Pada Suatu Hari Ada Tukang Becak dan Presiden

No comment 166 views


Karya Rusmin

Suara kokok ayam meresonansi alam. Saling bersahutan. Riuhkan pagi. Ramaikan bumi yang mulai terang derang. Gempitakan cakrawala. Suara azan subuh terdengar merdu. Alam hening. Nuansa religiusnya menusuk ke dalam tubuh umat manusia. Getarkan nurani. Tundukkan kepala, bersujud ke hadapan Sang Maha Pencipta.
Mentari terbangun dari mimpi panjangnya. Rembulan mulai rebahkan diri ke peraduan. Usai sholat berjamaah di masjid, Mang Husin tinggalkan masjid. Jejak kaki para jemaah masjid pun mulai tinggalkan halaman masjid bersamaan jejak kaki Mang Husin menuju becaknya yang biasa terparkir di depan masjid.
Baru saja hendak mendorong becaknya, terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh. Tampak seorang lelaki tegap tersenyum kepadanya. Senyum yang amat khas. Senyum yang mengambarkan kewibawaan seseorang.
“Becak, Pak?” tawar Mang Husin dengan nada ajakan.
“Oh, iya, Pak,” jawab lelaki yang baru keluar dari masjid dengan nada suara berwibawa sambil tersenyum.
“Kemana Pak?” tanya Mang Husin.
“Bagaimana kalau kita ngopi dulu. Pagi-pagi seperti ini enaknya kalau kita ngopi. Kita cari warung kopi. Bapak belum ngopikan? Tahukan tempat warkop yang enak di sini?” tanya lelaki itu dengan senyum khasnya.
“Bapak bisa saja. Tahu dong, Pak. Warkop Mpok Iyem saja. Langganan saya. Kopinya enak. Dan lokasinya pun dekat. Dan murah meriah, Pak,” jawab Mang Husin sambil mengayuh becaknya diiringi derai tawa sang penumpang.
Jalanan masih sepi. Kayuhan kaki Mang Husin di pedal becak terus sisiri jalanan. Jalanan kehidupan yang terus dijalani hingga akhir hayat menjemput. Sebuah perjalanan panjang seorang insan manusia dalam menantang kehidupan. Dan tanpa terasa keduanya sudah sampai di warung kopi Mpok Iyem.
Sambil menikmati kopi, Mang Husin dan lelaki itu saling bercerita. Laksana dua orang kenalan lama yang sudah tak lama bertemu. Tawa dan canda warnai cerita keduanya. Tak ada kasta diantara keduanya. Lepas dan bebas laksana burung-burung yang mulai keluar dari sangkarnya untuk menghadapi ganasnya alam dan kehidupan. Dan Mang Husin dengan lepasnya menceritakan tentang hidup dan kehidupannya tanpa beban. Beberapa kali lelaki murah senyum itu tertegun mendengar keluhan Mang Husin.
“Sekarang barang-barang naik, Pak. Sementara penghasilan saya sangat minim. Bapak kan tahu berapa penghasilan tukang becak? Sedangkan anak masih sekolah,” keluh Mang Husin sambil menyeruput kopi.
“Apakah Mang Husin tidak punya niat usaha lain? Misalnya bertani atau beternak?” tanya lelaki murah senyum itu.
“Niat sih ada Pak. Cuma modal yang enggak ada,” jawab Mang Husin.
“Kan sekarang banyak permodalan yang diberikan untuk masyarakat dari pemerintah. Terutama disektor pertanian dan peternakan. Mang Husin kan bisa datang ke kantor pemerintah daerah,” ungkap lelaki itu.
“Bapak kayak enggak tahu aja. Mana bisa orang seperti saya ini dapatkan kemudahan dari pemerintah. Saya ini rakyat jelata Pak. Tak ada koneksi di Pemda. Biasanya yang dapat kan yang punya koneksi dengan orang besar di kantor-kantor,” ujar Mang Husin blak-blakan. Lelaki murah senyum itu tertawa mendengar jawaban Mang Husin.
