by

Mereka Menangis Diujung Malam

 

 Karya: Rusmin

Rembulan baru saja hadir. Tanda malam segera tiba. Sinar rupawannya menyinari bumi. Sangat indah. Menterangbenderangkan penghuni bumi. Cahaya bintang di langit mewarnai malam.  Pak RT kaget setengah mati. Jantungnya berdegup kencang. Laksana seperti para koruptor yang terkena OTT KPK. Suara tangisan warga yang didengarnya membuat jantungnya hampir copot.

Tangisan warganya sungguh sangat menyayat hati. Seakan-akan ada sebuah kesedihan yang sangat terasa menembus dinding nuraninya mendengar tangisan itu. Suara tangisan sangat memilukan hati yang mendengarnya. Suara tangisan berbalut kesedihan itu bak koor paduan suara yang sangat harmoni menyambut datangnya rembulan.

“Ada apa ini? Kok kalian semua menangis? Apa kalian tidak dapat jatah beras miskin dari Kelurahan?” tanyanya. “Bukan Pak. Bukan karena itu,” jawab warga sambil terus menangis. “Lantas soal apa kalian sampai mengangis?” tanyanya lagi.

Warga tak menjawab. Hanya menunjuk ke arah rembulan malam yang malam itu cahayanya berlumuran surgawi. “Bulan?” usut Pak RT penuh tanya.  “Kalau begitu, saya mesti melapor kepada Pak RW atas kondisi yang terjadi ini,” ujar Pak RT dalam hati sembari bergegas meninggalkan warganya yang masih terus menangis.

Tangisan warga juga melanda RW. Seolah menular ke RW. Pak RW yang baru pulang nonton Piala Dunia di Pos Ronda sangat kaget mendengar warga di RW-nya menangis. Hampir tiap rumah yang dilewatinya terdengar suara tangisan. Suara tangisan yang berbalur kepiluan bagi yang mendengarnya.

“Kok kalian menangis?” tanya Pak RW penuh dengan nada penuh selidik. “Iya, Pak RW. Kami sedih,” jawab warga dengan nada suara tersekat. “Kenapa kalian sedih? Memangnya kupon pembelian sembako belum kalian terima, ya?” tanya Pak RW. “Bukan soal kupon sembako Pak RW,” jawab warga dengan nada suara yang masih tersekat berbalur kesedihan. “Lalu soal apa?” tanya Pak RW dengan nada kebingungan.

Warga tak menjawab. Hanya jarinya menunjuk ke arah rembulan yang bersinar terang. “Bulan? ” tanya Pak RW. Warga hanya menggangguk. Di kantor Kelurahan, Pak Lurah menerima laporan masuk dari para RT dan RW tentang maraknya tangisan massal yang melanda para warganya. Pak Lurah tampak sangat antusias mendengar laporan yang datang bertubi-tubi dari bawahannya. Wajahnya kadang berkerut saat menerima laporan dari bawahannya.

“Kalau begitu, kita harus cepat melapor kepada Pak Camat sehingga ada langkah antisipasi dan aksi dari Pak Camat,” ujar Pak Lurah sambil mengajak para RT dan RW ke Kantor Kecamatan.
Mereka kaget saat tiba di Kantor Kecamatan. Tampak para Lurah beserta perangkatnya memenuhi aula Kantor Kecamatan. Pak Camat tampak sangat cermat mendengar laporan yang datang bertubi-tubi dari para Lurah beserta perangkatnya tentang tangisan massal yang melanda warganya.

“Saya heran. Kok ada warga yang menangis secara massal pada malam yang teduh ini? Padahal kan besok hari kemenangan tiba. Hari lebaran,” cetusnya usai menerima laporan dari perangkatnya.
“Saya akan segera menghadap Pak Bupati malam ini. Saya akan laporkan kejadian luar biasa malam ini,” kata Pak Camat di hadapan para perangkatnya.

Pak Camat kaget setengah mati saat tiba di Pendopo Dinas Rumah Bupati. Sejumlah Camat telah lebih dulu memenuhi aula Pendopo. Para Camat melaporkan soal tangisan warganya. Pak Bupati tampak seksama mendengar laporan dari para camatnya.

“Saya harus meneruskan laporan ini kepada Pak Gubernur dan minta arahan apa yang harus kita lakukan atas kejadian yang sangat luar biasa ini. Saya yakin Pak Gubernur ada solusi dalam mengatasi kejadian tangisan massal di Kabupaten kita,” jelas Pak Bupati di hadapan para Camat.

Pak Bupati tampak kaget saat tiba di rumah dinas gubernur. Sejumlah Bupati melaporkan topik yang sama dengan yang hendak dilaporkannya. Soal tangisan warga.

“Ini kejadian luar biasa. Dan harus diaksikan dengan tindakan luar biasa pula. Dan saya malam ini akan segera melapor kepada Pak Menteri terkait tangisan massal ini. Jangan sampai Pak Menteri berasumsi, saya dan kita membiarkan aksi massal tangisan warga malam ini,” ungkap Pak Gubernur.

Pak Menteri tampak manggut-manggut mendengar laporan yang masuk dari para Gubernur. Usai semua laporan masuk dari gubernur diterimanya, Pak Menteri langsung ngacir ke Istana.
Tujuannya cuma satu. Melaporkan kejadian luar biasa berupa tangisan massal yang menimpa para warga kepada Pak Presiden. Sejumlah catatan telah disiapkannya sebagai bahan pembicaraan.
“Saya sudah tahu Pak Presiden sebab musababnya para warga menangis massal malam ini,” ungkap Pak Menteri. “Oh, ya. Penyebabnya?” tanya Presiden. “Malam ini kan malam terakhir bulan Ramadan. Para warga sedih karena ditinggal bulan Ramadan,” jelas Pak Menteri. “Ooh…,” jawab Pak Presiden. “Saya pikir para warga mengangis massal malam ini karena saya mau mengakhiri jabatan saya sebagai Presiden,” lanjut Pak Presiden.

Pak Menteri cuma terdiam mendengar jawaban Pak Presiden.
Malam semakin menjauh. Suara takbir mulai berkumandang dari masjid-masjid. Suara takbir yang terdengar sangat religius. Penuh harmoni surgawi. (***)

Comment

BERITA TERBARU