Nelayan Kurau Minum Minyak Tiner

No comment 1076 views

Baharudin

Selama 15 Hari Terkatung di Laut

KOBA – Tiga nelayan tradisional warga Desa Kurau Barat, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah yang dikabarkan hilang di tengah laut belum lama ini, yakni Baharudin (48), Bujang Alman dan anaknya Randi, akhirnya kembali selamat ke rumah masing-masing, Senin (6/11/2017) pukul 18.30 WIB.
Ketiga nelayan itu selama 15 hari dari keberangkatannya sejak 22 Oktober 2017, ternyata terkatung-katung di laut lantaran kerusakan pada mesin kapal yang mereka tumpangi. Saat tiba di kampung, ketiga nelayan ini dalam kondisi lemas, dan akhirnya dilarikan ke RSUD Bangka Tengah untuk mendapatkan pertolongan medis.
Baharudin, salah satu nelayan saat dijumpai wartawan di rumahnya, Kamis (9/11/2017) menjelaskan mereka pergi melaut bertiga dengan Bujang Alman sebagai kapten kapal. Mereka tertunda pulang ke daratan, lantaran ada kerusakan pada bagian mesin kapal yang patah.
“Rencananya kami melaut itu selama enam hari. Namun saat perjalanan menuju pulang, kapal kami mengalami kerusakan yaitu patah pipa minyaknya,” cerita dia.
Akibat kerusakan mesin itu, kapal yang mereka gunakan saat melaut otomatis tidak bisa dijalankan, sehingga ketiganya harus terapung-apung selama 15 hari di atas kapal tanpa tau arah dan tujuan.
Dan selama terombang ambing di laut, Baharudin mengaku mereka berusaha bertahan hidup sebisanya. Bahkan terpaksa meminum minyak tiner untuk campuran cat, karena stok makanan dan air tawar yang dibawa dalam kapal sudah habis.
“Kami mengambang di tengah laut, mulai hari keenam itu, kami berhanyut. Tetapi, karena arus laut kencang, kapal kami terbawa sejauh 12 mil dari titik awal kami singgah. Pada hari ke-13, disitu saya melihat Randi meminum tiner minyak cat. Lalu saya dan Bujang Alman juga meminum karena kondisi kami memang sudah sangat haus saat itu,” tuturnya.
Dikisahkannya, masuk pada hari ke-14, Baharudin, Bujang dan Randi berinisiatif membuat layar dengan kain dan terpal seadaanya. Mereka kemudian membentangkan layar tersebut sembari berharap kapal akan hanyut lebih dekat dengan lokasi mancing nelayan lainnya.
Setelah berlayar cukup jauh, beruntungnya saat menggunakan layar itu, ketiga nelayan ini melihat sebuah kapal nelayan lain yang sedang memancing. Kemudian dengan susah payah ketiganya merapatkan kapal mereka ke kapal nelayan tersebut, yang ternyata nelayan asal Sungailiat, Kabupaten Bangka.
“Saat itu, kondisi kapten kami Bujang Alman sudah sangat lemas dan drop. Begitu juga dengan saya, mungkin keracunan dari kami meminum tiner minyak cat. Dari situ, kami dikasih pipa minyak kami yang rusak, kue, air minum serta makanan oleh nelayan Sungailiat yang bernama Antok dan kawan-kawan. Setelah itu kami ganti pipa minyak yang patah, setelah selasai kami tes menghidupkan mesinnya dan alhamdulillah ternyata hidup. Lalu langsung secara perlahan kami pulang dari pukul 07.00 WIB pagi dan sampai ke Kurau pukul enam sore lebih lima belas menit (18.15 WIB),” terangnya.
Diakhir wawancara, Baharudin mengucapkan terima kasih kepada Antok dan kawan-kawannya nelayan Sungailiat yang telah membantu mereka. Karena jika tidak dibantu nelayan Sungailiat itu, Baharudin mengaku tidak tau bagaimana nasib mereka di laut.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak, kami berhutang nyawa dengan Antok dan kawan-kawan. Tanpa mereka kami tidak tau bagaimana nasib kami kemarin. Dalam waktu dekat ini kami berencana menemui Antok dan kawan-kawan ke Sungailiat, karena bagi kami mereka adalah keluarga kami,” pungkasnya.
Sebelumnya, Markas Tagana Kabupaten Belitung Timur (Beltim) pada Kamis malam (2/11/2017) menginformasikan bahwa tiga nelayan tradisional asal Desa Kurau sudah 11 hari dikabarkan hilang. Tiga nelayan itu dilaporkan hilang kontak saat melaut di Perairan Karang Sembilan, sekitar 72 mil laut dari Sungailiat, Kabupaten Bangka.
Koordinator Tagana Beltim, Mahroni Hidayat menyebutkan ciri-ciri perahu nelayan yang ditumpangi ketiga nelayan itu, berwarna badan putih, dengan kamar belakang bertingkat berwarna putih, bawah biru.
“Info yang masuk ke Markas Tagana Beltim pada Kamis malam bahwa perahu nelayan Kurau sudah memasuki 11 hari melaut di daerah Karang Sembilan. Posisi 72 mil dari Sungailiat Bangka. Dan hingga hari ini putus kontak,” ungkap Mahroni Hidayat yang biasa disapa Dayat kepada Rakyat Pos, Kamis malam (2/11/2017).
Menurut dia, didapat info posisi perahu masih berada di perairan Karang Sembilan 5 hari sebelumnya. Nelayan dengan perahu lain yang mencari ikan tak jauh dari perahu korban sempat melihat keberadaan tiga nelayan tersebut. Namun hari berikutnya, perahu nelayan Kurau itu tidak diketahui lagi, hingga berhasil pulang awal pekan kemarin. (ran/1)

No Response

Leave a reply "Nelayan Kurau Minum Minyak Tiner"