MUI Babel Tolak Sekolah Tinggi Konghucu

  • Whatsapp

Alasan, Mayoritas Penduduk Babel Melayu

Pangkalpinang – Keinginan Kementerian Agama untuk mendirikan Sekolah Tinggi Agama Konghuchu Negeri (STAKIN) di Provinsi Bangka Belitung (Babel), mendapat sandungan dari
Majelis Ulama Indonesia Bangka Belitung (MUI Babel). Pengurus MUI menyatakan sikap menolak pendirian sekolah itu.
Ketua MUI Babel Zayadi menegaskan, penolakan ini diputuskan setelah MUI rapat bersama dengan organisasi kemasyarakatan yang lain, dan memutuskan bahwa masyarakat Babel menolak sekolah tinggi tersebut.
STAKIN ini, merupakan tawaran dari Kementerian Agama untuk didirikan di Indonesia dengan tiga alternatif lokasi, yakni Provinsi Babel, Kalimantan Barat, dan Banten.
“Dengan berbagai pertimbangan, intinya MUI dan ormas menolak pendirian dengan berbagai alasan.
Pada intinya, bahwa penolakan karena banyak aspirasi masyarakat secara umum keberatan untuk didirikan sekolah itu di Babel,” tegasnya.
Gubernur Babel pun, lanjut Zayadi juga sudah menyampaikan penolakan secara lisan ketika pertemuan dengan Sekjen Kementerian Agama beberapa waktu lalu.
“Kami bukan menolak program pemerintah, tetapi lebih memikirkan dampak nantinya dan menghindari konflik di kemudian hari. Bukan saja antar agama, tetapi antar agama Islam juga berpotensi menimbulkan konflik,” jelasnya.
Jika alasan pemerintah mendirikan sekolah ini untuk mencetak tenaga pengajar agama Khonghucu, maka lanjut Zayadi, waktu pertemuan dengan Gubernur Babel dan Sekjen Kemenag beberapa waktu lalu, gubernur menyampaikan alternatif lain untuk mengisi tenaga pengajar dengan memberikan beasiswa kepada calon pengajar.
Zayadi, menegaskan, pada pernyataan sikap MUI dan ormas, terdapat tiga poin yang menjadi alasan. Pertama, Babel adalah wilayah strategis yang memiliki semangat DMDI (Dunia Melayu Dunia Islam) walaupun terdapat beberapa etnik lain. Yang berdasarkan sensus penduduk tahun 2015, penduduk Babel mayoritas beragama Islam 88,71 persen, sisanya 11,29 persen terdiri dari Kristen, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, termasuk Konghucu yang hanya 3,3 persen.
“Ketika ditemukan beberapa etnik di Babel, orang Loem (orang darat dan orang laut), dan orang Lah (Melayu Muslim), dan etnik Cina kenyatannya atau faktanya identik dengan Melayu yang beragama Islam dan sangat menjunjung tinggi nilai kearifan lokal. Sedangkan penduduk etnik lain sangat sedikit,” ujarnya membacakan poin pernyataan sikap.
Poin ketiga, diharapkan hubungan antar etnik yang selama ini sangat aman dan sedikit, diharapkan tetap harmonis serta tidak mengalami gesekan yang berimplikasi kepada munculnya disharmonisasi antar penduduk dan juga instabilitas di tengah masyarakat.
Walaupun perundang-undangan di Indonesia menyatakan sebuah perguruan tinggi agama tertentu dapat dilakukan, namun demikian menurut MUI hal tersebut dapat mempertimbangkan kondisi objektif wilayah.
“Selanjutnya rencana pendirian sebuah perguruan tinggi harus melalui studi kelayakan yang mengacu kepada Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan yang dibuat oleh Kementerian Agama dan juga Kemenristekdikti, disamping mempertimbangkan suasana psikologis masyarakat Babel yang mayoritas muslim,” tegasnya.
Pernyataan sikap itu ditandatangani oleh ormas ormas Islam di Bangka Belitung yakni Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PW NU), PW Muhammadiyah, PW LDII, PW PERSIS, dan PW Sarikat Islam Bangka Belitung.
MUI Babel dalam pernyataan sikapnya menolak STAKIN dengan alasan untuk menjaga perasaan umat Islam yang kental adat Melayu dan mayoritas mencapai 89,3% penduduk Bangka Belitung. MUI memahami sepenuhnya hak untuk memperoleh pendidikan agamanya sesuai undang undang khususnya bagi umat beragama Khonghucu.

Kutuk Serangan Terorisme

Dalam kesempatan sama, Ketua MUI Babel menegaskan, bahwa MUI mengutuk keras serangan terorisme yang terjadi di dua masjid di Selandia Baru, Jumat pekan lalu. Sebab, aksi teror itu tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun, termasuk Islam. Dan aksi yang dilakukan pelaku sangat biadab dan sadis.
“Dalam agama manapun apalagi Islam tindakan teror perbuatan keji yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena dari ajaran Islam tidak ditemukan alasan yang membenarkan akai teror seperti ini,” katanya.
“MUI merasa simpati dan peduli untuk membuat suatu pernyataan sikap dan mengutuk keras perbuatan ini, karena tidak sesuai dan merupakan perbuatan biadab tak berperikemanusiaan dan aksi teror, yang tidak dibenarkan,” sambungnya.
Disinggung aksi terorisme selalu dikaitkan dengan Islam, Zayadi menegaskan bahwa Islam merupakan agama perdamaian, dan tidak membenarkan aksi-aksi seperti itu.
“Mengapa orang sering mempersepsikan Islam identik teroris, secara umum yang sering terjadi pelaku teror orang Islam, padahal agama lain juga ada teror. Islam agama damai, rahmataan Lil Alamin. Tidak ada mengajarkan (teror) seperti itu. Opini itu hanya ingin menyudutkan Islam,” tegasnya.
Mengenai aksi teror yang kerap dilakukan orang Islam, hal ini menurutnya dikarenakan pemahaman agama pelaku masih dangkal, dan keliru memaknai arti jihad. Ditambah lagi ada cap negara kuat terhadap teroris itu adalah Islam.
“Padahal agama lain juga ada, dan yang terjadi di Selandia Baru ini juga bukan Islam pelakunya, dan orang Islam yang menjadi korbannya,” tandas Zayadi.
Ia meminta, agar masyarakat tidak terbawa dengan emosi dan opini yang menggiring ke suatu pemikiran, serta jangan salah memaknainya. Karena itu MUI menyatakan sikap, bahwa peristiwa penembakan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama; Turut prihatin dan berbelasungkawa serta empati yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarganya;
Mengecam dan mengutuk keras perbuatan para teroris dan radikalis karena melakukan perbuatan biadab dan tidak berprikemanusiaan; Mengimbau umat Islam dimanapun berada melakukan salat ghaib dan berdoa untuk para korban; Mengimbau semua pihak untuk menyikapi peristiwa tersebut secara bijaksana dan tidak berlebihan, serta tetap menjaga kerukunan dan kedamaian antar seluruh warga masyarakat; Meminta kepada pemerintah RI menggunakan seluruh kemampuan dan jalur diplomatik untuk terus memperjuangkan dan ikut menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia sebagaimana diamanahkan oleh Pembukaan UUD 1945. (nov/1)

Related posts