Mewujudkan Pendidikan Nilai dan Karakter

  • Whatsapp

Oleh: Alvador Manik, S. Th
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kab. Bangka

Di era masa kini, kemajuan IPTEK sangat cepat berkembang, siapa menguasai teknologi, maka Ia akan dapat bertahan dan memiliki modal untuk bersaing. Tetapi, barang siapa yang tidak mampu menguasai IPTEK, maka Ia akan tergilas oleh kemajuan zaman. Untuk itu, dalam rangka mempersiapkan genererasi muda milenial yang mampu bersaing, maka generasi muda perlu dipersiapkan sejak dini, salah satunya dengan Pendidikan yang kuat.

Pendidikan yang baik dan bermutu merupakan pasport untuk meningkatkan harkat dan martabat seseorang. Melalui pendidikan yang bermutu dan bermakna kita dapat membangun masa depan yang lebih baik. Atas dasar keyakinan inilah persoalan pendidikan merupakan salah satu persoalan sangat urgen yang harus mendapat perhatian banyak pihak. Pendidikan holistic dan bermakna menuju masa depan Indonesia merupakan harapan, sehingga menjadi topik yang menarik dan tema refleksi yang penting dalam konteks kondisi pendidkan kita yang masih carut marut.

Pendidikan holistik dan bermakna menuju masa depan Indonesia merupakan sebuah harapan bahwa melalui pendidikan yang bermakna akan dapat mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik dan sejahtera, sesuai dengan cita-cita Proklamasi kita. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Bermakna? Apakah ada pendidikan yang tidak bermakna? Apakah pendidikan di sekolah yang marak terjadi kekerasan dan pelecehan seksual itu tidak bermakna?

Dalam setiap proses pendidikan diharapkan sekurang-kurangnya ada makna yang diperoleh peserta didik, dari tidak tau menjadi tau (change). Masalahnya adalah proses pendidikan itu sendiri belum berjalan sesuai dengan harapan dan hakekat pendidikan untuk membimbing anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas seutuhnya. Artinya, pendidikan bermakna yang di cita-citakan belum berjalan menghantarkan peserta didik mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan terampil serta berkepribadian, berbudi pekerti yang luhur.

Gagasan pendidikan bermakna menjadi sebuah harapan, karena kondisi pendidikan kita dewasa ini belum berhasil membimbing anak pada makna yang sejati. Pendidikan kita banyak digegoroti oleh ideologi pasar dan makna sempit pendidikan, sekedar membuat anak tahu dan terampil dalam bidang tertentu, sehingga secara perlahan-lahan terjadi pergeseran makna pendidikan berubah menjadi sebuah lembaga pelatihan yang mampu menyiapkan peserta didik agar terserap dalam dunia kerja industri (Antonio Gramsci). Kondisi pendidikan kita semakin diperparah oleh kuatnya arus dan ideologi pasar industri yang secara intensif dan sistematis menggerogoti pengelolaan pendidikan kita, sehingga muncul komersialisasi, privatisasi dan liberalisasi pendidikan.

Lembaga pendidikan kita perlahan-lahan kehilangan rohnya, dan lulusan pendidikan kita pun kehilangan makna dan nilai terdalam dari tujuan hidupnya. Hal ini terindikasi dari out put lembaga pendidikan tinggi kita cenderung wawasan keilmuannya yang sempit, moralitas, karakter yang rendah, cenderung larut dalam kehidupan yang pragmatis, hedonis dan materialistis.

