Momentum Ramadhan, Kembali Bersatu Dengan Al-Qur’an

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi (Syabab Hizb)

Ramadhan tahun ini kita menghadapi tahun politik yang besar. Dengan mengadopsi sistem Sekuler Demokrasi membuat kaum muslim terbecah belah berkubu-kubu. 2015 kita menghadapi Pilkada di 4 Kabupaten Pemekaran. 2017 Kita menghadapi Pilkada Gubernur. 2018 Kita menghadapi Pilkada 3 Kabupaten/Kota. Dan Tahun ini 2019 kaum muslim terpaksa ikut pesta penentuan pemimpin dan pembuat hukum di Indonesia mulai dari tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Maka momentum Ramadhan 1440 Hijriyah ini mari kita bersatu kembali terikat dengan hukum-hukum yang tertuang dalam Kitabullah (Al-Qur’an). Allah Subhnanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS. Ali Imran [3]: 103).
Ustadz Muhammad Ali As Shabuni menguraikan dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir Juz I/198 sebab turunnya ayat di atas ketika adanya seorang Yahudi di Madinah bernama Syas bin Qais yang menunjukkan kedengkiannya saat melihat orang-orang suku Aus dan Khazraj yang selama ratusan tahun bermusuhan dan berperang kemudian bersatu setelah bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan menerima dakwah Islam. Kaum Yahudi yang seharusnya lebih dulu beriman kepada risalah kenabian Baginda Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membenarkan kitab Taurat yang diturunkan kepada mereka namun mereka malah bersikap kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebelumnya telah mengajak mereka beriman kepada apa yang Nabu Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bawa dan menegur mereka yang telah banyak mencela dan menukar ayat-ayat Allah Subhnanahu WaTa’ala sebagaimana firman-Nya yang artinya,
“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 41)
Selama ini kaum Yahudi itu mengambil keuntungan atas perselisihan antara kedua suku besar Arab di Yastrib tersebut. Apalagi persatuan dua suku di Yatsrib tersebut lantaran menerima dakwah Islam. Suku yang telah melakukan Thalabun Nushrah kepada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan seluruh kaum muslim. Mereka pun disematkan oleh Rasulullah dengan sebutan kaum Anshar, yaitu kaum yang telah memberikan pertolongan dan menyerahkan kekuasaan kepada Baginda Nabi besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Kaum ‘Aus dan Khazraj yang telah masuk Islam dan siap membela tanpa syarat kepada Rasulullah, Islam dan seluruh kaum muslim sehingga membuat kaum Yahudi di Madinah yang selama ini mengambil keuntungan atas perselisihan mereka malah terdesak.
Syas bin Qais terus membangun propaganda untuk memecah belah kaum muslim yang menyuruh seorang pemuda dengan menyusup di tengah-tengah kaum muslim. Pemuda yang diutus tersebut membuat propaganda dengan mengisahkan kepada kaum ‘Aus dan Khazraj tentang perang Bu’ats dan terus memprovikasi dengan melantunkan syair-syair yang biasa dikumandangkan pada suasana perang ketika mereka masih sering berselisih dan berperang. Makarnya pemuda Yahudi tersebut ternyata mampu membangkitkan suasana jahiliyah dari Aus dan Khazraj yang dulunya berperang. Di antara kaum ‘Aus dan Khazraj pun kemudian muncul perasaan saling mengungguli satu sama lain dan marah di antara mereka sampai mereka berteriak-teriak meminta senjata untuk berperang. Melihat situasi memanas di antara ahlul quwwah yang telah memberikan Nushrah kepada Rasulullah, maka Rasulullah kemudian mengumpulkan mereka bersama para Shahabat kaum kaum Muhajirin. Rasulullah kemudian menyadarkan mereka yang telah terprovokasi godaan Syaithan dan tipudaya kaum Yahudi,
“Apakah kalian hendak mengikuti seruan (propaganda) jahiliyah ini, padahal saya masih ada di tengah-tengah kalian, padahal Allah telah memuliakan kalian dengan Islam yang dengannya Allah memutus urusan jahiliyah kalian, dan Allah menyatukan hati kalian?”
Mendengar seruan Rasulullah tersebut mereka akhirnya sadar dan menangis dengan meletakkan senjata mereka dan saling berpelukan satu sama lainnya. Begitulah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kaum muslim dalam menata hati. Tipu daya orang-orang kafir sebagai kaki tangan Syaithan tiada hentinya untuk menghancurkan dan mencerai-beraikan kaum muslim.

