by

Multikulturalisme dan Nasionalisme Indonesia di Era Global

-Opini-132 views

Oleh: Afrihardina Muharani
Mahasiswa Sosiologi FISIP UBB

Negara Indonesia adalah salah satu negara multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat dari kondisi sosiokultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan luas. Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok etnis, budaya, agama, dan lain-lain yang masing-masing plural (jamak) sekaligus juga heterogen (aneka ragam). Sebagai negara yang plural dan heterogen, Indonesia memiliki potensi kekayaan multietnis, multikultur, dan multi agama yang kesemuanya merupakan potensi untuk membangun negara multikultur yang besar atau sering disebut multikultural nation state. Keragaman sebagai pemberian yang bermakna, bahwa keragaman merupakan rahmat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia untuk dijadikan sebagai modal sarana untuk meningkatkan mutu hidup.

Multikulturalisme di Indonesia tumbuh dan berkembang dari nasionalisme. Multikulturalisme Indonesia mengakui kebhinnekaan budaya dari suku-suku bangsa di Indonesia, bahkan merupakan dasar dari kehidupan bersama Indonesia yang beragam. Keberagaman dari kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia bukan merupakan pemisah tetapi merupakan unsur-unsur kesatuan bangsa. Lewat Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia mengambil porsi penting dalam upaya mempersatukan keberagamaan tersebut. Bahasa merupakan bagian yang penting dari suatu kebudayaan.

Tak hanya itu, penggunaan bahasa memperlihatkan pola berpikir anggota masyarakat. Dengan demikian pendidikan bahasa atau penggunaan bahasa sebagai bahasa persatuan harus dimulai sejak taman kanak-kanak sampai pendidikan tinggi. Telah kita lihat multikulturalisme Indonesia mempunyai corak yang khas, yaitu tumbuh dan berkembang berdasarkan nasionalisme Indonesia. Multikulturalisme Indonesia mengakui akan kebhinnekaan kebudayaan dari suku-suku bangsa di Indonesia bahkan merupakan dasar dari kehidupan bersama Indonesia yang beragam. Keberagaman dari kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia bukan merupakan pemisah tetapi merupakan unsur-unsur kesatuan bangsa.

Istilah nasionalisme dapat diartikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu (Nur dalam Yatim, 1994:684). Namun, istilah ini sekarang biasanya digunakan untuk menunjuk kepada kultur, bahasa, dan keturunan di luar konteks politik. Di Indonesia sendiri nasionalisme itu melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang integralistik, dalam artian yang tidak membeda-bedakan masyarakat atau warga negara atas dasar golongan atau yang lainnya, melainkan segala keanekaragaman itu tetap diakui.

Negara yang memiliki keunikan multientis dan multimental seperti Indonesia dihadapkan pada dilematisme tersendiri, di satu sisi tentu hal ini akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar sebagai multicultural nation-state, tetapi di sisi lain hal ini juga merupakan suatu ancaman. Maka, bukan hal yang berlebihan jika ada ungkapan bahwa kondisi multikultural diibaratkan seperti bara dalam sekam yang mudah tersulut dan memanas sewaktu-waktu. Kondisi ini, merupakan suatu kewajaran yang harus disikapi dengan toleransi. Namun ketika perbedaan tersebut mengemuka dan menjadi sebuah ancaman untuk kerukunan hidup, hal ini dapat menjadi masalah yang harus diselesaikan dan harus di sikap yang penuh toleransi.

Kita tahu bahwa masyarakat multikultur seperti Indonesia memiliki potensi yang besar terjadinya konflik antarkelompok, etnis, agama, dan suku bangsa. Keragaman masyarakat multikultural sebagai kekayaan bangsa di sisi lain sangat rawan memicu konflik dan perpecahan. Kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam (Nasikun, 2007: 33).

Indonesia yang multikulturalisme tentu terdiri dari berbagai suku, agama, adat dan perbedaan kedaerahan. Melihat daerah saja tentu antar tiap-tiap daerah mempunyai pebedaan yang sangat berbeda misalkan masakan tradisional di daerah papua pasti berbeda dengan daerah aceh. Hal inilah yang kemudian dinamakan sebagai ciri kemajemukan horizontal yang artinya sejajar. Di satu sisi dalam mayarakat tentu terdapat lapisan-lapisan masyarakat dari mulai lapisan atas sampai kepada lapisan bahwa dan hal ini dinamakan sebagai ciri kemajemukan vertikal yang artinya hubungan dari atas kebawah atau sebaliknya.

Di satu sisi nasionalisme juga merupakan masalah yang fundamental bagi sebuah negara, terlebih jika negara tersebut memiliki karakter yang sangat multikultural. Kita tahu Indonesia sendiri dapat dikatakan sebagai laboratorium sosial yang sangat kaya, dapat dikatakan demikian karena multikulturalisme yang berkembang di Indonesia baik dari aspek suku, ras, etnis, bahasa, agama dan lainnya. Hal itu pula ditambah dengan status geografis Indonesia sebagai negara maritim yang terdiri dari banyaknya pulau. Bahwa multikulturalisme di satu sisi adalah aset bangsa jika dikelola secara tepat, namun di sisi lain ia juga membawa bibit ancaman disintegrasi bagi Indonesia sendiri.

