Olahraga Tradisonal dan Nilai-nilai Pendidikan

No comment 130 views

Oleh: Achmad Hudawi,W,S.Pd
Guru Olahraga Smp N 2 Mendobarat

Di tengah-tengah kemajuan teknologi yang begitu gencar, ada sedikit keprihatinan kita terhadap budaya bangsa yang kian terkikis ditelan ombak yang bernama teknologi. Memang, kondisi ini tidak bisa dihindari, karena skenario zaman menghendaki hal ini terjadi, tetapi jangan terlampau menyerah dengan skenario zaman,karena masih ada usaha-usaha untuk membuat benteng dari terjangan ombak teknologi agar budaya bangsa tidak terkikis hilang ditelan oleh gelombang teknologi.
Salah satu bagian dari budaya bangsa yang sebagian besar hampir hilang di masyarakat kita adalah olahraga tradisional atau permainan tradisional. Hal ini, disebabkan salah satunya akibat dari pengaruh hadir permainan hasil rangkaian teknologi yang telah mengalihkan perhatian masyarakat kita khususnya anak-anak dari permainan tradisional yang mengandung unsur olahraga kepada permainan yang menggunakan teknologi seperti Play Station. Kalau mau dibandingkan antara permainan tradisional dengan permainan yang menggunakan teknologi, kita dapat mengambil suatu kesimpulan dengan melihat kenyataan bahwa permainnan yang menggunakan teknologi lebih banyak pengaruh negatif dan kemudorotan yang ditimbulkan ketimbang permainan tradisional. Tetapi, tidak menampik kenyataan bahwa dalam permainan yang menggunakan teknologi juga terkandung unsur positifnya. Untuk mendukung pernyataan ini, kiranya perlu kita buat suatu analisa yang mengandung unsur negatif dari permainan yang menggunakan teknologi (dalam hal ini salah satu permainannya adalah Playstation) yang dapat penulis gambarkan sebagai berikut.
Dari segi waktu, berdasarkan pengamatan dan kenyataan yang ada setiap anak atau orang yang memainkan permainan tersebut akan lalai terhadap waktu. Kondisi ini, tentunya akan menghabiskan waktu berjam-jam didepan layar kaca, sehingga akan menghilangkan kesempatan bagi si anak untuk mengisi waktu luangnya terhadap kegiatan yang lebih bermanfaat. Kondisi ini, kalau kita kaitkan dengan konteks agama, maka Alqur’an membuat pernyataan terhadap orang ini, termasuk orang-orang yang merugi, karena dalam permainan Playstatioan tidak ada tata nilai yang dibangun dan tidak ada amal soleh yang bisa diperbuat (pernyataan di disimpulkan dengan melihat kenyataan yang ada dilapangan dimana game-game yang dimainkan hanya bersifat kegembiraan dan kekerasan).
Dari segi sosial, seseorang yang asyik bermain palystation biasanya hanya terfokus pada permainan yang ia mainkan. Dalam kondisi seperti ini seseorang sedang dibudayakan dengan gaya hidup yang individualistis.Proses pendidikan “cuek” yang diterapkan oleh metode playstation ini dalam rentang waktu tertentu kemungkinan besar akan menciptakan manusia –manusia yang berprinsip hidup masa bodoh yang bermuara pada kehidupan individualistis, dimana dalam catatan sosiologi gaya hidup individualistis merupakan gaya hidup masyarakat industri, dan perlu pula menjadi catatan bahwa gaya hidup seperti ini bertentangan dengan konsep Alquran, karena gaya hidup yang individualistis merupakan salah satu unsur utama yang merontokkan pondasi masyarakat madani.
Orang yang hidup dalam kungkungan budaya individualistis jiwa sosialnya lambat laun akan mati, kecerdasan sosialnya tidak berkembang, dalam kondisi seperti inilah seseorang tidak bisa membangun suatu komonitas masyarakat yang madani. Efek lebih jauh yang akan terjadi apabila budaya individualistis ini dikembangkan atau dipertahankan, maka orang tersebut telah membenamkan dirinya pada suatu sistem kebodohan sosial yang sangat bertentangan pada fitra dirinya, dan juga konsep yang dibawa oleh Islam. Kebodohan sosial yang terbentuk pada dirinya berbuntut pada hilangnya kemuliaan pada dirinya yang bearti hilangnya satu potensi dirinya yang bermanfaat untuk orang banyak. Kondisi ini merupakan salah satu efek negatif dari hasil teknologi.