Ikatan Al-Qur’an
Seperti saat ini propaganda orang kafir untuk memecah belah kaum muslim yang tak jarang melalui tangan dan lisan kaum muslim itu sendiri. Politik adu domba dan berbagai bentuk makar lainnya diciptakan sedemikian rupa sebagaimana kita rasakan saat ini baik di Indonesia maupun antar kaum muslim di belahan bumi lainnya. Maka menyatukan kaum muslimin hanya bisa dilakukan jika kita bersatu dalam ikatan satu sistem dan satu kepemimpinan Islam dengan memegang erat Syariat Allah. Makar dan berbagai bentuk propaganda kaum kuffar pasti Allah balas dengan mencerai-berceraikan mereka. Karena sesungguhnya Allah lah sebaik-baik pembuat makar.
Seharusnya kaum muslim mengambil Islam dalam menyatukan pemikiran dan perasaan kita. Namun karena godaan harta dan kedudukan dunia, orang kafir dengan mudah mengadu domba kaum muslim. Hal ini mudah dilakukan lantaran saat ini tidak diterapkannya Syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan kaum muslimin. Kaum muslim pun yang menjadi kaki tangan musuh-musuh Allah yang pikiran dan perasaan mereka berstandarkan pemikiran jauh dari standar Islam dan bersikap cenderung menuruti kemauan orang-orang kafir. Hal demikian wajar tidak wajar terjadi karena sekulerisasi atas kaum muslim dan sistem yang diterapkan di negeri-negeri kaum muslimin. Peradaban barat pun akhirnya terus mewarnai kehidupan kaum muslim. Terpecah-belahnya kaum muslim dalam sekat nation state yang lebih dari 50 negara saat ini menjadikan penguasa muslim tak peduli terhadap keadaan kaum muslim yang tidak di dalam kekuasaannya.

Menyatukan Kaum Muslim
Kaum muslim telah tercerai-berai. Kaum muslim harus bersatu padu dengan benar-benar memegang tali Allah dan melepaskan ikatan tipudaya barat. Imam Ibnu Katsir tatkala menguraikan tafsir atas ayat pertama di atas, yang dimaksud tali Allah itu adalah Al Quran berdasarkan hadits marfu’ yang diriwayatkan Al Harits Al A’war dai Ali r.a. dalam menggambarkan Al Quran, “Dia (Al Quran) itu adalah tali Allah yang teguh dan jalan-Nya yang lurus”.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan hadits Abdullah r.a. bahwa “Sesungguhnya Al Quran inilah tali Allah yang teguh, dan dialah cahaya yang nyata dan penyembuh yang bermanfaat, pelindung bagi orang yang berpegang teguh padanya dan penyelamat bagi orang yang mengikutinya”.
Maka nampak jelaslah bahwa tali Allah itu maksudnya adalah Al Quran, yang tiada lain yaitu wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Dipastikan dengan ikatan ini mampu mengikat seluruh kaum muslim di seluruh penjuru dunia dibawah satu kepemimpinan oleh seorang Amirul mu’minin dalam institusi Pemerintahan Islam. Oleh karena itu sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk senantiasa merasuki ayat-ayat Al Quran itu dalam hati dan pikiran kita, agar benar-benar wahyu-wahyu Allah itu mengikat hati dan pikiran serta bisa kita implementasikan dalam perbuatan.
Banyak PR bersama kaum muslim hari ini yang sudah terlanjur tercerai berai. Kaum muslim jangankan terikat dengan Al-Qur’an, membacanya saja banyak kaum muslim tak mampu. Bahkan tak sedikit yang tak mengenal huruf demi hurufnya. Semua PR tersebut harus dituntaskan. Yang tak mengenal huruf demi huruf Al-Qur’an, mulailah untuk belajar dan mengajarkannya. Yang tak tau syariat Islam, mulailah kita untuk mencari tau dan mendakwahkannya. Sehingga keterikatan dengan tali Allah yaitu Al-Qur’an dan seluruh syariat yang terkadung di dalamnya bisa diwujudkan.

Meneladani Salafush Shalih
Dulu, sejak datangnya Islam di masa kenabian kaum muslim terikat erat dengan tali Allah. kemudian diperkokoh lagi dimasa Khulafaur Rasyidin, Tabiin, Tabiut Tabiin. Tak hanya sampai disitu, kaum muslim terus diikat dan disatukan melalui para Ulama setelahnya tak terpecah belah. Semua bisa solid karena kaum muslim hidup dalam kehidupan Islam dimana diterapkan syariah Islam secara kaaffah dengan negara sebagai institusi pengemban dakwah dan penjaganya. Salafush-Shalih begitu cinta kepada Al Quran, menjadikan bacaan ibadah dan dijadikan aturan kehidupan seluruh Syariahnya.
Lihatlah generasi Salafush-Shalih, mereka mentradisikan baca Al Quran siang dan malam. Al Quran yang merupakan wahyu Allah SWT kemudian diperinci melalui lisan, perbuatan dan taqrirnya baginda Nabi besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, ambillah ! Dan apa saja yang dicegah oleh Rasul, jauhilah !” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(TQS. Ali Imran [3]: 31).

Khatimah
Hati kaum muslim yang hari ini banyak jauh dari Al-Qur’an, mari kita tata kembali. Berusahalah menyatukan pikiran dan perasaan kita kepada Al Quran yang telah diwahyukan kepada kita melalui Rasul yang mulia Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pentunjuk bagi kita sebagaimana yang dilakukan generasi Shalafush-shalih yang dijadikan sebagai pedoman hidup manusia. Perbanyaklah membaca Al Quran dan kemudian tanamkan dalam hati bahwa kita sedang membaca perintah dan larangan-Nya dimana di dalamnya berisi petunjuk apa yang membuat Allah Subhanahu Wata’ala ridlo atau larangan-Nya dimana murka-Nya bila tidak dipatuhi.
Semoga kaum muslim bisa kembali kepada Al-Qur’an dalam penentuan hukum sehingga bersatu kembali dari perpecahan akibat pesta demokrasi selama ini.. Semoga kita bisa segera menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita dan perpecahan tidak lagi di antara kaum muslim. Wallahu a’lam. []MZiS

Related posts