Merah Putih Setengah Hati

No comment 281 views

Langit cerah. Awan ceria berarak di langit yang membiru. Hari ini adalah Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Semua penghuni rumah mengibarkan Sang Merah Putih yang berkibar melambangkan rasa keberanian dan kesucian. Sebuah perpaduan rasa yang amat harmoni. Lelaki tua itu menatap kibaran Sang Merah Putih yang telah dipasangnya usai Shalat Subuh dari mushola dekat rumahnya.
Sudah puluhan tahun dirinya selalu mengibarkan bendera Merah Putih selepas Subuh. Ada rasa kebahagian yang tak terperikan dalam jiwanya saat bendera itu berkibar. Ada rasa patriotisme yang tak dapat ditukarkannya dengan materi saat bendera itu berkibar di halaman rumahnya.
Kini lelaki tua yang sering dipanggil para warga sekitar dengan sebutan Pak Veteran itu, sudah menikmati produk kerja patriotisme mereka puluhan tahun lalu saat dirinya bersama seluruh warga bangsa mengusir penjajah dari tanah air. Kini lelaki tua itu sangat bahagia dengan kerja keras mereka dulu yang dengan semangat 45 dan bambu runcing, mampu mengalah penjajah yang menginjak-menginjak martabat bangsa ini.
“Kerja keras iklhas kami kini terhargai oleh kerja nyata para generasi penerus. Bangsa ini sudah sangat maju sekali,” gumannya dengan suara berdesis disela-sela berdesisnya angin yang bertiup sepoi di pagi yang cerah itu.
Namun dalam seminggu ini, Pak Veteran mulai gelisah. Kedatangan beberapa orang yang katanya perwakilan dari Kota mengusik nurani dan jiwa nasionalismenya. Patriotismenya seolah tergadaikan. Padahal baginya nasionalisme tak dapat diukur dengan uang dan materi. Patriotisme adalah naluri yang lahir dari jiwa raganya sebagai anak bangsa untuk memartabatkan bangsa ini.
“Pimpinan kami ingin menganugerahi Bapak dengan tanda jasa karena Bapak adalah saksi hidup yang masih sehat,” ujar salah seorang perwakilan dari Kota kepadanya.
“Sangat tepat sekali Pak Veteran. Penghargaan ini sangat layak Bapak dapatkan sesuai dengan jasa-jasa Bapak tempo dulu. Ini sebagai bentuk apresiasi yang luarbiasa dari pimpinan untuk Bapak,” sela yang lainnya dengan mimik wajah tersenyum.
“Perlu kalian semua cam kan ya sebagai generasi penerus, bahwa saya dan rekan-rekan berjuang ikhlas. Kami berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan bukan untuk mendapatkan hadiah atau tanda jasa. Bagi kami bangsa ini merdeka adalah penghargaan yang tak ternilai harganya, yang tak dapat kami tukar dengan materi atau uang,” jawab Pak Veteran.
Para tamunya dari Kota terdiam. Mereka seolah-olah dapat sebuah skak maut dari Pak Veteran. Mereka hanya membisu. Tak ada lagi kata yang patut dinarasikan sebagai jawaban. Mereka kikuk sekali.
“Jangan Bapak-bapak menilai perjuangan kami dengan materi atau tanda jasa. Mohon Bapak-bapak mengerti,” lanjut Pak Veteran yang kembali menohok jiwa para tamunya. Lantas tamu itu pun langsung berpamitan pulang dengan hati yang kecewa. Gagal mengemban misi pimpinannya.
Usai tamunya pulang, sejuta kegelisahan melanda jiwa Pak Veteran. Istrinya yang tergolek lemah di kasur yang sudah menipis, setipis uang di kantongnya sungguh membuatnya gelisah. Ada rasa bersalah terhadap istrinya yang setia mendampinginya hingga usia kemerdekaan bangsa sudah seratusan tahun. Ada rasa malu yang mengelayuti nuraninya melihat ketabahan sang istri yang sangat setia mendampinginya di tengah kemelaratan hidupnya.
Saat masih berjuang dulu, dia meninggalkan istrinya berbulan-bulan tanpa sangu. Hidupnya hanya dihabiskan di medan pertempuran hingga 17 Agustus tiba. Dan usai kemerdekaan, dirinya lantas mengabdi di sebuah perusahaan sebagai pegawai dengan gaji yang tak layak untuk makan sebulan. Tapi istrinya masih tetap setia menemaninya hingga kini tergolek di kasur tipis yang sudah berumur puluhan tahun tanpa tergantikan. Pak Veteran sangat malu dengan istrinya.
