Merintis Stimulus Positif dalam Pendidikan Kebencanaan di Sekolah

  • Whatsapp

Penulis: Feri Adiasto, S.Kom
Pendidik SMK Negeri 1 Tempilang, Bangka Barat

Malam bertaring, menerjang hingga ke tulang, sakit ini kekal ketika surga dirajah bencana” –Jerinx

Surga sedang dirajah bencana. Nampaknya frasa ini cukup tepat untuk menganalogikan kondisi Indonesia saat ini. Pengakuan Indonesia sebagai serpihan surga yang jatuh ke dunia bukan hanya klaim sepihak masyarakatnya. Fakta terbentang dari Sabang, dataran paling barat Indonesia sampai Merauke dataran paling timur Indonesia. Berbaris-baris hamparan keindahan alam yang menakjubkan, mulai dari pantai dengan gradasi warna air lautnya, kekayaan bawah laut yang memukau, gugusan pegunungan besar dan kecil bersusun indah, padang rumput hijau menyejukan pandangan mata, tanah yang subur, matahari yang selalu hangat menyinari sepanjang tahun dengan suhu normal, tidak panas seperti di gurun dan tak pula beku seperti di kutub.

Namun, surga ini sedang ditutupi kesuraman. Pasalnya, United Nations Secretariat for International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) mengemukakan Cincin Api Pasifik yang menyelimuti seluruh wilayah Indonesia dinyatakan aktif kembali tertanggal 23 Januari 2018. Ditambah data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat dari 1 Januari hingga 14 Desember 2018 terjadi 2.426 bencana.

Sedikit melegakan ketika Willem Rampangelei, kepala BNPB mengatakan bahwa terjadi penurunan jumlah bencana dari 2.862 pada tahun 2017 menjadi 2.426 bencana pada tahun 2018. Di sisi lain, terdapat ironi yang sangat menyedihkan karena penurunan jumlah bencana tidak berbanding lurus dengan jumlah korban bencana. Justru tahun 2018 jumlah korban bencana naik sangat pesat dibandingkan jumlah korban bencana tahun 2017. Korban meninggal tahun 2018 sebanyak 4.231 orang naik melampaui 11 kali lipat dari korban meninggal tahun 2017 yang hanya berjumlah 378 orang. Korban luka-luka tahun 2018 sebanyak 6.498 orang naik hampir 7 kali lipat dari korban luka-luka tahun 2017 yang berjumlah 997 orang. Tak hanya itu, korban mengungsi tahun 2018 sebanyak 9.956.410 orang naik hampir 3 kali lipat dari tahun 2017 yang berjumlah 3.612.630 orang.

Ironi perihal kenaikan jumlah korban bencana yang sangat siginifikan ini bisa jadi merupakan landasan pemikiran Presiden Joko Widodo mencetus pendidikan kebencanaan untuk dipenetrasikan ke dalam kurikulum sekolah, kemudian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan modul pendidikan mitigasi bencana sebagai basic life skills. Artinya, pendidikan mitigasi bencana ini bukan merupakan mata pelajaran baru, melainkan akan diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran tiap-tiap guru di dalam kelas, dan direncanakan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2019/2020. Modul mitigasi bencana yang dikeluarkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dapat di download pada laman http://repositori.kemdikbud.go.id/6107/1/BukuNotesBencana2017.pdf

Selain sajak surga di rajah bencana yang ditulis Jerinx, ada banyak lagu yang melukiskan betapa bencana alam merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan nan menyengsarakan. Seperti lagu Baku Jaga yang dinyanyikan Ungu pasca banjir bandang yang menerjang Manado Tahun 2014. Sebelumnya, banyak lagu sedih lain yang mengabadikan momen bencana alam, sebut saja lagu Berita Kepada Kawan dinyanyikan Ebiet G Ade sebagai bentuk empatinya terhadap meletusnya kawah beracun Sinila Dieng Jawa Tengah Tahun 1979, lagu sedih Indonesia Menangis yang sangat populer dan pertama kali dinyanyikan Sherina pasca Tsunami Aceh Tahun 2004, dan sederet lagu lain bertemakan kesedihan mengabadikan peristiwa bencana alam selama ini. Alih-alih membangkitkan semangat hidup, lagu-lagu sedih di atas justru membuat recovery pasca bencana menjadi sangat lamban. Tenggelam dalam kejadian masa lalu yang sudah terjadi dan berhasil terlewati bukan cara yang bijak untuk menyongsong masa depan.
Setiap orang memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri, tak terkecuali ketika proses evakuasi bencana alam. Oleh sebab itu, individu hendaknya memiliki inisiatif dalam diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri, para siswa yang menyelamatkan diri dengan tenang dan tertib ketika datang bencana dapat menjadi orang yang mempengaruhi masyarakat sekitarnya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan tenang dan tertib pula. Untuk itu, siswa perlu dibekali ilmu secara psikis terkait hal yang terbaik dilakukan dalam menyikapi bencana alam yang akan dan sedang berlangsung nantinya.

Ketakutan ketika alam melakukan komunikasi dengan manusia merupakan perspektif negatif yang selama ini, mengakar harus diubah menjadi perspektif baru. Apa yang kita sebut selama ini sebagai bencana, bukan merupakan kemurkaan Tuhan terhadap manusia melainkan merupakan peristiwa yang terjadi secara alamiah layaknya gerhana, fenomena bintang jatuh, hujan, fatamorgana, dan sebagainya.

Stimulus dalam membentuk pemikiran positif terkait bencana alam dengan “mengagumi” bukan mengutuk proses alam yang terjadi dapat memupuk sikap menerima dengan lapang dada dan tenang ketika ada informasi yang mengatakan bahwa orang-orang harus segera melakukan evakuasi. Sikap tenang ini, menjadi bagian yang penting agar dapat mengambil tindakan tepat berdasarkan situasi kemudian melakukan evakuasi secara tertib.

Stimulus positif akan menghasilkan sugesti yang positif. Ketika kita secara terus menerus mempositifkan diri akan suatu hal yang kelihatannya buruk, maka tubuh seakan dialiri energi baik dan ikut serta untuk membangun perasaan tenang dan rileks dari dalam diri. Persis seperti kata bijak yang populer, kita terbentuk dari apa yang kita pikirkan tentang diri kita.

Stimulus positif hendaknya terus diajarkan guru kepada siswa dengan berbagai cara. Terlebih dahulu, guru harus mendapatkan edukasi psikologis secara holistik oleh para ahli atau profesional dibidangnya yang menghasilkan stimulus pada alam sadar dan alam bawah sadarnya agar terbentuk sikap positif terhadap bencana alam, barulah kemudian guru mentransfer hal tersebut kepada siswa-siswanya. Stimulus positif harus berhasil mengubah perspektif siswa terkait bencana alam. Jika jiwa telah menjadikan peristiwa bencana alam sebagai sebuah “kekaguman” terhadap alam, proses evakuasi dirinya dan orang-orang disekitarnya akan lebih mudah dilakukan dan peluang selamat akan lebih besar. Selain itu, stimulus positif terhadap bencana alam ini juga akan menghasilkan proses recovery pasca bencana berlangsung relatif cepat, mencegah timbulnya trauma mendalam di masa mendatang, sehingga setiap masyarakat yang bersinggungan langsung dengan komunikasi yang dilakukan alam ketika itu bisa menjalankan aktivitasnya kembali secara normal dan tidak melebih-lebihkan keadaan (meratapi nasib) pasca peristiwa tersebut.(***).

Related posts