Sudah seminggu ini, Mang Husin dan lelaki murah senyum itu menjadi karib. Sangat akrab. Mereka layaknya dua sahabat lama yang kini bertemu kembali. Setiap usai sholat subuh keduanya menyusuri berbagai tempat yang ada di Kota Ini. Kadang mereka berada di pasar. Kadang di sawah. Bahkan pernah Mang Husin mengantar lelaki itu ke peternakan sapi. Dan sudah seminggu ini, penghasilan Mang Husin naik tajam. Kalau biasanya sehari pendapatan dari becaknya setelah dipotong sewa, penghasilan yang diberikan kepada istrinya hanya berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000. Kini pendapatannya dalam seminggu berkisar diantara angka Rp100.000. Dan cita-cita untuk merubah hidup pun mulai diimpikan Mang Husin. Sebuah cita-cita yang amat manusiawi.
“Kalau pendapatan kita terus seperti ini, kayaknya dalam bulan ini kita bisa punya becak sendiri, Bu,” ujar Mang Husin kepada istrinya.
“Iya, Pak ya. Semoga tercapai ya Pak,” jawab istrinya.
“Semoga Bapak itu tetap memakai jasa becak saya,” ujarnya.
“Siapa sih orang itu, Pak. Pejabat ya? Atau Pengusaha?” tanya istrinya.
“Saya enggak nanya lho Bu. Kenalnya saja di masjid habis sholat Subuh,” jawab Mang Husin.
Perubahan yang dialami Mang Husin juga dirasakan teman-teman seprofesinya yang biasa mangkal di warung Mpok Iyem. Kini Mang Husin sudah bisa mentraktir teman-temannya walaupun kadarnya hanya untuk segelas kopi. Tunggakan sewa becak pun tak ada lagi. Demikian pula dengan tunggakan SPP anaknya di SMP. Sudah terbayarkan. Bahkan hutangnya di warung Mpok Iyem sudah lunas. Lunas terbayar.
“Kita doakan terus Mang Husin biar rezekinya nambah banyak,” ujar Wiwid teman seprofesinya saat mereka berkumpul di warung Mpok Iyem.
“Iya, Mang Husin. Dan doakan juga kami biar penghasilannya bisa seperti Mang Husin,” sambung Ipong.
Mang Husin hanya terdiam. Ingatannya melayang kepada lelaki yang sering memakai jasa becaknya. Seribu tanya menggelayut dalam pikirannya. Siapa sebenarnya lelaki perkasa dan perlente murah senyum nan sederhana itu? Apakah lelaki itu orang berpangkat? Apakah lelaki itu pengusaha? Atau…?
Namun kemudian sudah seminggu ini, Mang Husin tidak bertemu lagi dengan lelaki tegap murah senyum itu. Para jemaah masjid pun tak banyak tahu tentang siapa lelaki itu. Dan bagi jemaah masjid dan pengurus masjid, bukanlah persoalan besar siapa lelaki itu. Toh masjid ini terbuka untuk orang yang mau sholat dan beribadah.
Subuh itu Mang Husin agak terlambat datang ke masjid. Nonton bola di televisi adalah penyebab Mang Husin datang agak terlambat ke masjid subuh ini. Suara azan telah berkumandang dengan merdu. Religiuskan jaga raya. Dengan tergopoh-gopoh, Mang Husin mengayuhkan becaknya menuju masjid. Kecepatannya tak kalah dengan kendaraan roda dua buatan Jepang. Namun Mang Husin kaget setengah mati saat jalanan menuju masjid dipenuhi mobil-mobil mewah. Jumlahnya mencapai puluhan. Kebanyakan berplat merah. Berjejer rapi sepanjang masjid. Tampak pula aparat berseragam mengatur lalu lintas. Sementara beberapa petugas berpakaian preman tampak sibuk mengawasi orang-orang dan aktivitas di sekitar masjid.
Usai sholat, seperti biasanya Mang Husin langsung menuju becaknya. Cuma kali ini becaknya diparkir jauh dari masjid. Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan masjid, panggilan dari seseorang membuat kakinya terhenti. Suara itu sudah amat dikenalnya. Suara yang amat khas. Ya, suara lelaki murah senyum itu.
“Mang Husin. Apa kabar?” sapa lelaki itu sambil berjalan menuju Mang Husin dengan diiringi puluhan orang di belakangnya.