Kalau permainan yang meggunakan hasil rangkaian teknologi khususnya playstation dilihat dari kaca mata ekonomi tentunya bagi yang melakukan permainan tersebut ada proses pendidikan konsumtif yang berlatarbelakang gaya hidup yang diliputi nilai-nilai hidup hedonisme, yang salah satunya adalah pemborosan. Untuk menguat pernyataan ini baiklah kita buat perhitungan kasar mengenai biaya yang dikeluarkan seorang anak selama melakukan permainan tersebut. Kita mulai, jika seorang anak melakukan permainan playstation dalam sehari menghabiskan waktu 3 jam, sedangkan harga sewa 1 jamnya Rp4000-Rp5000, bearti sehari dia menghabiskan uang Rp12.000-Rp15.000 kemudian jumlah ini kita kalikan 30 hari, maka akan didapat angka nominal uang yang dikeluarkan anak tersebut sebesarRp360.000-Rp450.000, tentunya angka ini cukup besar bagi sebuah permainan yang kurang memberi manfaat untuk seorang anak.
Inilah salah satu sikap yang mengandung unsur pemborosan sebagai hasil dari buah karya teknologi yang dimanfaatkan dengan tidak berlatarbelakang azaz manfaat. Tentunya pandangan hidup seperti ini, kalau kita kaitkan dengan konsep Islam amat bertentangan dengan apa yang yang dikehendaki Islam mengenai konsep hidup hemat. Lihatlah bagaimana surat At-takatsur mengingatkan manusia kalau hidup dijalankan dengan kemegahan atau foya-foya, maka akan kelalaianlah yang dia dapat. Sifat kelalaian merupakan salah satu sifat yang dapat menghentikan langkah manusia untuk menuju kesuksesan dan kalau kita kaitkan dengan permainan playstation, maka permainan ini mengandung bisikan yang sangat kuat untuk membujuk manusia terbuai pada kelalaian.
Pembahasan di atas belum cukup kalau kita tidak melihat dari kaca mata pendidikan. Terus terang dari kenyataan yang ada bahwa permainan yang ada dalam permainan playstation banyak mengandung kekerasan. Hal ini, tentunya kalau dilihat dari kaca mata dunia penddidikan akan memberi efek yang negatif bagi jiwa anak. Dalam pandangan dunia pendidikan jenis permainan yang disajikan dalam playstation sangat mempengaruhi jiwa anak untuk cenderung meniru watak atau sikap tokoh yang dia tonton, kalau jiwa anak sudah terprovokasi oleh tipe watak tokoh yang ia idolakan, maka tidak mungkin anak tersebut akan menjelma menjadi tokoh yang ia idolakan dalam arti segala tingkah lakunya cenderung mengandung unsur-unsur kekerasan. Tentu kondisi ini, akan bertolak belakang dengan konsep dunia pendidikan yang mengembangkan nilai-nlai pendidikan dimana nilai-nilai ini harus tertanam pada seorang anak. Nilai-nilai keimanan dan ahlak mulia menjadi pondasi yang kuat untuk membentuk anak yang berkualitas. Tentunya dua unsur ini sangat bertentangan dengankondisi yang dipertontonkan oleh kebanyakan permainan dalam playstation, dimana nilai-nilai keimanan dan ahlak mulia sangat jarang terdapat dalam permainan playstation. Dengan kenyataan inilah kita dapat mengatakan bahwa permainan playstation tidak mengandung proses pendidikan yang dapat mengantarkan anak menuju tingkat kualitas yang diinginkan.
Dalam pembahasan lain yang berkaitan dengan kondisi anak khususnya yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan, dimana anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak dituntut untuk banyak bergerak dengan landasan gerak yang terarah, terukur, dan terencana, tetapi sangat disayangkan sebagian besar permainan hasil rakitan teknologi bertolak belakang dengan kebutuhan anak guna mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangannya. Sebagian besar permainan hasil rakitan teknologi menuntut anak diam di tempat untuk melakukannya, hal ini tentunya menunjukan gejala yang negatif terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Tentunya situasi ini, harus mendapat perhatian khusus dari para orang tua.
Ada suatu analisa sederhana untuk menguatkan pendapat bahwa anak yang banyak bergerak akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Tapi, sebelum kita membahas analisa sederhana tersebut, baiklah kita buat dulu batasan tentang pengertian pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya berat dan tinggi badan anak, sedangkan perkembangan merupakan poses bertambahnya kualitas daya kerja organ tubuh anak. Dari dua pengertian ini, kita memulai membuat analisa sederhana yang berkaitan antara gerak dengan pertumbuhan dan perkembangan. Suatu otomatisasi dan sunatullah ketika kita melakukan suatu aktivitas yang menuntut kerja lebih berat maka jantung akan bekerja lebih cepat. Dengan kondisi ini, maka ada suplai darah ke berbagai organ tubuh akan menjadi lancar dan lebih banyak,dengan kondisi ini pula maka organ tubuh akan mendapat suplai makanan lebih banyak,inilah suatu awal kondisi yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pandangan dan penjelasan diatas hanya sebagian dari efek negatif yang ditimbulkan oleh permainan playstation yang kemungkinan dapat dirasakan langsung oleh si anak atau orang yang memainkannya. Memang, diakui permainan playstation juga mengandung unsur positifnya seperti melatih daya konsentrasi anak, tetapi efek positinya tidak seimbang dengan efek negatif yang ditimbulkannya.
