Menyiapkan Diri Memetakan dan Mengaudit Covid-19

  • Whatsapp
Aning Kesuma Puri, S.E., M.Si
Dosen Program Studi Ekonomi, FE UBB

Bencana dipicu risiko yang disebabkan oleh hazard (bahaya), kerentanan dan kapasitas sosial serta fisik yang tidak memadai. Jenis bencana bisa berbentuk alam dan non-alam. Kalau bencana alam jelas wujud kerusakannya, seperti porak poranda bangunan, air bah, tanah longsor, gesekan tektonik lempeng bumi dan lain sebagainya. Penyelesaian dan penormalan kondisi bisa ditempuh selama dana tersedia untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Lalu, bagaimana bentuk bencana non- alam, terlebih lagi bencana ini sedang dialami hampir semua dunia termasuk Indonesia, yaitu bencana yang disebabkan oleh penyebaran virus berdiameter 400-500 mikrometer, berbentuk mahkota, sehingga disebut sebagai Corona Virus Disease (COVID) yang ditemukan tahun 2019, dan disingkat menjadi COVID-19.

Kekhawatiran semua elemen masayarakat dan jajaran pemerintah terhadap Covid-19 adalah proses penyebaran/transmisinya sangat cepat, terjadi antara manusia ke manusia. Meski tingkat kematian akibat virus ini tidak termasuk ke dalam lima besar penyakit mematikan di Indonesia, tetapi sangat rentan bagi masyarakat berusia lanjut dan memiliki riwayat penyakit kronis. Covid-19 tidak bisa dilihat oleh mata manusia, dengan gejala hampir mirip flue dan demam. Pasien positif terserang virus ini, harus diuji menggunakan rapid test, swab test, dan tes lainnya. Untuk menyediakan berbagai rangkaian tes tersebut, Indonesia masih belum mampu secara finansial memiliki alat-alat tes tersebut, sehingga Covid-19 yang semula dianggap enteng oleh pemerintah sedikit demi sedikit mulai membuat pemerintah kelabakan mengatasi peningkatan jumlah penyebarannya.

Upaya pencegahan sudah dilakukan mulai dari pembentukan gugus kendali Covid-19, sosialisasi jaga kebersihan hingga pemberlakuan PSSB yang nyatanya tidak diindahkan masyarakat. Indonesia yang notabenenya masyarakat bersosial tinggi, tidak akan betah berlama-lama berada di rumah, belum lagi kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat khususnya yang berpendapatan tidak tetap dan menengah ke bawah, belum lagi banyaknya pelaku usaha kecil, menengah dan besar ikut terancam gulung tikar akibat PSBB. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, terjadi pelanggaran PSBB di beberapa tempat. Semua menyalahkan masyarakat yang cuek dan menganggap enteng Covid-19, kemudian pemerintah mulai galau membuka atau menutup jalur transportasi udara, darat dan laut. Semua demi perekonomian, agar pertumbuhan ekonomi masih berjalan, masyarakat masih bisa makan minimal nasi putih dengan telor kecap.

Jika dilihat apa yang terjadi, ya sudahlah semua sudah terjadi, tidak ada efeknya lagi menyalahkan satu sama lain, toh sekarang saatnya kita harus saling bantu, yang kaya harus berbagi dengan yang kurang mampu. Apalagi berdasarkan hasil penelitian Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, Indonesia merupakan Negara nomor satu yang paling dermawan dibanding negara-negara lain. Sikap dermawan inilah yang bisa menyelamatkan perekonomian masyarakat, gotong – royong saling bantu sesama, entah dalam bentuk uang ataupun barang kebutuhan pokok.

Baca Lainnya

Ada pelajaran berharga yang kita dapatkan dari bencana Covid-19, yaitu kita harus mulai membiasakan diri mempersiapkan segala jenis mitigasi bencana. Perlu ada penjaminan penyelenggaraan pengatasan bencana yang terencana, terpandu dan terkoordinasi. Mulai dari lingkup masyarakat sampai lingkup paling atas yaitu pemerintahan. Semua panduan harus disiapkan sebelum terjadinya bencana, pemetaan terhadap bencana ini harus disiapkan secara detail dan mudah diikuti masyarakat. Yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah siap melakukan pemetaan ini? Jawabannya siap tidak siap harus siap.

