Merdeka Belajar di Mata Guru SMAN 1 Pemali

  • Whatsapp
foto ilustrasi (dok)

Oleh: Vidia Rozalita, S.Pd.

Guru SMA Negeri 1 Pemali

Muat Lebih

 Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditas tidak menjamin mutu. Ini hal-hal yang harus segera disadari. Mengutip perkataan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, menjadi cambuk terutama bagi guru-guru di seluruh Indonesia untuk berbenah dan mempersiapkan generasi milenial saat ini untuk lebih baik. Selain itu, Menteri Pendidikan juga mengemukakan kata-kata sakti yang sangat viral diperbincangkan kaum akademia yaitu #Merdeka Belajar. Tentu saja setelah kata sakti Pak Menteri Pendidikan dikemukakan banyak sekali tafsiran tentang kata tersebut baik positif maupun negatif.

Konsep merdeka belajar yang dikemukakan Menteri Pendidikan diartikan dengan kemerdekaan berpikir yang tentu saja bermula dari guru atau pendidik. Tidak mungkin merdeka belajar akan terjadi pada peserta didik tanpa diawali oleh Guru.  Guru adalah salah satu komponen yang sangat vital dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah, guru juga memiliki peranan penting dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan. Sebagai tenaga kependidikan, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pelajaran kepada peserta didik, akan tetapi guru juga berperan sebagai pendidik, serta harus memposisikan diri secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang tengah berkembang serta tuntutan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendunia. Dengan kata lain bahwa guru memikul tanggungjawab untuk membawa peserta didik, pada tingkat kedewasaan dengan kematangan untuk mengantarkan peserta didik mencapai cita-cita yang di inginkan dengan kecakapan khusus yang di kuasai sehingga menjadi generasi muda yang produktif serta punya nilai jual.

Guru dalam perannya sebagai pengajar, pendidik juga pembimbing yang senantiasa di samping mengajar juga memberikan pengarahan serta tuntunan kepada peserta didik dalam belajar, dimana peserta didik memiliki keunikan dan sangat kompleks terdapat pada masing-masing individu. Dengan demikian, maka guru seyogyanya memposisisikan diri semata-mata demi kepentingan peserta didik sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya. Melalui pelaksanaan program bimbingan yang Guru laksanakan di sekolah, maka akan mempermudah bagi guru untuk mengembangkan proses pembelajaran karena guru akan mengenal peserta didik secara dekat dengan keunikannya sebagai individu, dengan demikian kendala yang terjadi pada peserta didik dapat teratasi.

Dalam konsep merdeka belajar itu sendiri seorang pendidik harus memulai proses interpretasi, refleksi, lalu melakukan proses pemikiran secara mandiri, bagaimana menilai kompetensinya, bagaimana menerjemahkan kompetensi dasar, lalu melanjutkan dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang baik. Jika hal ini dilakukan dengan baik oleh seorang pendidik, barulah kegiatan tersebut ditularkan kepada peserta didik.

Dalam penerapan konsep Merdeka Belajar di SMA Negeri 1 Pemali memberikan tanggapan yang sangat positif. Selama ini, sebagian besar guru di SMA Negeri 1 Pemali dalam menyelesaikan administrasi pembelajaran yang merupakan modal dalam melaksanakan proses pembelajaran tentu sangat membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Walaupun tidak berdampak yang signifikan dalam proses pembelajaran namun sangatlah menyita perhatian.

Sebagian besar guru di SMA Negeri 1 Pemali selama ini, fokus menyusun RPP yang tebal, namun dalam proses pembelajaran yang diterapakan dalam RPP tersebut tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan secara sempurna. Banyak sekali kendala yang terjadi sehingga tak dapat dipungkiri sangat jarang tentunya melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

Selain itu, Guru di SMA Negeri 1 Pemali juga terkadang hanya terjebak pada sistem administrasi pendidikan, sibuk menyiapkan berkas, terjebak pada ketentuan-ketentuan birokrasi, akreditasi, nilai dan ujian yang semua itu hanyalah cara untuk menjadi tujuan dan menjadi prioritas.

Melihat dari apa yang ditawarkan konsep merdeka belajar adalah sebuah prakarsa yang mesti terus dilakukan. Merdeka belajar bukanlah sesuatu yang dibagikan lalu kita berpendapat bahwa semua kita sudah merdeka dalam pembelajaran. Merdeka belajar harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Guru SMA Negeri 1 Pemali juga melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dahulu tebal kini menjadi satu lembar. Tentu ini semua berkat Konsep Merdeka Belajar. Dalam pembelajaran juga kini guru di SMA Negeri 1 Pemali tidak lagi mengejar target yang dipaksakan. Guru di SMA Negeri 1 Pemali juga menyadari belajar itu butuh waktu, atas nama pendidikan tidak pernah berkurang dari berbagai inovasi, semua peserta didik butuh hal yang berbeda dari Guru. Maka kompetensi peserta didik tidak hanya tumbuh di ruang kelas, selebihnya tumbuh dalam lingkungan belajarnya. Kompetensi bukan bersifat individu melainkan kompetensi itu tumbuh bersama lingkungan.

Apabila saat ini, kita boleh merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang cukup satu lembar, mari kita berupaya mengerjakan rencana itu secara utuh dan tanpa cela di ruang-ruang kelas. Selanjutnya, mari kita juga  melapangkan waktu untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan. Temukan celah kekurangannya, pertimbangkan upaya perbaikan, kemudian menerapkannya kembali di ruang-ruang kelas tempat kita melaksanakan pembelajaran. (***)

Pos terkait