Murni dalam Berkarya Demi Mewujudkan Kualitas Diri

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Tahir
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UBB

Muhammad Tahir

Karya adalah seni atau dalam bahasa inggris “Art”. Manusia memiliki jiwa seni dalam dirinya baik seni musik, seni rupa, seni lukis, serta segala sesuatu yang dihasilkan dalam buah pikir seseorang dapat dikatakan seni. Plagiarisme sering diungkapkan dengan kata plagiat merupakan penjiplakan atau pengambilan karangan, beserta pendapat orang lain, sehingga seolah-olah apa yang ia ungkapkan dalam bentuk tulisan adalah pendapat sendiri. Plagiat dianggap sebagai tindakan pidana, karena mengambil atau mencuri hak orang lain tanpa izin. Di dalam dunia pendidikan atau civitas akademisi, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat dapat dikatakan sebagai plagiator.
Akhir-akhir ini, kasus seperti plagiarisme menjadi topik perbincangan di kalangan civitas akademika, dikarenakan sering terjadi plagiat didalam karya-karya yang di buat oleh dosen maupun mahasiswa di lingkup kampus. Kejadian ini, sering terjadi pada tugas akhir mahsiswa berupa skripsi, begitupun juga tugas penelitian dosen berupa jurnal-jurnal. Tidak heran ketika sering ditemukan kejadian plagiarism didalam lingkup kampus besar baik itu swasta maupun negeri sekalipun.
Cirta dari kampus ternama dilihat dari kualitas dosen-desennya, dilihat dari seberapa bnayak karya-karya yang dihasilkan oleh desennya, dan seberapa banyak yang bergelar profesor. Hal ini tidak bisa kita fungkiri bahwa sudut pandang atau perspektif masyarakat luas melihat keunggulan dari kampus tersebut bukan dari seberapa banyak mashasiswa didalamnya.
Melihat kejadian kasus plagiat yang terjadi di kampus ternama di Bangka Belitung yang dijuluki sebagai kampus peradaban, di kutip dari salah satu daerah koran 27 September 2016 lalu, “tiga dosen Universitas Bangka Belitung disebut-sebut melakukan plagiat saat mengikuti jenjang Jabatan Akademik (JJA). Satu dari tiga nama dosen yang didua melakukan tindakan menjiplak itu adalah Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan di Fakultas Hukum…”.
Kejadian ini, sempat menghebohkan kampus peradaban dengan kasus yang menjahtuhkan citra kampus, dan hal ini merusak moral para civitas akademik atau cindikiawan-cindikiawan di kampus peradaban tersebut.
Contoh kasus yang terjadi di atas merupakan kekhawatiran terhadap mahasiswa dan dosen nantinya, ketika ingin membuat karya ditakutkan kejadian tersebut terjadi lagi. Tetapi, saya kira, kejadian tersebut sudah ditangani dan ditinjaklanjuti dengan baik, karena sesuai dengan peraturan yang berlaku seperti dikeluarkan dari civitas akademis. Hal ini menjadi contoh bahwa tindakan pidana berupa plagiarism tidak main-main dalam penanganannya, sehingga para mahasiswa dan dosen akan segan melakukan plagiat didalam karyanya.
Perlu ditekankan bahwa tindakan plagiat dalam sebuah karya sangat tidak diperbolehkan, karena akan merusak marwah dalam karya tersebut, dan merusak nama pembuat karya atau plagiator. Terutama dan utama para dosen yang memiliki kapasistas dan kredibilitas yang tinggi, karena telah menghasilkan karya yang mempuni seperti skripsi yang ia peroleh ketika lulus S1 dan Tesis yang ia buat ketika lulus S2 atau Megister. Jika ketahuan dalam karyanya ketika mengajar di sebuah kampus dan bergabung dalam civitas akademisi, maka, persepektif seseorang, karya yang ia pernah didapatkan baik itu skripsi dan tesisnya dirakukan keabsahanya atau kemurniannya dalam mendapatkan gelar dibelakang namanya, dan hal ini akan menjadi sebuah pertanyaan mencolok ketika plagitor itu terjadi.
Harapan penulis, para cindikiawan-cindikiawan mahasiswa dan dosen, seharusnya memiliki kredibilitas yang tinggi dalam menjunjung tinggi integritas dalam berkarya apa pun bentuk karya yang dihasilkan, sehingga dapat mewujudkan kualitas diri didalam kampus terpadu ternama di Babal yang memiliki cita-cita peradaban, seperti apa yang diharapkan oleh pendidiri sekaligus mantan Rektor UBB dan Guru Besar Sosiologi yakni Prof. Bustami Rahman., M.sc dapat terealisasi. Selain itu, perlunya kesadaran dan loyalitas yang tinggi dalam mewujudkan kampus UBB sederajat dengan kampus yang terkenal di Indonesia Seperti Universitas Gajah Madah (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kampus bertarap nasional lainnya. Bahkan tarap internaisonal sekalipun. Oleh karena itu, peran dan fungsi mahasiswa dan dosen mesti dijalankan dengan sebaik-baiknya tanpa adanya penyimpangan, strafikasi, dan diferensiasi dalam mejalankan peran dan fingsinya sebagai mahasiswa dan dosen.(****).

Related posts