang isteri tidak digubrisnya. Entah sudah berapa kali, tawaran minum kopi yang dihidangkan sang isteri di teras depan rumah mereka, tak dihiraukan. Sang isteri pun bingung. Apa gerangan yang terjadi pada suaminya.

“Pak. Diminum kopinya. Entar kopinya keburu dingin. Ndak enak lho minum kopi dingin,” ujar isterinya.

Kedindil tidak menyahut. Diam seribu bahasa. Wajahnya terkesan gusar. Ada sesuatu yang terpendam. Sekan-akan hendak memecahkan kepalanya yang sudah ditumbuhi warna putih.

Melihat sang suami tidak menanggapi percakapannya, sang isteri langsung pergi meninggalkan Kedindil seorang diri. Angin bertiup sepoi.

 

***

 

Usai Maghrib, ketukan pintu membuat kaget Kedindil yang sedang asyik nonton TV sendirian. Pintu depan dibukanya. Terlihat wajah Pak Carmuk tersenyum bahagia.

“Oh, Pak Carmuk, apa kabar? Mari Masuk,” sapa Kedindil sambil mempersilahkan taunya duduk di ruang depan rumahnya.

“Kok sepi. Kemana  isteri dan anak-anaknya Pak?” tanya Pak Carmuk seraya menyandarkan badan pada daun kursi.

“Anak-anak bersama ibunya ke rumah mertua. Ada keperluan,” jawab Kedindil.

“Oh, ya. Pak Kedindil udah denger belum rencana Kepala Negeri mau merombak susunan personalia pemerintahan kita?” tanya Pak Carmuk.

“Belum Pak. Emangnya Pak Carmuk udah dihubungi Kepala Negeri?” tanyanya.

“Belum sih. Cuma info yang saya denger dari Pak Sekretaris, kalau Kepala Negeri mau melakukan perombakan besar-besaran. Beliau mau menempatkan orang-orang terbaik yang akan melaksanakan visi dan misi beliau waktu kampanye dulu,” jawab Pak Carmuk.

“Oh…. Kalau begitu, kita-kita ini akan terpental dari posisi kita selama ini Pak?” Tanya Kedindil.

“Saya belum tahu Pak Kedindil. Ya, kita pasrah saja. Jabatan kan amanah dan kepercayaan. Kalo kita tidak dipercaya lagi, ya kita harus bersikap bijaksana. Jabatan jangan dikejar-kejar lah. Ntar kita sendiri yang repot. Apalagi usia kita kan udah tergolong telmi,” kata Pak Carmuk.

“Telmi…?” Kedindil heran.

“Iya. Telat mikir. Maklum kan usia kita udah layak pensiun. Kalah bersaing dengan pegawai-pegawai muda itu. Kita ini kan cuma menang di golongan saja. Kalau soal ilmu, jujur saja kita ini ketinggalan. Makanya, saya pasrah saja, kalau enggak dipake lagi. Biar pegawai yang muda-muda itu membantu Kepala Negeri mewujudkan visi dan misi beliau agar rakyat lebih sejahtera. Mareka kan masih fresh,” Pak Carmuk berseloroh.

Sepulangnya Pak Carmuk, Kedindil langsung tancap gas dengan motor dinasnya. Pria setengah baya ini menuju rumah Mbah Pahing yang terletak di desa seberang. Sudah bukan rahasia umum lagi, Mbah Pahing dikenal sebagai orang pintar. Banyak orang terkenal yang berkunjung ke rumahnya.

“Anu, Mbah. Saya minta pendapat. Bagaimana dengan karier saya? Soalnya ada isu, Kepala Negeri akan merombak kabinetnya,” tanya Kedindil hati-hati.

“Saya sudah tahu itu. Posisimu akan digantikan orang yang lebih muda dan cerdas serta penuh vitalitas. Orang-orang ini yang akan dipakai Bos mu,” jelas Mbah Pahing.

“Apa yang harus saya lakukan Mbah,” tanya Kedindil.

“Kamu titip barang ini di pintu masuk ruangan kerja Bos mu,” jawab Mbah Pahing sambil menyodorkan sesuatu bungkusan kepada Kedindil.

 

###

 

Usai subuh, Kedindil melangkahkan kakinya menuju rumah Kepala Negeri. Di tangan kanannya menenteng bungkusan kecil pemberian Mbah Pahing. Usai bersapa ria dengan para hansip yang bertugas di halaman rumah Kepala Negeri, Kedindil langsung menuju ruang belakang rumah itu. Tampak isteri Kepala Negeri sedang mendengarkan ceramah subuh seorang ustadz terkenal di televisi. Melihat kehadiran Kedindil, isteri Kepala Negeri langsung menyapa.

