Merawat Toleransi dalam Keberagaman

  • Whatsapp

Oleh: Yudi Septiawan
Dosen STISIPOL Pahlawan 12/ KAHMI Institute Babel

Indonesia terkenal dengan negara multikultural dan plural. Dalam keberagaman suku bangsa, budaya, etnis dan agama, Indonesia terbukti mampu bersatu menjadi satu bangsa dan negara yang utuh hingga kini. Maka, agar keutuhan dan persatuan bangsa ini selalu terjaga, toleransi adalah sikap yang paling dituntut dari setiap warga bangsa Indonesia.

Lalu apakah toleransi itu? Meminjam pemikiran Franz-Magnis Suseno (1998: 11), toleransi adalah sikap menerima dengan kepenuhan hati akan keberadaan setiap warga bangsa Indonesia dengan seluruh perbedaan latar belakang agama, suku bangsa dan budaya yang dimilikinya. Dalam arti itu, harmoni dalam hidup keberagaman hanya mungkin terwujud jika sikap toleransi secara konsisten diterapkan. Bahkan lebih dari itu, toleransi adalah suatu kebiasaan; bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang menerima keberagaman dengan penuh ketulusan. Toleransi adalah gaya hidup ciri khas bangsa Indonesia.

Dalam hidup keberagaman, sekali lagi, toleransi merupakan syarat yang mesti dipenuhi untuk memelihara dan melindungi tidak saja keberagaman, tetapi persatuan itu sendiri. Dengan kata lain, persatuan negeri ini hanya mungkin terjaga jika keberagaman identitas primordial setiap warga bangsa Indonesia sepenuhnya diakui dan diberi ruang untuk mengembangkan diri. Dan kondisi itu, sepenuhnya bergantung kepada kesadaran setiap warga bangsa untuk terus bersikap toleran. Itu artinya, semangat menerima perbedaan dalam sikap toleransi adalah sebuah modal dasar bagi setiap orang dengan segenap keunikan identitasnya dapat hidup baik merealisasikan dirinya.

Namun, pokok pengertian toleransi pada tataran penerimaan oleh salah satu pihak, jika dicermati lebih seksama, tidaklah mencukupi. Terciptanya harmoni karena salah satu pihak menerima keberadaan yang lain, mesti pula diimbangi dengan sikap menghargai penerimaan yang diperoleh dari pihak lain. Masing-masing pihak perlu saling menerima keberagaman dan disitulah letak kekuatan toleransi yang sebenarnya agar dapat membuahkan kehidupan bersama yang selaras. Itu pula yang menjelaskan mengapa toleransi merupakan sikap mendasar yang harus selalu ada dalam hidup keberagaman. Namun, dalam arus sebaliknya, toleransi tidak bermakna apa-apa dan kehilangan daya relevansinya jika yang dituntut adalah keseragaman dan kesamaan identitas. Azyumardi Azra, dalam tulisannya “Menjaga Indonesia” menegaskan, dari himpunan keberagaman primordial yang sangat kompleks dapat terbangun suatu bangsa dan negara Indonesia yang satu, sebenarnya adalah suatu keajaiban yang hanya dapat terus memancarkan sinarnya jika ditopang oleh prilaku toleran setiap insan bangsa untuk memelihara eksistensi persatuan bangsa dan negeri ini.

Oleh karena itu, toleransi tidak cukup diidentifikasi sebagai sebuah sikap, melainkan suatu kesadaran: suatu cara berpikir yang kekhasannya terletak pada kemauan untuk saling menerima dan menghormati perbedaan. Toleransi sangat memerlukan sarana edukasi agar terus terbina sebagai kepribadian khas bangsa Indonesia.yang secara konsisten harus ditanamkan kepada setiap generasi bangsa untuk menjamin persatuan negeri dan bangsa. Hal krusial yang sama sekali tak dapat diabaikan.

Dalam keberagaman diperlukan pengertian. Dan dalam pengertian itulah nilai-nilai toleransi harus diimplementasikan. Karena hanya melalui toleransilah, perbedaan dan keberagaman di Indonesia akan bisa terjaga. Kenapa bisa? Karena dengan adanya keberagaman, interaksi sosial antar masyarakat akan tetap terjaga. Sebagai makhluk sosial, masyarakat dituntut untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya. Saling menyapa ketika bertemu diluar rumah. Dan selalu mengedepankan musyawarah jika terjadi perselisihan dalam lingkungan masyarakat.

