Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Momentum Kembali Memahami Fitrah Sebagai Orang Tua

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah lebih dari satu tahun ini, berdampak terhadap perubahan aktivitas belajar-mengajar. Tak terkecuali di negeri ini, sejak semakin tidak terkendalinya wabah Covid-19, aktivitas pembelajaran daring (online learning) menjadi sebuah pilihan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas. Praktik pendidikan online learning dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktivitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik seperti guru maupun dosen. Langkah yang tepat namun tanpa persiapan yang memadai. Akibatnya dari itu  tidak sedikit tenaga pendidik gagap menghadapi perubahan drastis ini. Sementara itu praktis tidak ada cara lain untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 selain dengan membatasi kerumunan manusia dalam jumlah yang banyak, termasuk disekolah yang sangat rentan dengan penyebaran wabah ini.

Kegagapan pendidikan dengan sistem daring bukan hanya terjadi dengan para pendidik di sekolah, akan tetapi orang tua juga merasakan ‘gagap’ dalam ‘membantu‘ anaknya belajar di rumah. Banyak orang tua yang merasakan kesusahan dalam mengganti posisi guru bagi anak-anaknya di rumah. Bagaimana tidak, orang tua yang sudah bekerja seharian kemudian harus ‘’mengajar’ anaknya lagi di rumah. Sehingga sudah menjadi kebiasaan kita bahwa mungkin tidak sedikit dari orang tua yang mengangap bahwa tempat belajar hanya di sekolah, dan sekolah punya tanggung jawab penuh atas pembelajaran dan prestasi anaknya.

Namun ada hal penting yang tidak kita sadari bahwa setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari pembelajaran secara daring, dan ‘keterlibatan’ orang tua dalam mengajar anaknya dari rumah. Yang pertama adalah mengembalikan fungsi pokok orang tua sebagai pendidik utama bagi anaknya. Senada dengan hal ini, mari kita pahami hadits dari Nabi Muhammad SAW “Ibu ( orang tua) adalah madrasah pertama ( Al Hadits). Dilihat dari makna Hadits ini, bisa dengan mudah kita fahami bahwa sumber pendidikan, teladan dalam berbuat yang paling utama diikuti oleh anak adalah orang tua yang setiap hari dia liat dan hidup bersama-sama.

Kalau kita berbicara mengenai fungsi orang tua  dalam keluarga, sangat kompleks. Karena begitu banyaknya beban yang harus dilaksanakan oleh para orang tua  untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Disamping memenuhi kebutuhan pokok, seperti pakaian dan makanan, maka orang tua berkewajiban pula untuk memberi bimbingan dan contoh yang baik pada anak-anak agar dapat menjadi orang yang berpendidikan menurut ajaran yang telah diberikan oleh orang tuanya.

Jadi, sebagai orang tua di rumah yang masih merasa susah mengajarkan anaknya belajar dari rumah, tidak usah risau dan merasa gagap, Karena ini adalah fitrah dan tugas pokok yang memang harus kita laksanakan sebagai orang tua baik dalam kondisi wabah yang berkecamuk atau dalam keadaan normal. Kita harus bertanggung jawab mendidik anak sampai dia tumbuh besar dan sukses karena orang tua yang mendidik dengan baik. Sehingga akan menjadi “asset” bagi kedua orang tuanya.

Yang kedua adalah menambah fungsi rumah sebagai tempat belajar. Adalah fitrah setiap makhluk untuk membangun tempat tinggal yang dijadikan sebagai tempat beristirahat dan melindungi diri, walaupun dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda sesuai kemampuan dan kebutuhan setiap makhluk itu sendiri. Jika pada binatang tempat tinggal itu disebut sarang, maka manusia menyebutnya dengan istilah rumah. Alqur’an memperkenalkan dua istilah untuk menyebut tempat tinggal atau rumah. Akan tetapi di tengah-tengah kondisi yang melanda seluruh dunia, maka fungsi rumah akan lebih terasa seperti “rumah peradaban” pendidikan. Rumah dijadikan tempat belajar bersama antara orang tua dengan anak, tempat mereka berdiskusi tentang tugas harian atau pelajaran sekolah yang lebih mendalam, bahkan dijadikan tempat berkerjasama dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan tugas masing-masing.

Yang ketiga adalah mempererat hubungan orang tua dengan anak dalam hal pendidikan. Hubungan komunikasi orang tua dengan anak dalam hal pendidikan selalu menjadi perhatian guru, orang tua dan pakar pendidikan. Anak menjadi berprestasi dan beretika tidak lepas dari peran orang tua. Tidak sedikit seorang anak “bermasalah” dalam belajar dan berteman itu berawal akibat buruknya komunikasi antara orang tua dengan anak di rumah. Momentum BDR ini harus maksimalkan komunikasi kita dengan anak dalam hal belajar, perbanyak bertanya tentang pelajaran mereka, dimulai dai jadwal pelajaran, jam belajarnya kapan, materinya apa, dan bersama-sama mencari solusi dengan komunikasi yang baik.

Jadi, kesimpulannya, kondisi pandemi Covid yang semakin menunjukan tingginya sehingga memaksa sistem belajar dengan daring adalah momentum kita kembali memahami fitrah sebagai orang tua, memanfaatkan fungsi rumah menjadi tempat melahirkan generasi peradaban yang langsung diasuh oleh orang tua di rumah serta mempererat hubungan kasih sayang orang tua dengan anaknya.(***).

Diatas Footer
Light Dark