by

Narator Berwajah Tiga

-Cerpen-252 views

Karya: Rusmin

Lelaki muda itu mengumpat. Narasinya berbalut umpatan sangat sadis. Memerahkan telinga pendengarnya. Memekakkan jendela telinga untuk yang mendengarnya. Kucing hutan pun lari terbirit-birit mendengar umpatan berbau itu.
Malam makin merentah. Umpatannya terus berhembus. Mewarnai malam yang bening. Terbang bersama desisan angin. Menembus dinding-dinding hati para pendengar yang hina dan hanya bisa berdiam seribu kata. Tak mampu menjawab. Tak mampu berapologi. Tak mampu melawan. Membisu adalah jawabannya. “Sudah tua kok tidak sadar diri,” umpat lelaki itu setengah memekik. Kucing hutan pun lari ke rimba kecil disamping rumah pengumpat yang dilanda kegusaran jiwa mendengar ada perlawanan.
“Tak berduit lagi. Apa yang bisa kita harapkan? Apa?” lanjutnya setengah memaki dengan nada geram.
Malam makin menjauh. Jauh sekali. Seiring diksi umpatan yang terus berhembus di jagad raya. Melengkung ke udara bebas. Menyusup ke relung hati penghuni Kota yang mulai terbangun dari mimpi panjangnya. Kesedihan terlihat diraut wajah-wajah para penghuni Kota. Ada air mata yang menetes ke bumi dan mulai kering kerontang dimakan peradaban yang mengagungkan tahta sebagai simbol kehidupan pergaulan.
Lelaki pemgumpat itu terus bernarasi mengumpat tanpa kenal waktu. Tanpa kenal lelah. Dan tanpa kenal kasta. Narasi berbalut umpatan bernada kebencian terus ditebarkannya tanpa kenal ruang. Tanpa kenal hari. Dan tanpa kenal siapa pun. Seolah-olah dengan narasi mengumpat, hidupnya makin berkasta dan bermartabat di pandangan kaum disekelilinginya. Seakan-akan dengan bernarasi mengumpat menjadi gaya hidup baru dalam peradaban moderen mereka yang mengagungkan tahta tanpa prestasi yang hanya berumpan angpau.
Beberapa sahabatnya tak mampu menahan derap langkah sang pengumpat. Tak mampu. Mereka angkat tangan. Bahkan angkat kaki setiap bertemu lelaki itu. Ibarat orang bertinju di ring, mereka melempar handuk sebagai bukti sebuah penyerahan diri.
“Sedemikian ambisinya kawan kita itu, sehingga mengumpat adalah jalan terbaiknya mengeskalasi martabatnya sebagai manusia. Seolah-olah martabatnya meninggi dengan aksi mengumpat itu,” keluh seorang sahabatnya.
“Itulah manusia. Demi ambisi apapun rela dilakukannya,” celetuk temannya dengan nada suara tak habis pikir sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Betul sekali kawan. Apalagi kini dia sudah bersahabat baik dengan para pejabat tinggi. Makin terlihat belangnya. Makin terlihat ambisi untuk menjaga tahtanya,” ujar temannya.
“Semoga saja pejabat tinggi di negeri ini tak terperdaya oleh narasi indahnya yang berbalut umpatan itu,” kata yang lain.
“Semoga saja. Kita sama-sama berdoa,” timpal temannya.
Mentari makin meninggi. Sinarnya terangi alam raya dengan tulus. Menerangi jiwa-jiwa penghuni bumi dengan riang dan tanpa menuntut balas jasa yang beraneka karakter.
Lelaki itu tampak riang gembira. Dari siulannya terlihat berdiksi gembira. Sebuah lagu hit dari penyanyi terkenal disenandungkannya lewat media siulan bibirnya. Maklum lelaki itu baru saja melangah keluar dari ruangan pejabat tinggi. Lembayung senja yang menghiasi bumi tak digubrisnya. Senja makin menampakkan diri tak disadarinya. Tarian camar di atas laut yang eksotis tak dipedulikannya. Lelaki itu hanya memikirkan umpatannya yang didengar pejabat tinggi tadi. Dan lelaki itu percaya narasinya yang berbau umpatan itu didengar petinggi negeri.
“Aku berhasil. Aku berhasil,” desis suara hatinya dengan nada riang.
