Misteri di Bumi Perkemahan

No comment 372 views

Karya : Musda Quraitul Aini
(Siswa SMP Negeri 2 Tukak Sadai)

“Teng… teng… teng” terdengar bunyi lonceng empat kali. Seluruh siswa bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Terdengar di beberapa ruang kelas suara kegembiraan anak-anak yang menanti waktu pulang sejak tadi. Satu per satu siswa keluar kelas dengan menyalami guru di depan pintu kelas. Beberapa diantaranya terlihat berlari. Sayup sayup terdengar suara Bu Rini, pembina pramuka di sekolah itu. Bu Rini memberitahukan agar seluruh siswa yang mengikuti eskul pramuka berkumpul di halaman sekolah.

“Besok kita akan mengadakan kemah”, kata Bu Rini.
“Horeeee….”, sorak para siswa.
“kita mau kemah di mana, Bu?” tanya salah satu siswa.
“kita akan berkemah di daerah puncak, dan di sana akan ada siswa dari sekolah lain juga. Jadi persiapan diri kalian”, jelas Bu Rini.

Bu Rini lalu membagikan sebuah kertas putih kepada siswa. Bu Rini menjelaskan bahwa kertas itu merupakan surat persetujuan dari orang tua siswa.
“Bagi yang mau ikut kemah, surat itu harus ditandangi orang tua. Dan besok harus di kembalikan kepada saya”, kata Bu Rini.
Setelah mendengarkan pengumuman dari Bu Rini, para siswa meninggalkan halaman sekolah. Satu persatu siswa berpamitan dengan Bu Rini kemudian bergegas meninggalkan sekolah. Beberapa ada yang bermain kelereng bersama untuk menghabiskan waktu sampai jemputan dari orang tuanya datang.

****
Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, tampak seorang anak perempuan sudah beranjak dari tempat tidurnya. Saat mentari masih tertidur diperaduannya, saat ayam jantan belum mengeluarkan suaranya untuk membangunkan umat manusia, dan saat anak-anak seusianya masih terlelap menikmati mimpi indahnya. Anak itu tengah sibuk mengemasi barang-barang. Terlihat wanita setengah baya di samping anak itu. “Sudah siap semua peralatan untuk kemah nanti?”, tanya wanita itu. “Sudah, Bu… kue buatan ibu juga sudah Winda masukan ke dalam tas”, kata anak itu sambil memperlihatkan isi tas yang penuh dengan makanan. Ibunya memang sering membuatkan kue untuk anak semata wayangnya itu. Apalagi hari ini Winda beserta teman-temannya akan melaksanakan kemah di Puncak. Winda memang sangat suka dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan alam.Kesukaannya ini berawal dari film Petualangan Sherinayang sering ia tonton semasa kecilnya. Dari kecil ia sudah terbiasa mengikuti kegiatan perkemahan di sekolahnya. Pernah sesekali Ibunya melarang Winda mengikuti kegiatan perkemahan di luar kota, karena khawatir dengan dirinya. Namun Winda malah menangis selama seharian. Sejak saat itu, Ibunya selalu mengizinkan dirinya mengikuti kegiatan perkemahan. Asalkan Winda berjanji tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Winda tampak semangat mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Dinginnya udara pagi tak dihiraukannya lagi, seakan-akan ia telah berteman baik dengan udara dingin yang selalu menemani di pagi hari.

Matahari perlahan demi perlahan mulai merangkak naik, Winda sedang sibuk mengamati barang bawaannya dengan sangat teliti. Satu per satu ia amati. “Hah… beres semuanya”, pikirnya dalam hati. Matahari menerangi bumi beserta seluruh isinya. Cahayanya tampak terang mengawali hari yang cerah itu, seakan memberikan semangat lebih kepada Winda. Suara ayam berkokok dan kicauan burung-burung saling bersahutan seakan-akan mengiringi sang surya bangun dari peraduannya. Semilir angin meniup dedaunan kering di pohon, yang kemudian jatuh dan berserakan di tepi jalan. Dilihatnya jam pada smartphone yang sedari tadi digenggamnya. “Sudah jam tujuh pagi, kemana mereka?” gerutunya dalam hati. Tak lama kemudian, dari ujung jalan terlihat beberapa anak remaja berjalan menuju rumah Winda. Mereka mengenakan seragam pramuka lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Masing-masing dari anak remaja itu menggendong sebuah tas ransel besar. Ditangannya terlihat mengenggam sebuah tongkat yang berwarna merah putih. Salah satu diantaranya memanggil nama Winda, sambil melambaikan tangan ke arah Winda yang sedari tadi mondar-mandir di teras rumahnya. Seperti satpam kompleks yang sedang mengawasi keamanan lingkungannya.

