Mewujudkan Generasi Melek Literasi

  • Whatsapp

Oleh: Alvira Rachmawati
Mahasiswi S1 Jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Universitas Indonesia

Angka minat baca generasi muda Indonesia semakin tergerus. Krisisnya pecinta buku di kalangan muda memaksa Indonesia terus mengalami keterbelakangan dalam bidang pendidikan. Padahal, semakin tinggi tingkat baca, semakin luas cara berpikir. Kita dapat mengetahui apa yang tidak terlihat lewat membaca. Mirisnya, generasi muda Indonesia selalu berkata siap untuk memajukan bangsa, akan tetapi mereka enggan untuk merealisasikannya. Jika hal itu terus-menerus terjadi, kemajuan bangsa Indonesia akan sangat lambat dibanding negara lain.
Dikutip dari detik.com (05/01/2019), peringkat literasi Indonesia berada di posisi ke- 60 dari 61 negara. Jauh tertinggal oleh Singapura yang berada di posisi ke-36 dan Malaysia di posisi ke-56. Tidak ada api, maka tidak ada asap. Setiap yang terjadi pasti ada sebab, termasuk problematika krisis literasi yang terjadi di Indonesia.
Sejauh Penulis mengamati, ada beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Pertama, sedari kecil anak-anak Indonesia lebih banyak bersimpuh dengan permainan. Hanya sedikit orang tua yang memperkenalkan buku kepada anak-anaknya, terutama bagi orang tua yang bekerja. Karena lelahnya bekerja, mereka lupa mengajarkan kebiasaan membaca. Mereka jarang pula mencontohkan kebiasaan membaca. Padahal, guru pertama setiap anak adalah orang tuanya. Alhasil, anak-anak pun menganggap memiliki kebiasaan membaca tidak penting.
Kedua, rendahnya minat baca anak diakibatkan oleh kurangnya pemanfaatan kemajuan teknologi dalam bidang pendidikan. Sebagian besar anak Indonesia lebih cenderung bermain game online atau berselancar di dunia maya. Sebenarnya, game online dapat bermanfaat jika dilakukan dengan porsi yang tepat. Namun sayangnya mereka justru menghabiskan waktu dan mengabaikan aktivitas membaca. Mirisnya lagi, anak-anak Indonesia lebih bangga menjadi orang tenar karena hal yang tidak edukatif.
Ketiga, pembangunan infrastruktur dan fasilitas yang buruk di sektor pendidikan. Dikutip dari medcom.id (06/07/2018), Wakil Ketua Komis X DPR RI, Hetifah Sjaufudian mengatakan, dari jumlah ruang kelas di seluruh Indonesia, 1,3 juta ruang kelas mengalami kerusakan, dari rusak ringan hingga rusak total. Selain itu, peralatan mengajar yang kurang memadai dan keadaan ruang kelas yang kurang aman semakin menambah titik hitam dalam buruknya fasilitas pendidikan. Amat disayangkan, seharusnya sekolah adalah tempat untuk meningkatkan perkembangan kualitas literasi. Akibat rendahnya kualitas sarana dan fasilitas pendidikan, secara tidak langsung menyebabkan rendahnya literasi anak Indonesia.
Anak yang jarang membaca memiliki cara berpikir yang terbelakang dibanding dengan yang terbiasa membaca. Sebab, anak yang malas membaca hanya memiliki sedikit wawasan dan tidak mampu berpikir kritis. Alhasil, terbentuklah generasi yang krisis potensi. Selain itu, rendahnya minat baca mmenyebabkan rendahnya kualitas diri. Anak akan merasa kesulitan dalam memahami, merespon, atau menguasai berbagai hal.
Tidak hanya berdampak secara langsung kepada generasi itu sendiri, rendahnya tingkat baca berpengaruh pula pada tingkat kemajuan suatu negara. Generasi muda adalah aset untuk mengembangkan kemajuan bangsa. Hasil pemikirannya diharapkan mampu berkontribusi bagi masa depan negara yang lebih baik. Lantas, kalau generasi muda Indonesia malas membaca, lalu siapa yang akan meneruskan pembangunan negara?
Di satu sisi, pemerintah memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Pemerintah harus terus bergerak dalam pembangunan sarana dan prasarana pendidikan yang masih terbengkalai. Selain itu, dalam pendidikan, kurikulum juga menjadi hal yang dipermasalahkan, karena mengalami beberapa kali pergantian. Hal tersebut amat disayangkan, karena perubahan kurikulum tidak dibarengi oeh peningkatan mutu guru.
Kemendikbud melaporkan bahwa rata-rata nasional uji kompetensi guru Indonesia hanya mencapai 53,02, sedangkan standar kompetensi minimal yang ditetapkan yakni 55,0. Hal tersebut semakin mempertegas bahwa kompetensi guru Indonesia rendah. Sebaik apapun kurikulum, jika kompetensi guru tidak ditingkatkan, maka tidak akan ada perubahan pendidikan yang signifikan.
Di sisi lain, orang tua juga memiliki kewajiban dalam meningkatkan literasi anak. Orang tua adalah pendidik utama anak. Layaknya bangunan, anak membutuhkan pondasi yang kuat untuk manggapai cita. Pondasi yang kuat bagi anak adalah pendidikan terbaik sejak dini. Oleh karena itu, pemberian ilmu perdana kepada anak dapat dilakukan dengan mengenalkannya dengan budaya literasi. Setiap orang tua sadar bahwa pendidikan itu penting, namun banyak yang tidak sadar bahwa buku adalah bagian penting dalam perjalanan edukasi anak. Bagaimana pun, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak, karena anak yang hebat terlahir dari orang tua yang hebat.
Mengenalkan literasi sejak dini kepada anak sebenarnya tidaklah sulit. Di masa kini banyak buku bacaan menarik yang disenangi anak-anak. Tidak hanya di ruang belajar, dalam meningkatkan literasi anak dapat dilakukan di banyak tempat, contohnya di halaman rumah, orang tua dapat bercerita menggunakan berbagai media seperti boneka sehingga menarik minat anak dalam mendengarkan.
Ketika sedang bermain, orang tua dapat sekaligus memperkenalkan angka, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan lain-lain. Di saat anak ingin tidur, orang tua mendongengkan anaknya hingga terlelap. Dari hal-hal yang sederhana tersebut, sebenarnya orang tua dapat meningkatkan literasi anak. Sesibuk apapun orang tua, seharusnya tetap memiliki waktu untuk anaknya.
Sebagai warga negara, kita harus menyadari bahwa Indonesia butuh pembaharuan, butuh kemajuan, dan butuh perkembangan menuju arah yang lebih baik. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, pemerintah membutuhkan peran orang tua, guru, dan berbagai pihak lain dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.(***).

Related posts