Mutilasi Terhadap Informasi

No comment 129 views

Oleh: Meta Nopita
Mahasiswi FISIP UBB/Anggota Komunitas Aksara Muda Babel

Meta Nopita

Tak bisa dipungkiri kalau dimasa globalisasi sekarang, informasi sangatlah mudah didapat. Bisa dibayangkan orang zaman dulu untuk memperoleh informasi hanya didapat dari mulut ke mulut bertemu secara face to face atau dengan membaca koran. Namun, sekarang informasi dapat diperoleh dari sumber manapun, salah satunya handphone. Dan canggihnya handphone bisa membuat manusia mengerjakan segala sesuatunya menjadi mudah. Berkomunikasi jarak jauh menggunakan handphone, membeli baju melalui handphone, saat perut lapar pun kalau dengan handphone akan bisa kenyang. Kecanggihan ini pun tidak meninggalkan budaya lamanya yang mendapatkan informasi secara face to face. 

Pada era saat ini, memperoleh informasi secara face to face tanpa bertemu juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi. Mungkin selama ini, kita berpikir bahwa face to face adalah keadaan dimana individu dengan individu mendapat informasi dengan bertemu langsung, dan adanya kontak secara langsung. Namun, konsep komunikasi ini sangatlah fleksibel, bahwa individu dapat berkomunikasi secara face to face dan mendapatkan informasi secara langsung, yaitu dengan video call menggunakan handphone, individu dengan individu dapat saling melihat dan dapat berbagi informasi secara langsung tanpa perantara orang lain. Dalam sosiologi, ini dinamakan komunikasi langsung bermedia.

Saking canggihnya teknologi kini, sering disalahgunakan. Munculnya mutilasi dalam memperoleh informasi. Mutilasi di sini, diartikan sebagai pemahaman yang diambil secara sepihak, memotong suatu informasi yang terkadang belum tahu sebabnya apa, dan akhirnya cenderung menjatuhkan orang lain atau menjustifikasi. Kita sering melihat di media-media misalnya video tentang perkelahian sesama perempuan, maka kita akan melihat mana pihak yang tertindas, dan pasti kita akan membelanya serta mengecap seseorang yang menindasnya sebagai pihak yang jahat. Padahal, sebelumnya kita tidak mengetahui apa sebab dari perkelahian tersebut, bisa saja yang menindas adalah pihak yang sebenarnya dirugikan oleh pihak yang ditindasnya. 

Sering juga dijumpai tulisan-tulisan orang di media massa yang menyudutkan seseorang, dan kita langsung memotong pernyataannya yang bersifat menindas tanpa kita ketahui mengapa sampai terjadinya penindasan tersebut, dan apa sebabnya. Sehingga akan mengakibatkan cyber bullying, dimana adanya kesalahpahaman akibat foto atau informasi, sehingga menindas dan mengecap (label) seseorang tanpa mengetahui kejelasan informasi yang sebenarnya. 

Pada kenyataan informasi sekarang, sangat susah untuk mengidentifikasi mana informasi yang benar dan mana yang hoax. Yang sedang booming sekarang yaitu informasi tentang masuk surga dengan mengucapkan kata ”sebarkan, amin, ” dan kalimat-kalimat lainnya. Ini sangat sering terjadi kalau kita tidak menyebarkannya akan mendapatkan musibah, kalau tidak mengucapkan amin dikolom komentar, maka akan hidup susah. Dan menariknya, ternyata banyak sekali yang berkomentar “amin”. Dan disini adanya kesalahpahaman dalam penerimaan informasi. Tak jarang juga terjadi menyebarkan informasi (menge-share) yang belum jelas sumbernya, misalnya ada berita tentang meninggalnya tokoh ternama, ternyata setelah diketahui hanya namanya saja yang serupa. Masalah registrasi kartu prabayar yang menggunakan nomor KTP dan KK juga masih mengambang informasinya. Di satu pihak perlu adanya registrasi ulang untuk menetralisir kejahatan dunia maya, namun dilain pihak mengatakan adanya kepentingan politik dibalik registrasi ulang ini.

Dengan teknologi, maka informasi akan memberikan dampak positif dan negatif. Positifnya, dengan adanya teknologi ini, akan mudah sekali mendapatkan informasi dari penjuru dunia, karena sifatnya yang global. Dengan teknologi bisa memberikan solusi bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan, misalnya mak-mak zaman now yang sering sekali memposting anaknya yang sakit dan meminta pendapat dari orang lain untuk kesembuhannya, dan ini menjadi solusi dan referensi baginya. Dampak negatifnya, teknologi yang global yaitu sering seseorang sakit hati karena kesalahpahaman informasi. Sehingga akibatnya bisa memunculkan konflik di media massa, karena nyatanya banyak kita jumpai di media massa terjadinya konflik, saling menindas, saling menjelekkan, dan konfliknya bisa berlanjut ke dunia nyata. Secara langsung hal ini berdampak bisa mempermalukan diri sendiri.

Mutilasi terhadap informasi sangat sering terjadi, sehingga tak heran sering membuat kesalahpahaman. Jadi, sebelum memposting atau menyebarkan suatu informasi harus ada link yang jelas. Cek dahulu link tersebut sebelum menyebarkan informasi, kalaupun berita atau informasi tersebut menyebut lembaga, carilah website resmi lembaga tersebut apakah ada beritanya atau tidak. Sebab, terkadang beritanya atau informasinya sering berbeda dan linknya pun sudah mati, sehingga tidak bisa diakses. Jadilah pembaca yang cerdas dan bisa memilah informasi mana yang baik dan mana informasi yang kebenarannya masih mengambang. Jangan kita menjadi seseorang yang kerap memutilasi informasi.(****).

No Response

Leave a reply "Mutilasi Terhadap Informasi"