Pemerintah harus sudah siap mengelola big data berbasis aplikasi yang mudah digunakan masyarakat untuk memantau bencana-bencana yang akan terjadi. Harus ada keterbukaan dan validitas data agar semua elemen mampu mempersiapkan diri menghadapi bencana yang akan terjadi. Mari dimulai dengan cara mengurangi bencana dengan meminimalisir kerentanan dengan mitigasi budaya, gaya hidup, structural dan pengalihan risiko, yang akhirnya bisa meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan. Ada dua basis yang harus diperkuat dalam menjalankan pemetaan resiko, yaitu perkuat community base dan hospital based.
Tingkatkan community base dimulai dari menargetkan RT/RW untuk mensosialisasikan masyarakatnya tentang social distancing, menjaga pola makan sehat beserta vitamin, membuat tempat pencucian tangan dengan air mengalir ditambah dengan sabun, jadikan masker sebagai kebutuhan saat keluar rumah, mendata masyarakat yang rentan terhadap virus, masyarakat wajib melaporkan diri ke RT jika melakukan mobilitas keluar masuk daerah di rumah lebih dari 24 jam. Upaya yang diterapkan dalam community base bertujuan agar tidak ada eksodus besar-besaran masyarakat yang terdampak bencana tersebut.

Base kedua adalah hospital base, berupa peningkatan level rumah sakit yang terdiri peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia medis dan non medis, penyediaan laboratorium, pengadaan obat-obatan, sarana dan prasarana yang sangat lengkap, mewajibkan rumah sakit dan puskesmas memiliki APD, masker, ventilator dan TCM. Pemerintah sudah harus konsen memetakan anggaran dibidang kesehatan. Wajibkan adanya ketersediaan sekolah-sekolah medis di masing-masing Provinsi, berikan beasiswa sebanyak-banyaknya kepada anak-anak kurang mampu yang cerdas untuk bersekolah di bidang medis. Targetkan jumlah tenaga medis minimal di setiap daerah, berdayakan puskesmas beserta sarana prasarananya. Sediakan apotek di setiap daerah bahkan didaerah terpencil sekali pun.
Setelah kedua base diperkuat, maka rancang SOP mitigasi bencana alam dan non-alam, sosialisasikan dan koordinasikan ke semua elemen pemerintah untuk disampaikan ke seluruh masyarakat. Langkah yang tak kalah penting, buat empat jenis peta risiko bencana. Peta pertama disebut sebagai peta kerentanan terdiri dari sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan. Peta Sosial Budaya dimulai dengan pendataan jumlah kepadatan pendudukan per RT beserta persentase masyarakat yang rentan terhadap penyakit Covid-19 (yang bisa dilihat dari riwayat berobat dan riwayat penyakit turunan). Peta Ekonomi dilakukan dengan mendata potensi ekonomi produktif yang ada di RT, dimulai dari lahan produktif maupun kegiatan ekonomi lainnya. Peta Fisik berupa rumah sehat yang terdiri dari tempat pembuangan sampah, toilet bersih dan got pembuangan air limbah rumah tangga, kemudian tersedianya fasilitas umum seperti pasar, sekolah dan lainnya, ditambah fasilitas kritis seperti adanya puskesmas atau dokter keluarga di RT. Sedangkan peta lingkungan terdiri dari lahan hijau dipekarangan rumah warga maupun taman RT.

Peta kedua adalah peta bahaya, terdiri dari probabilitas bencana apa saja yang sering terjadi, sudah harus dimitigas dan dicatat dari awal, kemudian peta intensitas berupa seberapa sering bencana tersebut sering terjadi di daerah. Perlu ada semacam petugas pencatatan probilitas dan intensitas bahaya di setiap kelurahan yang berkoordinasi dengan BMKG Provinsi, paling minimal mulai diaktifkan kembali siskamling yang dulu membudaya di masyarakat Indonesia. Siskamling ini merupakan salah satu sistem mitigasi bencana yang sudah kita tinggalkan padahal sangat efektif dalam membantu pencegahan terjadinya bencana.
Peta ketiga, merupakan peta kapasitas, yang terdiri dari kelembagaan dan kebijakan, peringatan dini, pendidikan, pencegahan dan kesiapsiagaan. Peta kelembagaan dan kebijakan dijalankan oleh Badan Penanggulana Bencana Daerah, forum penanggulana bencana per RT yang dikelolah oleh masyarakat, dan kebijakan penanggulangan bencana dibuat oleh lurah bekerja sama dengan RT/RW. Peta peringatan dini berupa sosialisasi ke masyarakat terhadap apa yang harus dilakukan saat akan dan terjadi bencana, bentuk prosedur harus serius dibuat oleh pemerintah daerah yang lebih mengetahui kerentanan bencana di daerahnya masing-masing. Kemudian jika prosedur sudah ditetapkan, maka bisa disalurkan ke peta pendidikan berupa memberikan kurikulum atau kegiatan ektrakulikuler pencegahan bencana, agar sejak dini, anak-anak sudah sigap dalam mengatasi bencana. Hal ini sudah diterapkan di Jepang, dimana dari TK, anak-anak sudah diberikan simulasi penyelamatan diri dari gempa. Peta pencegahan dibuat dengan tahapan-tahapan mitigasi yang harus dilakukan RT/RW saat terjadi bencana. Hasil rekapan bencana yang sering terjadi di RT/RW harus direkap dan terecord di daerah, sehingga tercipta kesiapsiagaan semua elemen dalam menghadapi bencana.