Pendidikan bermakna pada dasarnya bertujuan untuk membimbing peserta didik agar dapat menjalani dan memaknai kehidupan. Maka ada sekurang-kurangnya tiga tujuan pendidikan bermakna yang harus dicapai oleh preserta didik: yaitu kemampuan untuk dapat hidup secara mandiri, hidup secara bermakna dan kemampuan untuk hidup dengan mengembangkan kehidupan. Tujuan pendidikan sangat berat dan tampaknya belum berhasil dijawab oleh sistem pendidikan nasional kita (Mochtar Buchori, 2006 ). Bila kita lihat lebih jauh bagaimana pendidikan bermakna di atas dapat terwujud dalam proses pendidikan kita.
Pertama, kemampuan untuk dapat hidup secara mandiri. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah diharapkan dapat membuat seseorang mampu untuk menghidupi diri sendiri. Kemampuan ini dapat terwujud melalui cara-cara yang menghormati arti dan makna kehidupan, martabatnya sebagai pribadi yang luhur dan mulia. Hal yang memprihatinkan, tidak jarang output lembaga pendidikan kita terpaksa harus menjual harga dirinya yang suci dan mulia untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dan masih banyak juga output lembaga pendidikan tinggi kita yang belum mampu hidup secara mandiri (alias penganngguran), sehingga menjadi beban masyarakat.
Kedua, hidup secara bermakna. Membangun hidup secara bermakna tidak cukup diperoleh melalui lembaga pendidikan formal di dalam kelas. Membangun hidup secara bermakna membutuhkan proses dan pergumulan panjang, sebab setiap komunitas terkadang memiliki ukurannya sendiri mengenai hidup bermakna, dan sangat ditentukan values yang mendasari hidup setiap individu dan kelompoknya. Bagi sekelompok orang hidup bermakna dilihat dan dinikmati melalui harta, uang banyak dan kedudukan yang tinggi, tapi bagi sekelompok orang termasuk penulis, hidup bermakna dapat diukur melalui sebuah cara hidup yang memberikan arti dan makna bagi banyak orang (Man for Others). Ia menjadi “guru” dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya.
Bagaimana proses pendidikan kita dapat mengembangkan pendidikan bermakna. Salah satu model pendidikan berbasis Contextual Teachng and Learning (CTL) peserta didik sejak dini dilatih dan dibiasakan berpikir reflektif. Pembelajaran berbasis CTL relevan dalam menumbuhkan pendidikan bermakna karena dikaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik secara riil dan kemampuan didasarkan atas pengalaman, dan perilaku siswa/mahasiswa dibangun atas kesadaran diri. Pembelajaran menjadi bermakna karena pemahaman, relevansi dan penghargaan pribadi peserta didik bahwa ia berkepentingan terhadap konten yang harus dipelajari. Dan Pembelajaran dipersepsi relevan dengan hidup peserta didik, sehingga mereka mampu melihat relevansi apa yang dipelajari dengan tuntutan kondisi kehidupan kini dan di masa depan.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui, dialami dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Model pembelajaran berbasis CTL ini dapat membangun pendidikan yang transformatif, menumbuhkan spiritualitas, dan nilai-nilai kehidupan serta responsif terhadap budaya, kearifan lokal yang ada dalam setiap komunitas, masyarakat yang plural. Pendidikan bermakna, terbuka pada konteks pluralisme budaya, agama, dan kondisi sosial, sehingga terbangun sebuah dialog kehidupan (interreligous dialog) dalam bingkai religiositas yang memerdekakan. Dengan demikian pendidikan bermakna dapat membuat setiap peserta didik mampu untuk hidup bersama (learning to live togethter), berubah (change) peka dan peduli dengan realitas kehidupan di tengah masyarakat, terbuka berdialog dengan kehidupan, kini dan di masa depan.
Ketiga, kemampuan untuk hidup dengan mengembangkan kehidupan. Hidup dan mengembangkan kehidupan yang luhur dan mulia merupakan tugas dan panggilan setiap manusia sebagai citra Allah. Panggilan ini bukan saja menjadi tugas lembaga pendidikan kita di sekolah. Sekolah diharapkan dapat menghantar peserta didik mampu hidup di tengah masyarakat dengan komitmen untuk mengembangkan kehidupan; menghargai kehidupan (pro life) dan memuliakan kehidupan itu sendiri melalui tugas dan karya di tengah masyarakat.
Mengembangkan kehidupan bukan sekedar pro-kreasi, tetapi juga mendidik anak menjadi dewasa dan mandiri sehingga bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki integritas moral yang tinggi. Maka, lembaga pendidikan, di masa depan diharapkan tidak sekedar mendidik anak pintar, mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mampu untuk hidup dan mengembangkan kehidupan itu sendiri. Makna yang amat penting dari pendidikan adalah menghantar kaum muda untuk menjadi lebih sadar akan martabatnya sendiri dan tugasnya untuk ikut aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Untuk itulah setiap lembaga pendidikan diharapkan memiliki keunggulan komparative (Comparative Advantage) dalam pembinaan pribadi manusia agar menyadari tujuan akhir hidupnya dan panggilan serta perutusannya yang hakiki memajukan kehidupan di tengah masyarakat.
Lembaga pendidikan kita sangat penting menegaskan kembali secara jelas makna hakiki pendidikan di sekolah, yaitu menjamin pembentukan watak yang kuat, memberikan pelayanan hakiki dan istimewa melalui dialog kebudayaan yang menyumbang pada pembentukan manusia seutuhnya. Sekolah merupakan tempat di mana diharapkan pembentukan manusia secara holistic terjadi melalui pertemuan hidup dan warisan budaya. Maka tugas formal sekolah, sebagai lembaga pendidikan ialah menampilkan dimensi etik, membangkitkan harapan dan membantu pencapaian kebebasan moral melengkapi kebebasan psikologis. Sekolah menolong para murid agar mampu mengintegrasikan iman, ilmu dan kebudayaan melalui pengajaran; menyatukan keterampilan, pengetahuan, metode-metode intelektual dengan sikap moral dan social, (Gravissimum Educationis).
Memperhatikan maraknya masalah kekerasan di lingkungan sekolah, merupakan cermin kegagalan lembaga pendidikan dalam mewujudkan pendidikan nilai dan karakter. Sekolah cenderung mengajar, bukan mendidik, dan sebatas memperkenalkan nilai-nilai kepada siswa. Hanya sekolah yang memiliki kesadaran diri, kepercayaan diri dan jati diri, dan setia menjalankan tujuan sejati pendidikan yakni pembentukan pribadi manusia yang utuh, mewariskan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mampu dan dipercaya masyarakat mengembangkan karakter kolektif di antara siswa. Sebab, setiap sekolah dan kampus harus berusaha membentuk pribadi-pribadi yang mantap dan bertanggungjawab dan sanggup memilah secara bebas dan benar akan arti dan makna hidup yang sebenarnya. (***).

Related posts