Modernitas Masyarakat Pangkalan Batu

  • Whatsapp

Oleh: Evi
Mahasiswi FISIP Universitas Bangka Belitung

Modernisasi merupakan bagian dari perubahan sosial yang direncanakan, dimana perubahan tersebut tergantung pada kebijakan mampu atau tidak menerapkan perubahan-perubahan tersebut dalam bidang yang ingin diubah. Dalam hal ini, masyarakat harus siap terhadap perubahan yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi, karena dikehendaki atau tidak dikehendaki setiap masyarakat pasti akan mengalami perubahan, terutama sebagai dampak dari modernisasi yang berkembang tanpa batas. Modernisasi juga sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat dan pendidikan, dimana proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang dikenal dengan proses transformasi.
Teori modernisasi lahir di tahun 1950-an di Amerika Serikat, dan merupakan respon kaum intelektual terhadap perang dunia yang bagi penganut evolusi dianggap sebagai jalan optimis menuju gerakan perubahan yang terarah. Perubahan ini berawal dari dukungan kaum politik dimana mereka ingin masyaraktnya itu bisa mengikuti perubahan yang telah terjadi berjalannya waktu. Dalam hal ini, kaum politik ingin menciptakan pembangunan yang pada dasarnya merupakan sebuah gagasan tentang perubahan sosial dalam perjalanannya telah menjadi sebuah idiologi untuk dijadikan pedoman dan pola pikir serta pola tindak kita sebagai gerakan perubahan yang direncanakan maupun tidak direnanakan. Perubahan yang direncanakan paling baik dilakukan pada masyarakat yang sebelumnya sudah ada keinginan untuk melakukan perubahan tetapi mereka belum mampu melakukannya karena kendala kurangnya pengetahuan dan teknologi, berbeda dengan masyarakat yang sudah maju. Dimana dari mata pencahrian agraris telah mengenal industri,bertani dengan bajak menggunakan mesin, mengenal apa ideologi yang menjadi pedoman hidup serta pendidikan yang telah mencukupi.
Seperti halnya sebuah dusun, masyarakat Pangkalan Batu yang terletak di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, dengan 40 Kepala Keluarga dan 120 warga itu dengan bentuk rumah Panggung dari bahan kayu. Dimana masyarakatnya merupakan salah satu dusun yang bertempat tinggal di seberang sungai sangat luas serta sangat jauh dari permukiman warga Desa Ranggung. Masyarakat Pangkalan Batu merupakan salah satu masyarakat tradisional dimana dulu belum mengenal ideologi, teknologi informasi komunikasi dan pendidikan serta alat transportasi yang belum memadai.

Dahulu, mereka menyeberang menggunakan titian pepohonan untuk mencapai Desa Ranggung. Sejak tahun 1988 masyarakat mulai menggunakan sampan untuk menyeberang. Dalam proses perjalanan dari tepi sungai sampai ke desa, mereka hanya berjalan kaki. Karena perjalanan yang melewati sungai ditempuh dengan sampan, ini menjadi kendala yang besar bagi mereka dan menjadikan mereka kurangnya akan pengetahuan. Apalagi bagi anak-anak di Pangkalan Batu, yang membuat mereka susah untuk menganyam bangku sekolah. Karena kurangnya waktu orang tua untuk mengantar serta menjemput memenggunakan sampan untuk bekerja.

Kendalan ini juga diperjuangkan oleh Kepala Desa dan warga Desa Ranggung untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan Dusun Pangkalan Batu. Akan tetapi, dalam hal ini ada kesulitan serta hambatan yang dialami masyarakat Pangkalan Batu yaitu kurangnya kreativitas dari individu-individunya serta kurangnya teknologi yang diketahui. Namun, karena ada rasa peduli yang kuat oleh warga desa Ranggung terhadap masyarakat itu, munculnya rasa dorongan untuk bekerja keras dan berpikir kreatif untuk bertindak melakukan perubahan. Dengan kondisi yang memprihatikan itu, yang nyaris tidak tersentuh oleh pemerintah pada awalnya. Dengan kerjasama dan silaturahmi Rumah Sehat Badan Amil Zakat Nasional Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan BAZNAS Kabupaten Bangka Selatan yang mengunjungi Pangkalan Batu Desa Ranggung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan memberikan bantuan sembako dan pengobatan gratis, sangat membantu dan disambut antusias oleh masyarakat Pangkalan Batu. Banyak pengharapan yang dibutuhkan oleh masyarakat Pangkalan Batu terhadap Pemerintahan, juga pengharapan kepada peran Lazis PLN agar menyediakan fasilitas listrik dan pendidikan. Selain pendidikan dan fasilitas penerangan listrik, masyarakat Pangkalan Batu juga berharap akan di bangun jambatan, agar mudah dalam akses perjalanan.

Dengan rasa yang sangat brsyukur, keluh kesah masyarakat Pangkalan Batu pun di tindak lanjuti oleh Pemerintahan. Sekarang anak-anak dari Pangkalan Batu sudah bisa menganyam bangku pendidikan walau pada awalnya masih dengan sampan, Namun adanya kerjasama antara PT Timah Tbk yang membangun akses perjalanan menuju Pangkalan Batu. Serta sejumlah karyawan PT Timah bahkan terjun langsung bergotong royong bersama masyarakat setempat merintis dan membuka akses jalan di desa tersebut. Sekarang pun akses untuk menuju Pangkalan Batu pun sudah mudah, mobil pun sudah bisa memasuki wilayah dusun Pangkalan Batu. Penerangan listrik dan pendidikan pun sudah memadai. (***).

Related posts