Siang itu Pak Lurah datang ke rumahnya bersama dengan rombongan petinggi dari Kota yang kembali mendatanginya. Kedatangan Pak Lurah ke rumahnya saat istrinya sudah dalam kondisi kritis.
“Pak Veteran. Kami datang untuk menjenguk Bapak dan Ibu. Apalagi kami dengar kondisi Ibu dalam keadaan sakit,” kata Pak Lurah mengawali narasinya.
” erima kasih Pak Lurah atas perhatiannya. Memang istri saya sakit,” ujar Pak Veteran dengan nada lirih.
“Dan ini Bapak-bapak dari Kota yang diperintahkan pimpinannya untuk mengurus istri Bapak yang sakit. Mohon kedatangan mereka diterima dengan baik. Mereka berniat sangat tulus. Ingin menolong Bapak. Dan bukan mengkonversikan perjuangan Bapak dengan materi atau penghargaan. Mereka datang dengan tulus. Mereka membantu Bapak dengan setulus hati,” ungkap Pak Lurah.
Pak Veteran terdiam. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya yang tajam. Ada rasa sesal dalam jiwanya yang tak mampu membalas kebaikan dan kesetian istrinya selama ini.
Dan sudah tiga hari tiga malam istri Pak Veteran diopname di sebuah rumah sakit terkenal di Kota. Dan sudah tiga malam pula dirinya tinggal disebuah hotel mewah dekat rumah sakit itu. Bantuan yang diberikan petinggi negara membuatnya kini bisa bernafas lega walaupun hatinya masih mengganjal, bahkan sangat mengganjal jiwanya.
Dan Pak Veteran sungguh kaget karena pada suatu malam saat menemani istrinya di ruang rumah sakit terkenal itu, seseorang datang menjenguk istrinya. Seseorang yang amat terkenal dan dihormati di negera ini.
“Pak Veteran. Masih kenalkan dengan saya,” ujar lelaki setengah baya itu sambil menyalami Pak Veteran.
Pak Veteran terkejut. Jantungnya hampir copot. Dia tak menyangka kalau yang datang mengunjunginya adalah anak buahnya yang kini telah menjadi Presiden.
“Siap, Pak Presiden,” jawab Pak Veteran dengan sikap berdiri tegak.
“Saya adalah tetap anak buah Pak Veteran. Lewat bantuan Pak Veteran saya bisa jadi Presiden. Kalau dulu saya tak mengikuti nasehat Pak Veteran, mungkin arah hidup saya tak seperti ini. Tak bisa jadi Presiden. Jadi saya mengucapkan terima kasih atas semuanya. Saya sangat berhutang budi kepada Pak Veteran,” ujar Pak Presiden.
“Dan soal segala bentuk biaya di rumah sakit tak perlu Bapak pikirkan. Saya yang bertanggungjawab. Dan saya juga akan memberikan Bapak sebuah rumah yang layak untuk ditinggali. Termasuk jaminan hidup buat Bapak dan istri. Ini tanggungjawab saya sebagai anak buah dan Presiden. Masa sih komandan Presiden hidupnya susah? Kan malu saya sebagai bekas anak buah yang kini jadi Presiden,” ujar Pak Presiden sembari berseloroh yang diringi tawa Pak Veteran dan beberapa tamu yang hadir di kamar istrinya sehingga suasana menjadi penuh canda tawa, membahana dan menggetarkan kamar.
Malam makin menua setua usia Pak Veteran. Cahaya rembulan makin bening sebening hati Pak Veteran. Sementara di langit-langit kamar rumah sakit sepasang cecak saling berpagutan dan memberi kasih sayang. Sebagaimana kasih sayang Pak Veteran kepada istrinya yang sudah mulai menua seiring zaman yang makin menua.
Dikejauhan malam terdengar suara lagu Rayuan Pulau Kelapa yang sedang dinyanyikan para siswa siswi dengan nada suara sarat patriotisme tinggi terhadap negara ini.

Tanah air ku Indonesia
Negeri elok yang amat ku cinta
Tanah tumpah darah ku yang mulia
Yang ku puja sepanjang masa

Tanah air ku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja Kelana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Air ku
Indonesia (**)

Karya, Rusmin
Toboali, Bangka Selatan, 20 Agustus 2016

No Response

Leave a reply "Merah Putih Setengah Hati"