Selanjutnya, sesuai dengan judul di atas mengenai permainan tradisional yang mungkin saat ini sudah banyak ditinggalkan, khususnya oleh anak-anak yang berdomisili di perkotaan. Tentunya ini merupakan salah satu fenomena yang mengkhawatirkan bagi eksistensi dan perkembangan kebudayaan bangsa. Sebab, perlu menjadi catatan bahwa permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya bangsa yang harus dikembangkan dan dipelihara. Dengan menyadari bahwa permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa maka dua efek postif psikis berdampak pada seseorang yaitu timbulnya rasa nasionalisme dan kebanggaan pada warisan budaya.
Baiklah, kita menganalisa lebih jauh berbagai efek positif yang ditimbulkan oleh permainan tradisional. Untuk mempermudah analisa ini kita ambil satu contoh dari beragam permainan tradisional yang ada, sebut saja permainan tersebut galah panjang,sebelum kita membahas manfaat yang terkandung dalam permainan ini, penulis akan jelaskan secara singkat teknis pelaksanaan permainan ini. Sebelum menjelaskan teknis pelaksanaan perlu diketahui bahwa permainan ini ditiap-tiap daerah di nusantara ini ada perbedaan baik nama maupun teknis pelaksanaanya. Tetapi, intinya sama pada hal-hal yang pokok misalnya ada regu jaga atau regu penghadang dan ada regu main atau regu yang dihadang. Berkutnya, dalam teknis pelaksanaannya permainan ini dimulai dengan undian siapa yang kalah dalam undian tersebut, maka ia menjadi regu jaga dan yang menang menjadi regu main atau regu yang dijaga.
Jumlah pemain tergantung kesepakatan, begitu juga dengan kondisi lapangnya disesuaikan dengan jumlah pemain, terutama banyak kotak jaganya. Kemudian, jika pemain jaga sudah menempati masing-masing kotak jaga, maka permainan dimulai, dimana pemain yang dijaga harus dapat melewati tiap-tiap pemain jaga sampai penjagaan terakhir untuk seterusnya kembali ketempat awal. Jika ada satu pemain yang berhasil bolak balik tanpa disentuh oleh pemain jaga, maka regu tersebut mendapat poin, begitu seterusnya. Pergantian permainan terjadi jika ada pemain yang dijaga dapat disentuh oleh pemain jaga maka permainan berganti,begitu seterusnya. Lama permainan kesepakatan kedua regu. Kemenangan ditentukan oleh banyaknya poin yang dikumpul oleh masing-masing regu, dan biasanya regu yang kalah menggendong regu yang menang.
Dari gambaran singkat mengenai teknis pelaksanaan permainan galah panjang ini kita dapat melihat beberapa manfaat yang terkandung dalam permainan tersebut diantaranya: Pertama, Dalam permainan tersebut anak dikondisikanuntuk melatih kecerdasan geraknya,karena dalam permainan tersebut anak harus berlari kian kemari yang menuntut kelincahan,kekuatan,daya ledak otot,kekuatan serta unsur-unsur kebugaran jasmani lainnya yang semua unsur-unsur ini tergambar pada gerak lari dan berkelit ketika menghindari sentuhan pemain penjaga.Dengan proses gerak yang cukup komplek ini yang dilakukan anak denganpenuh keiklasan dalam bergerak maka akan memberi efek yang positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.Selain efek ini dengan kondisi tuntutan gerak yang dikehendaki oleh permainan tersebut maka anak dikondisikan oleh suatu proses pendidikan kecerdasan gerak yang mana hal ini akan menjadi dasar untuk mengembangkan potensi anak,terutama anak yang mempunyai potensidalam bidang gerak.Satu hal yang perlu menjadi catatan dalam mengembangkan gerak-gerak dasar pada anak yang paling efektif adalah lewat permainan, sebab dalam permainan anak bergerak tidak ada pemaksaan ,anak bergerak penuh dengan keiklasan. Inti dari permainan anak harus bergerak.
Kedua, Misi pendidikan lain yang terkandung dalam permainan galah panjang adalah tersiratnya nilai-nilai afektif, dimana nilai-nilai kejujuran, kedisplinan,kerjasama,saling menghormati dan menghargai terkandung dalam proses permainan ini. Gambaran-gambaran nilai-nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, nilai kejujuran dituntut dari seorang anak ketika dia mendapat sentuhan pemain jaga dengan sentuhan yang tidak jelas ,misal sentuhan tangan pemain jaga hanya mengenai sedikit dari bagian tubuhnya, tentunya kejadian ini akan menjadi perdebatan panjang apabila anak yang disentuh tidak mengakui bahwa dirinya sudah disentuh disinilah dituntut kejujuran atau fairplay dari seorang pemain. Untuk nilai kedisplinan menjadi tuntutan dari permainan ini, ketika anak atau pemain harus bertugas menjaga daerah jaganya, disinilah dibutuhkan kedispilinan agar pemain lawan tidak mudah melewati daerah yang menjadi tanggungan penjagaannya.
