Momen Idul Fitri untuk Introspeksi Diri

  • Whatsapp
Jarir Idris
Alumni Ponpes Tarbiyatul Mubtadiin Toboali, Basel, Babel

Memaknai makna Idul Fitri dan Lebaran, tentu berbeda. Semua orang bisa merayakan lebaran, tapi tidak semua orang bisa meraih Idul Fitri. Lebaran adalah suatu tradisi yang setiap orang boleh ikut merayakannya. Lebaran tidak hanya dirayakan umat muslim saja, melainkan umat agama lain pun mengambil diksi yang serupa. Tetapi tidak dengan Idul Fitri.
Sangat populer ditelinga kita bahwa, Idul mempunyai arti kembali dan Fitri mempunyai makna suci. Kembali menjadi suci adalah harapan bagi setiap hamba tanpa terkecuali. Momentum ramadhan sebagai kawah candradimuka untuk menggembleng diri menjadi pribadi yang lebih baik. Menjalani sebulan penuh puasa untuk mengendalikan hawa nafsu, bukan untuk menghilangkan hawa nafsu.

Manusia sebagai fitrahnya harus mempunyai nafsu, jika tidak mempunyai nafsu maka itu adalah malaikat. Namun, jika manusia dikendalikan oleh nafsu, derajatnya lebih rendah daripada binatang. Dalam kitab Aqidatul Awwam dijelaskan bahwa jenis nafsu mempunyai tujuh macam. Tentunya kategori negatif yang dimaksud nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Sedangkan, nafsu mulhimah, muthmainnah, radhiyah, mardliyah dan nafsu kamilah adalah nafsu yang positif. Ini yang harus dikendalikan dalam diri kita.

Read More

Setiap hari, nafsu dalam diri manusia senantiasa berperang untuk menentukan perbuatan. Proses pendidikan ramadan yang telah dilalui, mempunyai maksud untuk melatih nafsu baik, agar bisa berbuat yang baik pula. Puasa melatih diri kita untuk melaksanakan perintah dan menjauhi dari larangan yang telah ditetapkan. Jika mengambil secarik filosofis yang terkandung pada proses pendidikan puasa, yakni pelatihan untuk mengontrol perut dan mengendalikan syahwat duniawi.

Mengontrol perut artinya menahan diri dari memakan yang bukan haknya. Meskipun ada makanan dan minuman milik pribadi, namun kita dituntut untuk bisa menahan diri sejenak sebelum tiba waktunya. Apalagi kalau itu bukan milik kita, bukan hak kita, tentu tidak boleh mendzolimi yang lain, hanya karena ingin mengenyangkan perut belaka.

Mengendalikan syahwat duniawi yakni harta, tahta dan wanita. Syahwat dalam harta pada bulan ramadhan, juga memikul kewajiban mengeluarkan zakat. Zakat sebagai legitimasi bahwa kita adalah manusia, maka dituntut untuk berbagi kepada sesama. Meskipun kondisi diri sendiri tidak berlebih harta, namun sebagai solidaritas sesama manusia untuk memanusiakan manusia melalui zakat. Tahta dan wanita pun juga demikian. Harus menunggu waktunya agar hal tersebut menjadi halal, bukan malah memaksa kehendak hingga timbul sifat tamak. Naudzubillah.

Pendidikan selama sebulan penuh dengan ditutup kembali suci merupakan suatu kehormatan yang luar biasa. Dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuat dihapus dengan amalan-amalan kebaikan selama ramadan ini. Ditambahi bonus Idul Fitri sebagai apresiasi dari sang Ilahi kepada hambanya. Namun, justru setelah Idul Fitri adalah tantangannya.

Ada sebuah pepatah yang bilang mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Selesai bulan ramadan, bukan berarti selesai semua rutinitas peribadatan. Ketika ramadan berpuasa, tentu setelah ramadan harus tetap berpuasa dari yang bukan hak kita. Ketika ramadan berlatih menahan diri untuk tidak menyakiti sesama pun, selesai ramadan harus senantiasa dipupuk untuk tidak menyakiti sesama pula. Dan ketika ramadan berlomba-lomba untuk bertadarus, selesai ramadan harus bisa mempertahankan hal itu.

Jangan lantas, selesai ramadan seperti setan yang terlepas dari belenggunya. Namun, diri kita harus senantiasa berani istiqomah untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan yang telah kita tanam pada bulan ramadan. Sebagai manusia tentu pasti ada salah dan lengahnya. Manusia tanpa kesalahan adalah mustahil, namun manusia yang banyak salahnya akan bernilai nihil. Idul fitri sebagai momentum keagamaan juga kenegaraan, mari kita maknai dan senantiasa kita membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena pada awalnya, kitalah yang membentuk kebiasaan dan suatu saat, kebiasaan yang akan membentuk diri kita.
Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam sebuah riwayat ketika selesai Salat Id, Jibril turun bertemu dengan Rasulullah lalu meminta tiga permintaan untuk diaamiini Rasulullah. Jika dalam terjemahan bebas, doanya adalah sebagai berikut : Ya Allah jangan engkau terima puasanya orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, Ya Allah jangan engkau terima puasanya istri yang durhaka kepada suaminya, dan yang ketiga, Ya Allah jangan engkau terima puasanya seseorang yang tidak mau memaafkan kesalahan sesamanya.

Momentum Idul Fitri secara maknawi mempunyai arti perjuangan yang tiada habisnya, dari hidup sampai mati nanti. Patutnya kita senantiasa sabar, ikhlas dan tawakkal untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah yang kita lakukan. Mari kita berdoa agar kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah sampai nanti, aaamiiin, aaamiiin, ya rabbal alamin. (***).

JustForex

Related posts