“Kalian dari mana aja sih… Sudah jam berapa ini?” kata Winda kesal.

Rupanya mereka Roni, Rona dan Dandi. Mereka adalah teman sekelas Winda. Kemarin sehabis pemberitahuan dari Bu Rini, mereka berkumpul di rumah Winda untuk menentukan apa saja yang harus dibawa dalam perkemahan ini. Mereka sepakat untuk berangkat ke sekolah bersama-sama, dan berkumpul di Rumah Winda.

“Ini semua gara-gara semua Rona, Win.” Jelas Dandi.
“Iya Win, Rona ini lama bener, tadi pake acara dandan lagi”, kata Roni.
“hehehe… iya maaf ya Win kami datang terlambat” kata Rona.
“Kamu sih pake dandan segala, memang di sana ada yang mau ngeliatin kamu” Kata Roni menggoda Rona.
“Jelas dong… Aku kan yang paling cantik di sini” Sahut Rona.
“huuuuuuuu”, sorak mereka bertiga.
“Sudah.. sudah siang ayo kita berangkat” kata Dandi.
“oke… ayo kita berangkat sekarang”kata Winda semangat.
“Ayoo”kata mereka serempak.
***
Winda beserta teman-temannya telah tiba di sekolah. Terlihat beberapa anak berpakaian pramuka lengkap, sedang berkumpul di halaman sekolah. Beberapa diantaranya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang terlihat sedang merapikan barang bawaaanya, ada yang lagi bercermin merapikan baju dan topi yang ia kenakan, dan yang lain ada yang sedang menggambar menghabiskan waktu untuk menunggu mobil bis datang. Di koridor sekolah, terlihat beberapa tumpukan tas, tongkat pramuka, dan beberapa perlengkapan lainnya.
Terdengar suara Bu Rini dari mikrofon sekolah. Ia memberitahu bahwa siswa-siswa yang mengikuti perkemahan segera berkumpul di halaman depan tiang bendera. Siswa-siswa bergegas berkumpul di halaman sekolah. Bu Rini sudah berada di sana, terlihat juga seorang wanita berkacamata di samping bu Rini.
“Sudah berkumpul semua?” kata Bu Rini mengawali.
“Sudah, Buu”, jawab anak-anak serempak.
“Baik… Hari ini kita akan mengadakan perkemahan di Puncak. Selama tiga hari kita berada di sana”, Jelas Bu Rini.
“Horeeeeee…..”, kata para siswa.
“Oh yaa.. Di sebelah Ibu ini adalah Ibu Pipit, pembina pramuka dari sekolah lain. Dialah yang mengajak sekolah kita untuk ikut berkemah di puncak”
“Dan dia juga nanti akan membantu kita di sana. Beliau sudah sering mengadakan kegiatan perkemahan di Puncak. Jadi beliau sudah hapal benar bagaimana kondisi medan di sana” jelas Bu Rini.
“Lalu surat izin dari orang tua kalian, harap segera dikumpulkan ke Ibu”, seru Bu Rini.

Mendengar hal itu, para siswa lalu bergegas mengumpulkan surat izin yang telah ditandatangi oleh orang tua mereka kepada Ibu Rini. Sebelum membubarkan barisan, Ibu Rini membagi para siswa ke dalam beberapa kelompok dan terdiri dari 5- 6 orang. Dan masing-masing kelompok itu akan didampingi oleh guru yang ikut dalam kegiatan itu. Winda, Rona, Dandi, dan Roni menjadi satu kelompok, ditambah oleh dua siswa lainnya. Kelompok Winda akan di dampingi oleh Bu Rini. Tak lama kemudian, bis yang akan mengantarkan mereka ke Puncak datang. Seluruh siswa memasukkan barang bawaannya ke dalam bis. Satu per satu siswa perlahan-lahan memasuki bis. Di dalam bis, terlihat masing-masing dari ketua kelompok mengabsen para anggotanya. Setelah dirasa cukup, mereka pun segera pergi. Mobil bis perlahan-lahan meninggalkan sekolah.

