Mewujudkan Kesetaraan Aksesibilitas Bagi Penyandang Disabilitas

  • Whatsapp

Oleh: Syahrezy Fajar
Mahasiswa STISIPOL Pahlawan 12 Sungailiat-Bangka

Pada hakikatnya, tak ada manusia yang benar-benar sempurna secara utuh. Kesempurnaan yang dijadikan rujukan oleh mayoritas orang biasanya hanya didasarkan pada fisik dan mental yang merefleksikan indikator normal dalam tubuhnya berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu, ketika ada sebagian orang atau sering disebut sebagai kaum minoritas yang tak memiliki keberuntungan dalam fisik ataupun mental, maka akan memunculkan stigma bahwa orang tersebut tidak bisa apa-apa dan cenderung menyusahkan saja. Melihat kondisi dan situasi dimana penyandang disabilitas di seluruh dunia sangat rentan mengalami tindak diskriminatif dari orang-orang disekitarnya. Hal ini membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berinisiatif untuk memberikan pengetahuan serta menambah wawasan kepada masyarakat global mengenai persoalan yang berkaitan dengan disabilitas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menetapkan hari khusus Disabilitas Internasional yang ditetapkan melalui Resolusi Dewan PBB Nomor 47/3 Tahun 1992 yang diperingati setiap tanggal 3 Desember beberapa waktu yang lalu.

Pemerintah Indonesia sudah semestinya memberikan dan menjamin akan terpenuhinya hak-hak mereka seperti kesetaraan akses pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. Penyandang disabilitas pada dasarnya tidak mengharapkan belas kasihan, karena yang paling mereka butuhkan saat ini adalah perlakuan dan kesempatan yang sama seperti manusia normal pada umumnya. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia pada saat ini telah banyak “menelurkan” instrumen kebijakan yang berkaitan dengan hak-hak penyandang disabilitas, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan hingga pekerjaan. Misalnya, yang terdapat pada Undang-Undang No 19 Tahun 2011 tentang konversi hak-hak penyandang disabilitas serta yang terbaru yakni Undang-Undang No 18 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Akan tetapi, timbul fakta baru yang menunjukkan bahwa pada praktiknya masih banyak penyandang disabilitas yang belum terpenuhi hak-haknya. Ini terlihat dari tingkat kesejahteraan sosial yang masih sangat rendah di kalangan penyandang disabilitas.
Berdasarkan data Pusdatin Kementerian Sosial RI pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sekitar 74% atau 1.038.579 penyandang disabilitas tidak bekerja sama sekali dari total 1.389.420 penyandang disabilitas di Indonesia pada tahun tersebut. Fakta yang tentunya akan melahirkan sebuah ironi dimana mayoritas penyandang disabilitas memiliki partisipasi yang sangat rendah di bidang pekerjaan. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya yang beragam.
Tingginya angka tidak bekerja di kalangan penyandang disabilitas nampaknya juga dipengaruhi oleh rendahnya akses mereka terhadap dunia pendidikan. Dari sumber yang sama juga menunjukkan bahwa lebih dari 50% penyandang disabilitas bahkan tidak sekolah atatu tidak tamat SD. Hal inilah yang kiranya menjadi faktor dominan yang menyebabkan rendahnya penyerapan tenaga kerja di kalangan ini. Selain itu, stigma yang telah melekat dalam persepsi kebanyakan orang dengan menganggap penyandang disabilitas diyakini belum cukup mampu dalam menangani pekerjaan manusia normal juga turut menjadi alasan mengapa kaum ini tampak didiskriminasi orang-orang dalam bidang pekerjaan. Oleh sebab itu, peran pemerintah dalam mensejahterakan dengan mewujudkan kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas di segala aspek kehidupan merupakan suatu keharusan. Selain itu, masyarakat yang notabene terlahir “sempurna” juga harus belajar menghargai dan menghormati mereka. Meskipun, para penyandang disabilitas memiliki beberapa kekurangan dalam tubuhnya, namun hal itu tidak boleh memunculkan asumsi negatif kita terhadap mereka.
Penyandang disabilitas merupakan manusia biasa sama seperti halnya kita dimana sudah sepantasnya kita menghargai, menghormati dan ikut serta dalam memperjuangkan terpenuhinya hak-hak mereka. Mereka dapat kita asumsikan sebagai orang-orang yang tidak beruntung karena berada di posisi yang seperti itu. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa hidup layaknya orang normal seperti sekolah, bekerja dan sebagainya. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita “memanusiakan” mereka bukan malah mencampakkan mereka. Berbagai kekurangan dan kesalahan secara alamiah telah menjadi bagian dalam hidup kita. Terkadang kekurangan itu muncul dan tumbuh tak terkira.
Namun, hal yang paling penting dari esensi sebuah kehidupan adalah keinginan serta tekad yang kuat dalam menjalani hidup dan berusaha agar tidak mudah menyerah pada situasi dan kondisi apapun. Begitu pun dengan penyandang disabilitas. Support dari kita akan memperkuat tekad dan semangat hidup mereka. Mari kita membuka mata dan telinga masyarakat Indonesia bahwa kita masih memiliki sesuatu yang sangat berharga yang tentunya harus kita jaga. Dan sesuatu yang berharga itu tidak lain dan tidak bukan adalah mereka para penyandang disabilitas yang tak seberuntung kita. Untuk itu, mari kita wujudkan kesetaraan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.(***).

Related posts