by

Orang Orang Kalah

Karya: Rusmin

Mereka, sekelompok orang itu dikenal masyarakat sebagai orang-orang kalah. Stigma kalah selalu ditempelkan dijidat mereka tanpa ampun dari orang-orang sekitar. Stempel orang-orang kalah dicapkan tanpa adanya apologi. Mereka mendapat julukan sebagai kaum yang kalah karena sekelompok orang itu tak mau bersama-sama dengan mereka, memperjuangkan kebenaran tanpa kebenaran hakiki.
“Biarkan mereka menilai kita sebagai orang-orang yang kalah. Yang penting kita tak kalah di mata Allah,” kata seorang dari orang-orang kalah itu.
“Benar sekali. Buat apa kata menang, tapi malah menyusahkan orang banyak,” sambung orang lainnya dari kelompok yang dilegitimasi sebagai orang-orang kalah.
“Dukungan dari orang yang banyak sekalipun bukan berarti kita menang. Kemenangan hanya buat menindas yang lemah tak berguna,” urai yang lainnya.
“Kemenangan hakikinya untuk kepentingan hajat orang banyak. Bukan untuk memuaskan satu kelompok saja,” ungkap yang lainnya.
Malam semakin menua. Cahaya rembulan makin menjauh. Orang-orang kalah itu masih berkerumun dalam kelompok yang kecil saja di sebuah perempatan jalan yang makin sepi dari aktivitas kehidupan duniawi. Mereka dari kalangan yang lemah baik secara ekonomi maupun legitimasi sosial. Mereka para tukang becak, pemulung, pengamen, pengemis bahkan profesi lainnya yang tak berkelas dalam peradaban hidup yang membuat mereka termarginalkan secara psikologis.
Secara intelektual mereka tergolong orang-orang yang waras. Orang-orang yang menang dijalan kebenaran, walaupun julukan sebagai orang-orang kalah melekat dalam jidat mereka tanpa ampun dari sekelompok warga.

___

Mereka tetap dijuluki sebagai orang-orang kalah tanpa adanya legitimasi sosial. Dianggap sebagai biang kekotoran kota yang makin tak manusiawi. Umpatan berbau tak berperikemanusian sudah menjadi santapan pagi mereka yang hanya mementingkan duniawi. Kelompok orang-orang kalah itu dianggap sebagai permasalahan kemanusian yang harus enyah dari kehidupan Kota yang menganut asas kemoderenan versi mereka. Mereka, orang-orang kalah itu bagian dari yang membuat Kota tak berkembang. Maklum mereka tinggal di kolong jembatan, aliran sungai dan sederet gubuk reot yang hanya beralaskan tikar bahkan koran dengan langit sebagai tiang rumahnya.

“Bagaimana kota ini akan maju dan berkembang, kalau orang-orang kalah itu masih hadir sebagai bagian dari Kota?” tanya seorang elite negeri.
“Benar sekali Pak Gubernur. Mereka tak layak hidup di Kota yang mengandalkan fulus sebagai penggerak mesin ekonomi,” sambung seorang lelaki berdasi.
“Bagaimana Kota ini akan menjadi Kota impian kalau masih banyak warganya tak punya mimpi,” sela yang lain.
“Jadi solusi terbaiknya?” tanya Pak Gubernur.
“Usir mereka dari Kota. Tempatkan pada sebuah pulau atau apalah namanya. Lokalisir mereka. Yang penting mereka tidak menjadi bagian dari Kota. hanya membuat malu kota saja. Ini Kota besar. Bukan tempat mereka berkompetisi untuk meraih kehidupan. Apa yang mereka punyai untuk kemajuan Kota kita ini?” kata seorang elite negeri dengan nada suara meninggi.
Pak Gubernur hanya terdiam seribu bahasa. Mentari siang itu bersinar dengan teriknya. Hawa panasnya menembus ruang kerja Pak Gubernur. Padahal pendingin ruangan di ruang kerja Pak Gubernur sudah pada level tertinggi. Tapi keringat mengucur deras dari dahi Pak Gubernur. Beberapa kali dirinya harus membersihkan keringat yang menetes.
___

Orang-orang kalah itu tetap berkerumun dalam lingkaran yang secara ekonomi kalah klas. Hidup mereka tak bertahta. Mereka tetap menatap malam dari kolong jembatan. Menatap masa depan dari emperan toko. Dan bermimpi di gubuk reot yang beralaskan tikar. Mereka tak pernah mengeluh. Tetap menantang hidup dengan semangat pantang menyerah. Mereka hidup dan berkehidupan dalam jalan yang lurus. Tak pernah menipu orang. Tak pernah korupsi. Tak pernah jadi buronan KPK. Dan yang paling penting bagi mereka yang katanya dijuluki sebagai orang-orang kalah dalam kehidupan itu, tak pernah menggadaikan harga diri. Apalagi menghambakan diri kepada penguasa untuk mendapatkan kehidupan dunia yang cuma sesaat ini.
“Kita sebagai orang-orang kalah tak pernah mengeluh,” ujar salah seorang dari orang-orang kalah itu.
“Ya. benar sekali. Mana pernah kita mengeluh kepada pemerintah. Tak pernah sama sekali,” sambung yang lain.
“Kita ini orang-orang besar. Yang tak pernah merepoti pemerintah dengan minta tender. Proyek atau apalah namanya,” ujar yang lainnya.
“Kita ini yang menang dari mereka yang hidupnya dari ketiak penguasa. Bisanya cuma mengeluh minta naik jabatan dan segala macam urusan tetek bengek untuk hidup mereka dan golongan mereka,” gerutu yang lainnya.
“Makanya kalau mereka minta dukungan berupa suara dalam Pilkada atau Pilpres kepada kita jangan mau hanya dikonversikan dengan nasi bungkus atau sehelai baju tipis. Kita harus jual mahal. Saatnya kita harus jadi pemenang. Kita ini penguasa negara dan bangsa ini. Jangan mau diremehkan mereka yang hidup dari menjual hajat hidup kita,” usul yang lainnya.
“Setuju,” suara koor mereka menggemakan alam.
Mereka pun bubar. Kerumunan itu mencair. Cahaya rembulan yang indah menidurkan mereka ke peraduan. Bermimpi indah tentang masa depan. Siapa tahu besok, ada rezeki untuk tampil sebagai orang-orang menang. Siapa tahu. (***)

Comment

BERITA TERBARU