Mulia Bersama Al-Quran

  • Whatsapp

Oleh: Sofiyan Rudianto

Tanpa terasa waktu berputar begitu cepatnya sehingga saat ini kita telah melewati separuh perjalanan dari bulan suci Ramadhan 1440 H. Artinya, sehari setelahnya kita akan memasuki tanggal 17 Ramadhan, dimana pada malam tersebut menurut riwayat yang muktabar adalah malam pertama kali diturunkannya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yang oleh kaum Muslimin diperingati sebagai malam Nuzulul Qur’an (malam turunnya Al Qur’an). Oleh karena itu bulan Ramadhan juga disebut sebagai Syahr al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah SWT berfirman yang artinya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil)” (TQS al-Baqarah [2]: 185).
Pada malam diturunkannya Al Qur’an ini, Allah SWT juga menjadikannya sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman yang artinya: “Sungguh Kami menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah Yang memberi peringatan” (TQS ad-Dukhan [44]: 3). Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman yang artinya: “Sungguh Kami telah menurunkan al-Quran pada Malam al-Qadr. Tahukah kamu apakah Malam al-Qadr itu? Malam al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan” (QS al-Qadr [97]: 1-3). Oleh karenanya, kita kaum Muslim diminta untuk memperbanyak membaca al-Quran di bulan ini. Sabda Nabi Saw yang artinya: “Siapa saja yang membaca satu huruf saja dari Kitabullah, bagi dia satu kebaikan, sementara satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali” (HR at-Tirmidzi).
Lalu kemudian muncul pertanyaannya, apakah al-Quran hanya cukup dibaca atau dihafal? Apakah kalau kita membacanya berkali-kali dan menghafalnya, otomatis kita mendapatkan petunjuk darinya? Tentu tidak. Kita perlu memahami isinya. Sesungguhnya al-Quran adalah jalan kehidupan. Di dalamnya terkandung petunjuk seputar keimanan seperti sifat dan zat Allah, kisah umat-umat terdahulu, malaikat, jin, iblis, Hari Akhir, surga dan neraka, dll. Semuanya merupakan petunjuk agar umat manusia tidak jatuh dalam khurafat, tahayul, syirik dan kekufuran (Lihat, misalnya, QS ash-Shaffat [37]: 149-151).
Al-Quran juga berisi petunjuk seputar hukum bagi umat manusia karena manusia membutuhkan aturan yang dapat menata kehidupan mereka. Di dalam al-Quran terkandung hukum ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan bisnis, pidana, politik dan pemerintahan. Al-Quran, misalnya, membahas tentang keharaman ekonomi ribawi (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 278). Al-Quran membahas hukum pidana bagi pelaku perampokan dan kekerasan (QS al-Maidah [5]: 33). Al-Quran juga menetapkan hukum-hukum politik dan pemerintahan (QS al-Maidah [5]: 48). Dengan demikian al-Quran adalah kitab suci yang paripurna. Tak ada satu pun yang luput dari pembahasannya. Allah SWT berfirman yang artinya: “Kami menurunkan kepada kamu al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelasan segala sesuatu serta petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslim” (TQS an-Nahl [16]: 89).
Oleh karena itu, jika menginginkan kemuliaan hidup di dunia, keadilan dan kasih saying Allah SWT maka Al Qur’an tidak cukup dibaca dan dihafal saja, namun harus difahami isinya serta diamalkan dan diterapkan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun Negara. Kaum Muslim sesungguhnya telah hidup bersama al-Quran selama 14 abad lamanya. Mereka menjadikan al-Quran sebagai pedoman dalam seluruh aspke kehidupan mereka. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran. Keadilan menjadi kenyataan. Sampai-sampai intelektual-intelektual Barat sendiri mengakuinya. Salah satunya W.E. Hocking. Dia mengatakan, “Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan… Sungguh dapat dikatakan, hingga pertengahan Abad 13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).
Di tengah krisis multidimensi sekarang, di tengah ketidakadilan dan kezaliman yang dirasakan oleh umat, maka tidak ada jalan lain kecuali saatnya kita kembali kepada al-Quran. Baca al-Quran, dalami isinya, pahami, dan terapkan semua aturannya dalam seluruh aspek kehidupan. Insyaallah, penerapan al-Quran akan membawa kejayaan. Dan umat Islam akan kembali menjadi umat terbaik di muka bumi ini. Ingatlah firman Allah SWT yang artinya: “Siapa saja yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta” (TQS Thaha [20]: 123-124).
Walhasil, sudah sangat jelas hanya aturan al-Quran sajalah yang bisa menjadi solusi bagi umat manusia saat ini. Melepaskan dari berbagai kesempitan, menuju cahaya kemuliaan dan kejayaan.

Related posts