Selanjutnya, dalam mengembangkan nilai kerjasama dibutuhkan suatu kesepakatan dalam menjaga pemain lawan bagi pemain jaga ,sedangkan bagi pemain yang dijaga juga membutuhkan kerjasama dalam mengatur strategi untuk melewati daerah jaga agar dengan mudah melewati penjagaan. Dari kerjasama ini akan terjadi komonikasi sosial bagi anak yang kemudian akan berkembang dan menimbulkan rasa saling tolong menolong,menghargai dan menghormati yang kemudian diharapkan dapat mengembangkan kecerdasan sosial anak. Kalau kita lihat paparan mengenai muatan-muatan positif nilai-nilai afektif yang terdapat dalam permainan galah panjang,kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa permainan ini dapat dijadikan wadah bagi dunia pendidikan kita guna menanamkan nilai-nilai afektif yang terdapat didalamnya.Tetapi dalam konsep ini yang harus dipegang penanaman itu harus didasari dengan konsep Iman dan Takwa kepada Allah agar nilai-nilai tersebut tidak bernilai semu dan bersifat fotomargana,tetapi nilai-nilai tersebut dapat terpatri dalam diri anak yang dilandasi imtak kepada Allah.
Kita melihat permainan tradisional dari sisi lain. Kita mulai pembicaraan kita dari segi waktu,dalam kontek ini tentunya ada perbedaan antar permainan yang menggunakan rakitan teknologi dengan permainan tradisional dalam menggunakan waktu.Pada beberapa permainan tradisional, terutama permainan yang mendatangkan kelelahan pada anak dengan kondisi ini tentunya lama permainan akan dibatasi oleh rasa lelah itu sendiri artinya jika anak sudah lelah maka permainan tersebut akan segera berakhir. Sangat berbeda dengan beberapa jenis permainan hasil rakitan teknologi, terutama playstation dimana anak akan terus terbuai dengankeasyikan permainan tersebut. Sedangkan dalam kontek ekonomi khususnya biaya permainan sangat jelas bahwa permainan tradisional tidak menuntut adanya biaya,dengan kondisi sepert ini otomatis permainan tradisional tidak mengandung proses pendidikan gaya hidup konsumtif yang menjadi salah satu cikal bakal timbulnya penyakit sosial. Dalam kontek kehidupan sosial sangat jelas peranan permainan tradisional berperan membangun hubungan sosial, sebab dalam proses permainan anak harus dituntut untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya. Paling tidak kalau teman untuk bermain kurang, maka mereka pasti mencari yang lainnya untuk diajak bermain bersama-sama, kemudian dalam membangun kehidupan sosial lewat permainan tradisional akan menimbulkan jiwa sosial anak seperti tergeraknya hati anak untuk menolong sesama teman. Inilah suatu catatan penting yang tersirat dalam permainan tradisional,bahwa disana ada proses pendidikan kecerdasan sosial.
Dengan proses pendidikan ini, yang merupakan salah satu pondasi untuk membangun suatu masyarakat yang diliputi oleh nilai-nilai sosial, maka suatu kenyataan bahwa kehidupan didesa menunjukan nilai lebih dalam kehidupan sosialnya jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat dikota-kota besar. Pada sisi lain, permainan tradisional selain melatih kecerdasan gerak anak, dia juga melatih kekreatifan anak untuk menciptakan atau membuat permainan, tentunya disini ada nilai lebih yang terkandung dalam permainan tradisional dalam bidang pendidikan. Sebagai contoh, kita mungkin masih teringat ketika kita harus bersusah payah membuat gasing dari kayu atau membuat layang-layang, disinilah sangat jelas kekreatifan kita dituntut.
Dari beberapa penjelasan sederhana di atas sangatlah jelas bahwa dalam permainan tradisional terjadi pentransferan nilai-nilai pendidikan, sosial, serta memacu proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara tak langsung pula permainan tradisional menanamkan rasa cinta terhadap budaya bangsa yang kemudian diharapkan dapat menimbulkan semangat nasionalisme. Dalam kontek inilah perlu adanya kajian ulang khususnya dalam dunia pendidikan kita untuk melihat permainan tradisional sebagai wadah pendidikan dengan memasukan materi permainan tradisional sebagai materi pelajaran di sekolah.(****).
`
.

No Response

Leave a reply "Olahraga Tradisonal dan Nilai-nilai Pendidikan"