“Baik, Pak. Bapak gimana kabarnya? Kok sudah lama tak datang? Apakah Bapak mau dianterin ngopi di warung Mpok Iyem?” tanya Mang Husin. Lelaki itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Beberapa pria di belakang lelaki itu langsung membisikkan sesuatu di telinga lelaki itu. Lelaki murah senyum itu tampak mengangguk. Namun ajakan Mang Husin tampaknya lebih menggoda lelaki murah senyum itu daripada bisikan orang-orang itu.
Dan yang amat mengagetkan Mang Husin, becak yang diparkirnya jauh dari masjid, tiba-tiba sudah berada di halaman masjid. Tanpa basa basi lelaki itu langsung menaiki becak Mang Husin. Sementara di depan masjid sebuah voorrider mengiringi perjalanan mereka. Sambil mengayuh becak, seribu tanya terus mengalir dalam otak kecil tukang becak ini. Ada apa ini? Apalagi beberapa orang juga mengiringi perjalanan mereka sambil berlari kecil.
Kekagetan juga melanda Mpok Iyem. Warungnya kedatangan beberapa lelaki berbadan tegap yang langsung mengamankan situasi di sekitar warung kopi itu. Kekagetan Mpok Iyem makin bertambah melihat kedatangan Mang Husin dan lelaki parlente murah senyum itu yang kali ini diiringi puluhan orang.
“Ada apa ya Mang Husin kok ramai sekali?” tanya Mpok Iyem.
“Saya juga tidak paham Mpok. Cuma Bapak ini ngajak kopi di sini lagi,” jawab Mang Husin. Kembali lelaki parlente itu cuma tersenyum.
Usai menikmati kopi dengan lelaki parlente itu, Mang Husin langsung pamit dan bergegas menuju kediamannya dengan becak. Maklum tugas rutinnya sebagai seorang ayah adalah mengantarkan putrinya ke sekolah sekaligus mengantar istrinya berbelanja di pasar. Dan rutinitas itu sudah dilakoni Mang Husin bertahun-tahun semenjak mereka menikah. Mang Husin melakukannya dengan amat bahagia. Amat bahagia. Tak ada keluh kesah. Semuanya dijalaninya dengan hati yang ikhlas sebagai tanggungjawab seorang ayah dan suami.
Tapi jantung Mang Husin tiba-tiba mau copot saat melihat puluhan orang berada di rumahnya. Seribu tanya menggelayut dalam hatinya. Sejuta pertanyaan terpatri dalam jiwanya. Apa yang terjadi di rumahnya? Apakah istrinya sakit? Atau anaknya sakit? Atau…?
Dengan langkah tergopoh-gopoh dan sejuta tanda tanya di hatinya, Mang Husin langsung masuk rumahnya. Di dalam rumah tampak belasan orang memakai seragam PNS. Ada juga orang yang membawa kamera. Lampunya menyinari rumah Mang Husin yang sempit.
“Ada apa ya, Bu?” tanya Mang Husin kepada istrinya.
“Saya juga tidak mengerti Pak. Katanya ada Presiden,” jawab istrinya dengan nada ketakutan.
“Presiden?” sambut Mang Husin dengan nada suara terpekik setengah kaget.
“Iya, Mang Husin. Lelaki yang selalu bersama Mang Husin selama ini adalah Bapak Presiden. Beliau memang sengaja datang tanpa diketahui siapapun. Termasuk kami yang ada di kecamatan ini tak tahu kalau Bapak Presiden sudah seminggu berada di kecamatan kita ini. Semalam Pak Bupati memberitahukan saya. Tadi beliau ingin datang langsung ke sini ke rumah Mang Husin, namun beliau ada pertemuan dan janji dengan warga di desa sebelah. Beliau cuma titip salam dan ini,” jawab seorang lelaki berseragam pemda yang ternyata Camat sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Mang Husin.
Mendengar paparan dari Pak Camat, Mang Husin langsung terkulai. Pingsan. Dengan sigap beberapa orang segera membopong Mang Husin ke peraduannya. Toboali, Bangka Selatan. (***)

No Response

Leave a reply "Pada Suatu Hari Ada Tukang Becak dan Presiden"