MUI Basel Gelar Silaturahmi dan Sosialisasi Fatwa

  • Whatsapp
Jajaran Pengurus MUI Basel foto bersama dengan Camat Air Gegas, Kapolsek Airgegas, Danramil Toboali, Ketua Masjid, Tokoh Agama, Kepala Desa dan P2N se- Kecamatan Air Gegas, Pimpinan Pondok Pesantren usai Kegiatan Silaturahmi dan Sosialisasi Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 tentang Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban dalam Bentuk Olahan di Kecamatan Airgegas dan Toboali. (foto: istimewa).

Pengawetan & Pendistribusian Daging Kurban Olahan

TOBOALI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangka Selatan menggelar silaturahmi dan Sosialisasi
Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 tentang Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban dalam Bentuk Olahan di Kecamatan Airgegas dan Toboali.

Kegiatan yang dihadiri Camat Air Gegas, Kapolsek Airgegas, Danramil Toboali, Ketua MUI Airgegas, Ketua Masjid, Tokoh Agama, Kepala Desa dan P2N se- Kecamatan Air gegas Pimpinan pondok Pesantren itu, berlangsung di dua tempat, yaitu di Gedung Serba Guna Aigegas dan Masjid Al-Ikhlas Bukit Permai Toboali pada tanggal 6 September dan 13 September 2019.

Camat Air Gegas Yonsalakari dalam sambutannya saat membuka kegiatan itu, menyampaikan kegiatan ini dapat rutin dilakukan oleh MUI Basel, bukan hanya fatwa ini saja, tetapi sosialisasi fatwa – fatwa yang lain.

“Seperti aliran sesat itu seperti apa, apa saja kriteria aliran sesat itu. Karena di Kecamatan Air Gegas ada indikasi adanya aliran sesat. Ini sudah terbukti adanya kasus di salah satu desa di Kecamatan Air Gegas dan adanya potensi – potensi aliran tertentu yang bertentangan dengan syariat Islam,” ujar Camat Air Gegas.

Dalam kesempatan sama, Ketua MUI Basel sekaligus Ketua PCNU Basel, KH. Zahirin Sofyan dalam Fatwa ini dari MUI Pusat, MUI Basel hanya meneruskan.

Menurutnya, fatwa perlu disosialisasikan agar masyarakat tahu dan lebih mengerti bahwa ada fatwa MUI terkait daging qurban dalam bentuk olahan.

Ketua Komisi Fatwa MUI Basel, Ustadz Fadilah Hasan dalam paparannya mengatakan, pada prinsipnya daging hewan kurban disunnahkan untuk didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih, agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi, yaitu kebahagiaan bersama dengan menikmati daging kurban, kemudian dibagikan dalam bentuk daging mentah.

Berbeda dengan aqiqah dan didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.

“Setelah adanya fatwa terbaru, penyimpanan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang membutuhkan, diperbolehkan atau mubah. Dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak,” ucapnya.

Adapun pertimbangan yang ditetapkan khusus untuk daging kurban yang mubah, ditambahaknnya, ialah mesti didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi). Hal itu dilakukan untuk memperluas nilai maslahat.

“Daging yang diolah dan diawetkan itu bisa dalam bentuk dikalengkan ataupun dibuat kornet maupun rendang. Sedangkan untuk pendistribusian, dilakukan untuk lokasi di luar lokasi penyembelihan,” jelasnya. (raw/3)

Related posts