“Tumben, Pak Kedindil. Pagi-pagi datang ke rumah. Ada keperluan penting ya?” tanya isteri Kepala Negeri kepada Kedindil.

“Iya, Bu. Saya ingin mencari informasi yang akurat dan terpercaya soal mutasi pegawai. Soalnya banyak yang bertanya kepada saya,” jawab Kedindil.

“Maaf, ya Pak Kedindil. Kalau masalah itu, saya ndak paham. Itu wewenang Bapak. Saya enggak ngerti sama sekali. Saya mohon maaf Pak. Saya ndak tau soal-soal itu,” jawab isteri Kepala Negeri.

“Baiklah Bu. Saya mohon maaf telah menggangu. Ini ada titipan hasil kebun untuk Bapak,” ujar Kedindil.

“Terima kasih ya Pak Kedindil. Ngerepotin saja bawa hasil kebun ini,” ujar isteri Kepala Negeri. Kedindil pun pamit dan meninggalkan rumah pemimpin desa dengan seribu pertanyaan dalam hati.

 

###

 

Siang harinya, suasana kantor tidak seperti biasanya. Para pegawai Kenegerian sibuk membicarakan tentang isu perombakan personalia pemerintahan dari pada melayani warga yang datang berurusan.

“Kabarnya, yang akan diangkat sebagai Sekretaris adalah pegawai muda dari salah satu dinas. Orangnya masih muda dan bertitel. Lulusan universitas jurusan administrasi,” ujar Pak Gamang, Kepala Keamanan Kantor Kepala Negeri.

“Iya. Kabarnya yang akan menempati posisi bendaharawan adalah seorang lulusan akuntansi masih muda juga. Lulusan terbaik di universitasnya,” sela Mina yang bekerja di bagian pelayanan umum.

“Hebat dong gebrakan Kepala Negeri kita. Menempatkan orang-orang terbaik pada posisinya,” tukas Iyan, sang hansip.

“Emangnya kamu mau diganti posisimu sebagai tukang jaga malam sama Kepala Negeri?” tanya Mina kepada Iyan dengan penuh emosi. Iyan tak menjawab. Wajahnya merah membara menahan emosi.

Tak lama setelah gonjang ganjing siang itu, Kepala Negeri mengumpul semua staf di ruang rapat. Wajah beberapa pegawai berusia lanjut terlihat tegang. Termasuk Kedindil. Kepala Negeri merasakan adanya sesuatu yang terjadi pada beberapa pegawai ini.

“Bapak dan Ibu sekalian. Saya mengumpulkan kalian semua di ruang ini untuk menjelaskan tentang rencana mutasi di pemerintahan kita. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kwalitas pelayanan. Pergantian ini adalah sesuatu yang harus dilakukan. Saya ingin yang membantu saya adalah pegawai-pegawai yang  penuh semangat dan penuh vitalitas. Kita semua kan tahu. Saat ini pelayanan kita terhadap masyarakat belum prima. Banyak keluhan dari warga,” jelas Kepala Negeri.

Semua terdiam. Usai rapat, Pak Kedindil menemui Kepala Negeri. Dengan langkah tegap dan senyum yang mempesona, Kedindil masuk ke ruangan Kepala Negeri.

“Pak. Saya mohon agar surat pensiun saya segera ditandatangani. Sudah waktunya saya mengabdi untuk keluarga. Saya rasa sudah cukup sampai usia setua ini saya mengabdi untuk masyarakat. Saya ingin pensiun, Pak. Saya akan pulang kampung saja. Biar bisa dekat dengan keluarga,” jelas Kedindil.

 

Kepala Negeri tersenyum mendengar keinginan Pak Kedindil.

“Saya bangga dengan Pak Kedindil. Berjiwa besar dan patriotisme. Siap memberikan tempat kepada yang muda-muda untuk terciptanya regenerasi. Saya bangga dengan Pak Kedindil. Saya bangga sekali,” ujar Kepala Negeri sembari menepuk-nepuk pundak Kendindil.

Kedindil pun meninggalkan  kantor Kepala Negeri wajah gembira. Ingin rasanya ia mengabarkan kepada semua orang bahwa dia bukan pengambisi jabatan. Dirinya adalah abdi masyarakat. Bukan abdi jabatan. Toboali, Bangka Selatan. (***)

Related posts