Mudik Ke Kampung Halaman Yang Abadi

  • Whatsapp

Oleh: Yoki Yurianto, ST

Hampir setiap tahun menjelang akhir Ramadhan, fenomena mudik sudah menjadi tradisi, bahkan ritual wajib bagi mereka yang berada di perantauan, jauh dari kampung halaman. Kota-kota besar pun mulai sepi ditinggal penghuninya. Tradisi mudik memiliki makna yang mendalam selain hanya pulang bertemu dengan keluarga, lalu bersilaturahmi dan meminta maaf. Mudik biasa dilakukan setiap akhir bulan Ramadan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Hal ini terjadi karena sudah tertanam di pikiran masyarakat Indonesia bahwa ketika merayakan hari raya Idul Fitri harus di tempat kelahiran bersama orang tua dan saudara, karena banyak orang Indonesia yang berpindah dari lingkungan pedesaan menuju perkotaan. Resiko macet dalam perjalanan dan tingginya resiko perjalanan mudik tidak mengurungkan niat untuk bisa pulang kampung , kumpul bersama keluarga. Semua pemudik pasti ingin selamat sampai tujuan, maka persiapan yang matang menjadi kata kunci. Segala daya dan upaya akan dipersiapkan semaksimal mungkin sebelum melakukan perjalan mudik, mulai dari uang, bekal dalam perjalanan, fisik, dan kendaraan yang akan digunakan.
Untuk pulang ke kampung halaman, kita begitu serius mempersiapkannya, padahal kampung halaman yang kita tuju bersifat sementara. Tahukah kita ternyata ada kampung halaman yang abadi yaitu akhirat yang kadang-kadang kita lupakan. Pertanyaannya, seberapa seriusnya kah kita mempersiapkannya? Karena kembali ke kampung akhirat, adalah suatu kepastian dan tidak membutuhkan kesiapan dari kita. Dia akan datang seiring dengan batas umur yang kita miliki. Beda dengan mudik di dunia, ketika kita belum siap, acara mudik bisa kita tunda. Tapi mudik ke kampung akhirat pasti akan terjadi, dan kita pasti dipaksa untuk kembali.
Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk kembali ke kampung akhirat yang kekal abadi. Karena pada hakikatnya, dunia itu fana, akhirat itu abadi. Dunia itu sementara, akhirat itu selama-lamanya. Dunia itu fatamorgana, akhirat itulah yang sebenarnya. Dunia itu mimpi, akhirat itulah realitas sebenarnya. Allah ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)
Tapi terkadang banyak muslim yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk mencari kebahagiaan di kehidupan dunia yang sementara ini, sedangkan mereka sedikit sekali menghabiskan waktu untuk meraih kebahagiaan di akhirat untuk selama-lamanya. Banyak Muslim yang tertipu oleh gemerlapnya dunia yang fatamorgana ini, sembari melupakan akhirat yang sebetulnya nyata bagi siapa saja yang punya iman dan takwa. Rasulullah SAW pun telah menggambarkan dunia melalui sabdanya,

“Aku sama sekali (tidak memiliki keakraban) dengan dunia. Perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan seseorang yang ada di dalam perjalanan; dia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, lalu dia pergi dan meninggalkannya.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Beliau pun juga bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR al-Bukhari).

Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami’ul ‘uluumi wal hikam (hal. 461)).

Selain itu, tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat, Allah SWT sudah mengingatkan melalui firman-Nya:
Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman, “Kalian tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja jika saja kalian tahu.” (TQS al-Mu’minun [23]: 112-114).

Allah SWT pun berfirman:
“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara. Akhirat itulah sesungguhnya yang kekal” (TQS al-Mu’min [23]: 39).

Allah SWT menegaskan:
“Tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda-gurau belaka. Sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa” (TQS al-An’am [6]: 32).

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (TQS al-Hadid [57]: 20).

Dengan banyaknya peringatan Allah SWT, sudah seharusnya setiap Muslim menyadari dan selalu mengingat-ingat hakikat kehidupan dunia dan akhirat ini. Hanya dengan itulah dia akan selalu berorientasi ke akhirat tanpa harus melupakan bagiannya di dunia. Terkait itu, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik ra:
“Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai misi (orientasi)-nya, Allah pasti akan memuaskan hatinya; mengumpulkan apa yang masih tercerai; dan memberikan kepada dirinya dunia yang siap melayaninya. Namun, siapa saja yang menjadikan dunia sebagai misi (orientasi)-nya, Allah pasti menjadikan kemiskinan di antara kedua matanya; mencerai-beraikan apa yang terkumpul; dan tidak memberikan kepada dirinya dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuk dirinya.” (HR at-Tirmidzi).
Imam Ibnu al-Qayyim berkata, “Jika seorang hamba pada waktu pagi dan sore tidak memiliki misi lain selain untuk Allah semata, Allah SWT pasti akan menanggung seluruh kebutuhannya dan mememenuhi semua keinginannya. Dengan itu ia mengosongkan hatinya hanya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk selalu mengingat-Nya dan anggota tubuhnya untuk senantiasa menaati-Nya. Jika seorang hamba pada waktu pagi dan sore, sementara dunia sebagai misinya, Allah SWT pasti akan membebani dirinya dengan keprihatinan, kesedihan dan kesulitan. Bahkan Allah berlepas diri dari dirinya.”

Dengan selalu berorientasi ke akhirat, sesungguhnya kita akan meraih keuntungan ganda, sebagaimana firman Allah SWT:
“Siapa saja yang menghendaki keuntungan di akhirat, Kami akan menambah keuntungan itu bagi dirinya. Siapa saja yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan memberikan sebagian dari keuntungan itu dunia, sementara tak ada sedikit pun bagian untuk dirinya di akhirat” (TQS asy-Syura [42]: 20).
“Pastilah kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya” (TQS al-Isra [17]: 21).
“Sesungguhnya negeri akhirat adalah lebih baik dan itulah tempat terbaik bagi orang yang bertakwa” (TQS an-Nahl [16] 30).

Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah ta’ala berfirman:
“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs. An Naazi’aat: 37-41).
Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita -dengan izin Allah ta’ala- . Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, dengan menerapkan syariatNya secara totalitas melalui tegaknya Khilafah yang mengikuti jalan kenabian, dan jadilah penolong-penolong agamaNya seperti generasi para sahabat dan salafus sholih pada sisa umur kita yang masih ada. (**)

 

Related posts