****
Burung-burung berkicauan, terhampar rerumputan hijau bagaikan permadani yang menutupi bukit-bukit kecil. Terlihat tenda-tenda telah berdiri di bumi perkemahan itu. Winda dan teman-temannya terlihat tengah sibuk mendirikan tenda. Di sana juga terlihat anggota pramuka dari sekolah lain. Hutan yang masih asri seakan menjadi background tempat mereka berkemah. Sungguh panorama yang mengesankan. Bu Rini dan Bu Pipit beserta dengan guru pendamping lainnya terlihat sedang mendiskusikan kegiatan yang akan mereka lakukan di bumi perkemahan ini. Bu Pipit menyarankan jika malam nanti akan diadakan jelajah hutan. Dan masing-masing kelompok siswa akan didampingi oleh dua orang guru. Guru lain pun sepakat dengan pendapat yang disarankan oleh Bu Pipit. Bu Rini ingin mengecek kondisi jalanan yang akan dilalui oleh para siswa nanti malam. Karena Bu Pipit sudah beberapa kali melakukan perkemahan di sini. Bu Rini mengajak Bu Pipit untuk ikut bersamanya.

Bu Rini dan Bu Pipit melewati jalanan tanah merah. Mereka memilih rute yang mudah dilewati oleh siswa. Sekeliling jalanan itu dipenuhi dengan hutan belantara. Di arah kejauhan, Bu Rini melihat ada sebuah rumah kosong yang berada tepat di tengah hutan itu. Ibu Rini menanyakan rumah itu kepada Bu Pipit. Bu Pipit menjelaskan rumah itu dulunya didiami oleh penduduk asli hutan ini. Namun, setelah pemiliknya pergi rumah itu dibiarkan begitu saja. Karena penasaran dengan rumah itu, Bu Rini ingin memasuki rumah tua itu untuk melihat bagian dalamnya. Belum sempat Bu Rini mencapai rumah itu, Bu Pipit sudah mengajak Bu Rini kembali ke perkemahan karena hari sudah mulai gelap. Dilihatnya keadaan sekitar, Bu Rini merasa memang hari sudah mulai gelap. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melihat bagian dalam rumah tua itu dan bergegas kembali ke tenda.
****

Di malam harinya, Winda dan teman-teman berkumpul untuk mendengarkan instruksi kegiatan yang akan mereka lakukan malam ini. Terlihat Bu Rini dan Bu pipit menjelaskan instruksi kepada para siswa. Di dalam hutan, sudah di pasang sebuah tanda panah sehingga anak-anak tidak akan kesasar di dalam hutan tersebut. Setelah mendengar penjelasan, satu per satu kelompok memasuki hutan dengan didampingi oleh gurunya. Kelompok Winda mendapat giliran terakhir memasuki hutan itu. Bu Rini menjadi pendamping kelompok Winda.

Setelah beberapa lama, satu demi satu kelompok telah berhasil kembali ke tenda. Tinggal satu kelompok lagi yang belum kembali, yaitu kelompok Winda dan teman-temanya. Guru dan siswa lainnya mulai merasa khawatir karena malam sudah semakin larut. Dari arah dalam hutan, terdengar seseorang minta tolong. Ternyata itu suara Dandi dan Roni, teman sekelompok Winda. Dandi menjelaskan bahwa Rona telah hilang di dalam hutan. Ia menjelaskan saat Rona ingin buang air kecil di Hutan. Winda menemani dirinya mencari tempat. Namun, setelah ditunggu beberapa lama, Rona tidak datang kembali. Winda kembali seorang diri. Menurut Winda, ada seseorang yang mengawasi mereka ketika pergi mencari tempat untuk buang air tadi. Para Guru menanyakan dimana keberadaan Bu Rini. Bu Rini bersama Winda sedang mencari Rona di dalam hutan. Kami diperintahkan Bu Rini untuk mencari bantuan. Mendengar hal itu, Salah seorang guru menelepon polisi hutan untuk meminta bantuan. Setelah itu, Para guru lainnya pun memasuki hutan untuk mencari keberadaan Rona.

