OPD Diajak Jual Sampah Jadi Duit

  • Whatsapp
Sosialisasi bank sampah di ruang rapat DLH Provinsi Babel, Jum’at (8/3/2019).(foto: Nurul Kurniasih)

 

PANGKALPINANG- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengajak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di daerah itu untuk memberdayakan sampah menjadi uang, dengan menjadi nasabah bank sampah.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Babel, Dion menyebutkan dari aktivitas sehari-hari di OPD selalu menghasilkan sampah yang harus dibuang, namun kebanyakan sampah ini menimbulkan masalah apabila dibuang sembarangan dan menumpuk.

“Kalau enggak dikelola dengan baik akan bermasalah, sampah minuman, kardus yang menghasilkan sampah yang harus dikelola dengan baik,” ujar Dion dalam sosialisasi bank sampah di ruang rapat DLH Provinsi Babel, Jum’at (8/3/2019).

DLH, lanjutnya, sesuai instruksi gubernur untuk mengurangi sampah plastik, seluruh OPD dan ASN diharapkan menjadi nasabah bank sampah . Bank sampah, kata dia, akan mendistribusikan sampah ke Bank Sampah Teratai Benteng, Pangkalan Baru. “Mulai tahun ini mudah-mudahan kegiatan persampahan bisa ditangani dengan baik, diharapkan nanti instansi vertikal juga bisa kerja sama,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pemeliharaan Lingkungan Hidup, Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, DLH Babel, Mega Oktarian, menambahkan, nasabah bank sampah diminta untuk menyetorkan sampah setiap Jum’at dan akan dicatat berapa banyak sampah yang dikumpulkan.

“Kalau ada botol minuman, kardus atau sampah di kantor, bisa disetor di bank sampah ini, minimal berusaha untuk mengurangi sampah. Kami kerja sama dengan pihak sampah Bank Sampah Teratai Benteng, sampah-sampah ini nantinya akan didaur ulang,” katanya.

Sementara itu, Kades Benteng, Muk Se, menyebutkan, rata-rata warga di Benteng, sudah menjadi nasabah Bank Sampah Teratai, yang sudah dibentuk sejak tahun 2012 silam. “Masalah sampah ini sangat riskan, dulu ke pasar beli beras bawa kantong dari rumah, sekarang kita beli kue di bungkus plastik, sekali pulang bawa beberapa plastik, ” tuturnya.

Di Desa Benteng, lanjut dia, pembuangan akhir memang tak ada lahan, karena dibatasi dengan desa tetangga, akhirnya, sampah-sampah yang tidak diakomodir bank sampah dibuang ke lahan miliknya.

Pengelola Bank Sampah Teratai Benteng, Lie Hwa menyebutkan, sejak akhir 2012 bank sampah tersebut sudah berdiri, yang awalnya sebanyak 50 nasabah, namun sekarang yang aktif hanya 20-an nasabah.

“Mereka malas mengantar sampah ke kami, orang Bangka kan banyak dak kawa nyusah nya, padahal kalau terus aktif, lumayan. Nasabah bank sampah ini, mengambil uang hasil sampahnya setahun sekali, menjelang lebaran ataupun Imlek. Uangnya ditabung, kadang setahun sekali baru ngambil, bisa dapat ratusan ribu hingga satu juta lebih dalam satu tahun, tabungan sampah bisa jadi kue untuk lebaran. Jika sudah tau sampah akan menghasilkan uang, orang tidak akan malu lagi untuk mengumpulkan sampah,”terangnya.

Lie Hwa menuturkan, awal membangun bank sampah, ia mengaku sempat kewalahan, namun akhirnya setelah terbiasa, menjadi kebiasaan dan rutinitas.”Terkumpul kalau hitungan uang Rp 35 juta, kecil memang tapi kita belajar dari hal kecil, dan sampah termanfaatkan,” katanya.

Dia merinci, sampah yang dibeli bank sampah bervariasi harganya, mulai dari Rp250/kg hingga Rp8.500/kg. “Kalau alumunium itu harganya agak mahal Rp 8.500/kg, kalau gelas bolesa yang sudah bersih, artinya tutupnya sudah dibuang itu harganya lebih tinggi dibandingkan yang masih ada tutup,” jelasnya.

Lie Hwa mengajak, masyarakat khususnya instansi pemerintah untuk mengumpulkan sampah-sampah ini agar tidak terbuang percuma. “Saya lihat kadang sampah berantakan, kepedulian kita dulu lah, maunya kita bersih, kalau enggak peduli sampah, emang akan menjadi momok,” sebutnya.

Sayangnya, Bank Sampah Teratai ini, dia katakan, belum memiliki mesin untuk mengolah sampah, pihaknya selama ini masih mengirim sampah-sampah ini ke luar Babel. “Maunya menang punya mesin sendiri, tetapi perlu SDM yang memang betul-betul mengerti dan mau kerja keras mengolah sampah, mudah-mudahan kedepan kami punya peralatan sendiri,” pungkasnya.(nov/10)

Related posts