Keragaman itu sudah ada sejak republik tercinta ini terbentuk. Masyarakat Indonesia sebenarnya sangat memahami hal ini. Semangat menghargai perbedaan, juga telah ditunjukkan para pendahulu bangsa. Dan karena ada toleransi antar suku ketika itu, tidak ada ego sektoral ataupun ego pribadi. Karena tidak adanya ego, semua pihak sepakat tidak mengusung bahasa atau identitas lokal masing-masing. Karena toleransi ini pula, akhirnya Indonesia lahir. Bukan hal yang berlebihan jika kita mengatakan Indonesia lahir diatas keberagaman.

Dalam perjalananya, Indonesia dianggap berhasil membuktikan sebagai negara dengan keberagaman agama yang harmonis. Inilah yang patut kita syukuri bersama sebagai sebuah bangsa beragam tetapi mengedepankan semangat keagamaan yang toleran. Sayangnya, harmonisasi antar umat beragama itu, akhir-akhir ini dikotori oleh ujaran dan perilaku kebencian. Ironisnya lagi, kebencian itu justru dilandasi karena perbedaan latar belakang termasuk perbedaan agama. Banyak hal yang bisa kita jadikan pembelajaran bersama, agar kekerasan atas nama agama tidak terjadi di negeri ini.

Indonesia begitu indah dengan adanya banyak suku-suku dan keanekaragaman budayanya. Namun, keberagaman tidak hanya dipahami sebagai sebuah teori. Tapi harus diimplementasikan dalam perilaku. Jika kita tidak bisa menghargai perbedaan itu sendiri, mustahil toleransi antar umat beragama akan bisa terwujud. Dan dalam agama apapun di Indonesia, semuanya menganjukan agar semua umat beragama saling menghormati antar sesama. Lalu, jika masih ada elit politik atau tokoh yang mengaku paham agama, tapi perilakunya tidak toleran, tentu hal ini sangat disayangkan.

Perlu di ingat bahwa toleransi tidak sekedar tahu bahwa Jawa itu berbeda dengan Sunda atau suku yang lainnya. Tetapi juga menghargai kenapa Indonesia penuh dengan perbedaan. Toleransi antar umat beragama juga menuntut adanya partisipasi aktif, bukan justru memunculkan sikap acuh tak acuh dalam menyikapi perbedaan. Karena bukan dari suku yang sama, karena tidak memiliki keyakinan yang sama, maka kita tidak akan saling menolong dan menghargai. Mari kita buang sikap yang seperti ini. Ekspresikan toleransi dalam diri melalui ucapan dan perilaku. Dan selamat datang kedamaian, jika kita bisa menjaga dan menciptakan harmoni ditengah keberagaman ini.

Mencermati keragaman di Indonesia memang cukup menarik. Sikap keragaman masyarakat Indonesia memang sudah masuk pada taraf toleransi, yang artinya suatu kecenderungan untuk membiarkan perbedaan itu sebagai fakta sosial yang tidak bisa dihindari. Sikap ini penting karena mengakui keragamaan sebagai kondisi alamiah yang perlu dihargai.

Sementara itu, ada lagi satu sikap keragaman yang tidak sekedar membiarkan adanya keragaman, tetapi juga merawat keragaman itu, yang disebut sikap pluralis. Sehingga sikap toleransi yang masih pada taraf membiarkan perbedaan tidak cukup untuk memupuk sikap harmoni antar umat beragama yang berbeda-beda.

Toleransi itu sikapnya satu tingkat di bawah sikap pluralis. Toleransi masih memahami kondisi keragaman pada level membiarkan dan menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang mutlak ada. Tetapi sikap semacam ini betapapun bagus, tidak cukup bagi merawat kondisi-kondisi keragaman yang begitu banyak memiliki perbedaan antar agama atau kelompok.

Sikap pluralis mengandaikan adanya kemauan yang konsisten untuk saling mengerti atau memahami perbedaan sebagai suatu identitas yang penting bagi penghayatan hidup yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tertentu. Tidak sekedar bagaimana perbedaan itu saling berhadap-hadapan secara harmoni, tetapi juga saling berdialog, mengisi, dan mengormati sebagai satu entitas yang sama pentingnya dengan sikap individualisme golongan tertentu.

Dalam konteks keragaman, sikap pluralis memiliki konsistensi yang tinggi untuk lebih memahami dan mengkaji perbedaan sebagai penghargaan tertinggi bagi adanya keragaman. Berbeda dengan toleransi, sikap toleran masih sangat rentan terhadap konflik dan perpecahan, ia mudah sekali dibelokkan dan dirubah menjadi radikal.