Kemunculan benih-benih percekcokan pada masyarakat multikultur akan sedikit terjadi jika masyarakat multikultur menyikapi perbedaan sebagai suatu pemisah dan tidak menerapkan sifat kekita-kitaan. Sifat ini tentu bukan merupakan bagian dari budaya Indonesia. Masyarakat yang hidup ribuan tahun dalam keadaan yang multikultur belum bearti kebal terhadap kemungkinan-kemungkinan gesekan konflik etnis, budaya, agama, sosial, politik dan ekonomi. Pengalaman lama hidup dalam perbedaan ternyata tidak cukup untuk menanamkan rasa bangga akan perbedaan dan memandangnya sebagai suatu kekayaan bangsa. Pembentukan masyarakat multikultural Indonesia yang sehat tidak bisa secara coba-coba dan diterima begitu saja. Hal ini tentu harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan. Kesadaran akan perbedaan selayaknya harus disikapi seperti tubuh manusia yang ketika salah satu bagiannya sakit yang lainnya akan ikut merasakan pula. Seharusnya sudah sepantasnya kita tahu bahwasannya keragaman masyarakat akan meningkatkan mutu hidup, memperkaya pengalaman kita, dan memperluas sumber daya budaya.

Kita tahu sekarang kita memasuki era mordenisasi dan globalisasi yang seringkali orang menyebutnya sebagai era global. Era global ini bukan hanya berlaku pada sistem dunia, namun hal ini juga memasuki Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tentu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dengan orang secara mendunia. Era global ini tentu akan mendorong orang untuk berpikir lebih maju. Seiring dengan berkembangnya era global tentu akses dan informasi apapun akan sangat mudah masuk ke Indonesia. Era global tentu sedikit banyaknya memberi ruang kepada budaya barat untuk masuk ke Indonesia.

Masuknya budaya-budaya lain ke Indonesia tentu akan menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semula irasional menjadi rasional. Kita tahu antara budaya barat dan budaya timur sangat jauh berbeda, tekhusus budaya Indonesia. Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Kita lihat saja sekarang ini remaja lebih menyukai dance dan lagu barat jika dibandingkan dengan tarian dari Indonesia dan lagu-lagu daerah Indonesia. Dari pemasalahan ini juga dapat dilihat bahwa nilai-nila budaya itu sudah mulai bergeser. Lalu pertanyaan yang muncul dimanakah letak nasionalisme itu? Dimanakah letak kecintaan terhadap multikultur Indonesia sendiri. Hal ini terjadi karena kita sebagai penerus bangsa tidak bangga terhadap sesutu milik bangsa.

Persoalan nasionalisme di era global sebenarnya bukan hanya masalah yang dialami oleh Indonesia saja. Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya dengan kekuatan politik, ekonomi, budaya, dan hankam yang tak tertandingi pun harus berupaya sekeras-kerasnya dalam membangun semangat nasionalisme di kalangan warganya. Demikian pula dengan negara-negara lain. Hanya saja sangat mencolok terlihat dengan jelas di Indonesia karena budaya ketimuran terlampau jauh jika dibandingkan dengan budaya barat. Pengaruh kebudayaan barat bagi Bangsa Indonesia juga tidak semata-mata berpengaruh negatif, namun dapat pula berpengruh positif apabila orang-orang Indonesia mampu memilih pergaulan yang baik dan tidak menggeserkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia hal positif yang dapat kita ikuti misalnya meniru sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari, mempelajari teknologi informasi sebagai media belajar. Kebudayaan barat bagi Bangsa Indonesia seringkali dikatakan negatif karena kebanyakan orang-orang barat bertingkah laku tidak sesuai dengan nilai dan norma-norma yang berlaku di Indonesia, dan masyarakat Indonesia sendiri cenderung untuk menerapkan hal tersebut dalam kehidupannya dan mengabaikan nilai dan norma tadi, tentu hal tersebut sangat bertolak belakang dengan multikulturalime dan semangat nasionalisme Indonesia.

Proses filtrasi perlu dilakukan agar kebudayaan manapun yang masuk ke Indonesia tidak akan merusak identitas kebudayaan nasional bangsa kita. Budaya asing yang masuk ke Indonesia baik yang berdampak positif maupun negatif sebenarnya tergantung dari bagaimana kita menyikapi dan menyeleksi budaya asing tersebut. Penting sekali peran masyarakat dan pemerintah dalam mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia agar tidak terpengaruh oleh budaya asing yang sifatnya negatif dan mengendurkan semangat nasionalisme. Di era global ini, selain persoalan nasionalisme yang sering menjadi sorotan tentu persoalan multikulturalisme Indonesia pula tak kalah menjadi bahasan yang penting, karena kita tahu multikulturalisme memiliki potensi yang besar terjadinya konflik apalagi dengan kondisi semangat nasionalisme pada masyarakat indonesia mulai melemah. Untuk menghindari konflik ini terjadi tentu kita harus melakukan pencegahan dengan memperkuat kapasitas intelektual dan moralitas, meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan komunikasi serta memberikan apresiasi terhadap perbedaan. Upaya-upaya ini dilakukan agar semangat nasionalisme itu kembali menguat dan terjaganya identitas multikulturalisme di Indonesia.(***).

Comment

BERITA TERBARU