“Rona… Rona… Rona..” teriak Bu Rini. Winda mengikutinya dari belakang. Terlihat cahaya dari arah kejauhan. Ternyata cahaya itu berasal dari senter guru lainnya. Bu Rini melambaikan tangan ke arah mereka. Bu Rini menceritakan kembali peristiwa yang mereka alami. Diamatinya jalanan setapak yang dilalui Winda dan Rona tadi. Dandi menemukan sebuah bros di semak-semak. Bu Rini mengamati bros itu, ia sepertinya pernah melihat bros itu sebelumnya. Ia mencoba untuk mengingat tapi tetap tak ingat juga. Malam sudah semakin larut, Bu Rini melihat arlojinya. Jam di arlojinya sudah menunjukkan pukul dua pagi. Bu Rini menyarankan untuk berpencar supaya lebih cepat untuk menemukan Rona. Mereka pun akhirnya sepakat untuk berpencar menyusuri hutan itu.

“aaaaaaa.. Tolong” terdengar suara minta tolong. Para guru mencari sumber suara. Ternyata itu suara dari Bu Rini. “Winda.. Hilang”, katanya. Pada saat Bu Rini dan Winda mencari Rona, sepertinya ada seseorang yang mengawasi mereka. Dan tiba-tiba Winda menghilang. Dari arah kejauhan, terdengar suara minta tolong. “ itu suara Winda”, kata Roni. Bu Rini dan guru lainnya pun bergegas mendekati suara itu. Terlihat seseorang berlari dengan menggendong seorang anak perempuan. “itu dia”, seru Roni. Roni dan para guru mengejar orang misterius itu. Roni mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya ke arah orang misterius itu. Lemparan Roni tepat mengenai pundak orang misterius itu, ia pun jatuh tersungkur. Para guru mendekatinya, dilihatnya dua orang terjatuh. Salah seorang diantaranya adalah Winda. Satunya lagi memakai topeng. Bu Rini membuka topeng dan tenyata orang dibalik topeng itu adalah Bu Pipit. Ia berniat untuk menculik Winda. Bu Rini pun menanyakan keberadaan Rona, karena tidak dapat mengelak lagi. Akhirnya ia memberitahukan keberadaan Rona. “Saat ini Rona berada di rumah tua, aku menyekapnya di sana”, kata Bu Pipit. Bu Rini menanyakan kenapa Bu Pipit sampai tega melakukan pekerjaan kotor seperti itu. Ia menjelaskan gaji sebagai pembina pramuka tidak mencukupi kehidupannya. Terlebih lagi, anak Bu pipit saat ini tengah sakit keras, dan membutuhkan biaya yang sangat banyak. Oleh karena itu, ia mencoba untuk menculik Rona dan Winda, nantinya kedua anak itu akan dijualnya. Bu Rini mengamati baju Bu Pipit, ia melihat ada bagian baju Bu Pipit yang sobek, diambilnya bros yang ditemukannya tadi. Ternyata bros itu milik Bu Pipit.

Hari mulai terang, matahari pun perlahan-lahan mulai merangkak naik. Cahaya matahari menembus hutan belantara itu.Tidak lama kemudian terlihat polisi hutan datang dan menangkap Bu Pipit.Bu Rini dan polisi pun langsung pergi menuju rumah tua tempat Rona disekap. Mereka mendapati Rona di dalam rumah tua itu. Kini semua misteri dipuncak itu telah selesai dipecahkan. Bu pipit juga sudah ditangkap dan ditahan oleh pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Bu Rini berserta anak-anak kembali ke tempat perkemahan. Di sana, terlihat para orang tua yang khawatir dengan kondisi putra-putri mereka.Para orang tua merasa bahagia melihat anak-anaknya selamat dari peristiwa itu. Bu Rini dan para orang tua pun meninggalkan bumi perkemahan itu. Sadai, 13 November 2017.

No Response

Leave a reply "Misteri di Bumi Perkemahan"