Tetapi sikap pluralis, di samping lebih konsisten, ia tidak mudah untuk dibawa ke sana kemari atas sikap keragaman yang tinggi dalam menghargai perbedaan. Karena kaum pluralis menyadari betul bahwa setiap simbol kebenaran dari agama-agama memiliki nilai yang sama pentingnya dengan apa yang diyakini oleh setiap individu.

Masalahnya adalah di Indonesia ada banyak sekali kelompok-kelompok agama tertentu yang tidak mau mengakui perbedaan sebagai bagian dari keragaman yang ada. Jangankan mengahargai atau saling menjalin dialog, mengakui saja mereka tidak mau. Sikap ini berawal dari ketidakmauan untuk melakukan proses memahami dan menghormati perbedaan tersebut yang dianggap tidak penting.

Sebagai contoh, kehadiran kaum Islamis fanatik semakin meresahkan dan mereka ditengarai telah menghilangkan sikap toleransi keagamaan di Indonesia. Mereka hanya percaya terhadap satu bentuk penafsiran yang baku terhadap kebenaran yang mereka yakini, saling mengklaim kafir, murtad, dan menganggap di luar kelompoknya sudah keluar dari pakem resmi Islam.

Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sikap fanatik mereka telah mengakibatkan adanya keresahan, konflik, gejolak yang sulit dikendalikan, ketegangan, dan benturan di tengah masyarakat. Mereka tidak mau menghargai kebijaksanaan dan kearifan lokal sebagai bagian dari keragaman di Indonesia.

Islam sebagai agama mayoritas yang seharusnya merangkul dan menjaga, justru menjadi biang kerok atas kegaduhan sosial. Meski aksi dan gerakan mereka tidak melahirkan bentrok fisik atau kekerasan, tetapi yang dikhawatirkan adalah ketika keberadaan mereka dimanfaatkan oleh partai politik tertentu yang sangat bersifat pragmatis.

Yang memprihatinkan adalah mereka tidak menyadari bahwa sikap fanatisnya yang berlebih-lebihan itu sebenarnya berdiri tegak karena adanya sikap pluralis dan majemuk di tengah masyarakat kita di Indonesia. Namun demikian, di samping tidak menyadari, mereka justru memusuhi pluralitas yang sebenarnya dari rahim pluralitas inilah mereka dilahirkan. Sehingga mereka menginginkan adanya keragaman yang sudah terjalin secara harmoni menjadi keseragaman.

Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak suku dan agama sudah selayaknya menjaga persatuan dan kesatuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan sangat mudah atau rentan memunculkan konflik. Kita bisa melihat bagaimana kondisi konflik Timur Tengah yang berkepanjangan, konflik antar suku, golongan dan kekuatan politik telah memporak-porandakan wilayah mereka. Kita perlu bejalar dari mereka bahwa betapa pentingnya sikap saling menjaga dan merawat keragaman itu sebagai entitas yang penting dalam kehidupan bersama.

Indonesia adalah rumah kita bersama, keragaman sebagai fakta yang tidak bisa dihindari harus dihormati. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk saling menjaga keragaman ini agar keadaan harmonis antar sesama golongan dan umat beragama dapat dipelihara dan terhindar dari konflik yang tidak seharusnya terjadi.

Indonesia tidak hanya milik satu kelompok atau agama tertentu. Indonesia adalah milik kita bersama, milik orang-orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya. Semua golongan memiliki arti penting dan peran yang sama dalam berpartisipasi dan menciptakan suasana harmonis dalam berkeagamaan.

Ini adalah tanggungjawab kita bersama untuk merawat, menjaga, dan memupuk sikap toleransi yang lebih tinggi sekaligus sikap pluralis agar masa depan Indonesia terhindar dari konflik fanatisme antar golongan yang itu akan merusak tatanan sosial dan diharapkan lebih mampu menjaga perdamaian sesama umat.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya rekonstruksif dari berbagai pihak, baik itu pemerintah dan ormas-ormas untuk lebih peduli dan selalu menanamkan nilai-nilai kebangsaan, merawat dan memperjuangkan budaya toleransi dan kebhinekaan di Indonesia, agar negeri yang kita cintai ini terus damai dan tidak terjerat pada konflik antar golongan di kemudian hari. Semoga.(***).

Related posts