Malam makin menjauh. Makin merentah. Makin bening. Suasana alam yang sangat sempurna karya Sang Maha Kuasa. Ketenangan alam yang tak terlukiskan dengan kata-kata oleh para pujangga. Suara cecak pun menahan diri. Desiran angin malam sepoi. Menusuk jiwa penghuni alam yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Lelaki itu masih berdiam diri di teras rumahnya yang megah. Ia menumpahkan ambisinya dengan umpatan tanpa malu kepada alam yang tenang. Suara ambisinya terus memhingarbingarkan malam yang bening. Desis suara berbisanya terus bergemuruh. Riuhkan malam. Sinar bintang di langit terus berkelip. Warna warni. Seiring suara hati ambisi lelaki itu yang makin berwarna pula.
Malam makin merenta. Serenta harapan lelaki itu tentang esok yang diyakininya akan berwarna bagi dirinya. Apalagi dalam pertemuan menjelang senja tiba tadi, otaknya yang cerdas telah menangkap sinyal bahagia yang dilontarkan petinggi negeri tentang umpatan-umpatannya. Segera akan terwujud.
Sinar mata rembulan malam masih terang. Cahaya terangnya terus menghambur ke jagad raya. Ke seluruh pelosok negeri tanpa pandang diskrimasi. Sinari alam raya dengan ikhlas. Tanpa embel-embel. Tanpa kompensasi apapun. Sementara lelaki itu tampak gelisah menunggu mentari terbangun dari mimpi panjangnya. Mulutnya tak tahan untuk bernarasi, bernada mengumpat kepada mentari yang masih terlelap dalam mimpi indahnya yang dianggapnya malas. Jiwanya mulai terguncang menunggu mentari terbangun. Jantungnya bergedup. Naik turun. Seiring ambisinya yang makin meninggi hingga ke otak cerdasnya tanpa malu.
Tapi lelaki itu terkaget-kaget. Mulutnya terdiam. Terkunci rapat. Seketika beberapa orang turun dari sebuah mobil. Tepat di teras rumahnya. Ya, tepat di depan terasnya yang megah. Dengan menunjukan selembar surat yang terbaca dengan jelas. Sangat jelas. Sebuah surat perintah penahanan dirinya dengan tuduhan korupsi. Sebuah lakon kontradiksi dengan apa yang dinarasikannya berupa umpatan bau tentang pimpinannya kepada pejabat tinggi senja tadi yang berbau sama, korupsi.
Berita penangkapan lelaki itu oleh aparat hukum gegerkan penghuni kota. Penghuni kota seolah tak percaya dengan kabar itu. Bukankah selama ini lelaki itu menarasikan dirinya berkarib dengan aparat hukum. Sejuta tanya melayang dalam pikiran cerdas penghuni Kota. Mereka terpedaya atas bualan narasi manis lelaki itu. Stigma buruknya terbongkar hingga ke akar serabutnya. Memilukan. Mengerikan. Cengangkan nurani semua orang. Semua mata mulai memandangnya dengan pandangan sarat kesinisan. Semua mata penghuni Kota menatapanya dengan rasa kebencian yang membuncah dalam jiwa mereka. Mereka seolah tersadar akan narasi lelaki itu yang selama ini berlakon bak aktor utama di panggung sandiwara hadapan mereka, para penghuni Kota. Lelaki yang berlakon bak dermawan. Lelaki yang berlakon bak malaikat penolong. Lelaki yang bisa memberi solusi atas hidup mereka. Lelaki yang mareka agung-agungkan sebagai calon pemimpin masa depan. Ternyata lelaki itu mengekploitasi dana kantor untuk mencitrakan dirinya di hadapan mereka, penghuni Kota. Tanpa dosa. Dan tanpa malu.
Kini semua mulut penghuni kota berdiksi bau tentang dirinya tanpa ampun. Tak ada bantahan sama sekali dari mulutnya yang pandai berdiksi. Tak ada sama sekali. Mulutnya terkunci. Narasi berbau umpatan yang selama ini melekat dalam nuraninya hilang bersama angin yang berhembus kencang meninabobokan camar-camar yang menarikan tarian eksotis di cakrawala nan biru.
Lelaki itu terkulai bersama umpatannya yang mulai terasa gemulai. Segemulai tubuhnya yang kini mulai terbaring lemah tanpa daya dan keperkasaan jiwa dalam ruangan kecil yang akan diterimahnya dari aksi kejamnya sebagai penggarong uang rakyat. Dan tentunya beragam nada suara berbau umpatan dari masyarakat Kota yang nuraninya mulai terbuka lebar tentang dirinya yang pandai berlakon bak malaikat penolong. Matahari mulai meninggi. Sinarnya menerangi alam raya dengan ikhlas. Menerangi penghuni bumi dengan tulus. (**)

Comment

BERITA TERBARU