Peta terakhir adalah dibuatlah rencana penanggulangan bencana, yang mengidentifikasi seberapa tingkat ancaman yang terjadi, kerugian yang akan diperoleh seberapa besar dan kapasitas yang dimiliki apakah tersedia. Tingkat ancaman bisa kita peroleh dengan menghitung indeks bahaya berdasarkan parameter jumlah kasus Covid19 (jumlah positive, PDP, ODP), transportasi (terminal, bandara, pelabuhan, halte, stasiun), tempat ibadah (masjid,gereja, klenteng, pura), tempat perbelanjaan (minimarket, pasar tradisional, departemen store) dan perbankan (bank, ATM). Sedangkan indeks penduduk terpapar berparameter pada kepadatan penduduk, kelompok umur (< 5 dan > 65) dan rasio jenis kelamin yang terpapar. Tingkat kerugian diukur berdasarkan indeks kerugian yang terdiri dari kerugian ekonomi, fisik dan lingkungan. Tingkat kapasitas diukur dari indeks kapasitas pemerintah yang parameternya dilihat dari fasilitas rumah sakit (RS) terdiri dari jumlah kamar dan sarana prasarana lainnya, puskesmas, fasilitas kesehatan lainnya salah satunya klinik, beserta kesiapsiagaan RT/RW.

Peta dasar yang lebih utama harus disiapkan adalah ditentukan batasan desa atau RT/RW yang sudah masuk zona merah terpapar bencana. Kemudian yang menjadi pertanyaan lanjutan, siapa yang menjadi audit risiko Covid-19? Jawabannya adalah individu, keluarga dan desa.

Kenapa individu? Karena individu harus sadar akan mobilitas yang sudah dilakukannya apakah dia keluar rumah menggunakan kendaraan umum, apakah sudah memakai masker, apakah dia sudah berjabat tangan dengan orang lain, apakah sudah membasuh tangan dengan air mengalir dengan sabun, menggunakan handsanitizer, siap sedia tisu basah, apakah telah menyentuh uang atau barang yang sudah disentuh orang lain. Pertanyaan lainnya unuk diri sediri terkait lini pertama sebagai audit risiko Covid-19. Apabila si individu memiliki gejala awal, individu harus bisa memitigasi dirinya sendiri dalam pencegahan penularan dengan isolasi diri atau melapor ke puskesmas dan rumah sakit terdekat. Sebagai lini pertama sebagai audit risiko Covid-19 perlu ada keterbukaan dan kesadaran diri individu, dan diakui dalam membangun kesadaran tersebut membutuhkan keberanian yang besar, tetapi memiliki keberhasilan utama dalam pencegahan bencana Covid-19.

Audit risiko Covid-19 yang kedua adalah keluarga, pertanyaan apa sajakah yang harus disadari oleh masing-masing anggota keluarga. Pertanyaan tersebut, diantaranya apakah keluarga saya mengetahui tentang Covid-19, apakah keluarga saya mengetahui penyebab Covid-19, apakah keluarga saya mengetahui dampak dari Covid-19, apakah keluarga saya mengetahui bagaimana mencegah penyebaran Covid-19, apakah keluarga saya tinggal di kawasan padat penduduk, apakah keluarga saya tinggal dekat dengan fasilitasi umum (pasar, terminal, stasiun, tempat ibadah, dll), apakah keluarga saya tinggal di rumah dengan pencahayaan sinar matahari langsung, apakah tempat tinggal keluarga saya memiliki sumber air bersih, apakah tempat tinggal keluarga saya memiliki MCK, apakah setiap anggota keluarga memiliki kamar sendiri dan pertanyaan lainnya. Perhatian kita terhadap keluarga kita, menunjukkan kepedulian kita terhadap dampak penyebaran Covid-19 ke masyarakat. Jika tim audit kedua kompak menanggulangi Covid-19, mudah-mudahan jumlah penyebaran akan berkurang.

Audit ketiga, resiko Covid-19 ini adalah Desa/RT/RW. Perangkat Desa/RT/RW harus memastikan apakah sudah ada relawan desa lawan Covid-19 sesuai dengan Surat Edaran Menteri Desa PDTT Nomor 8 tahun2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19, apakah sudah ada rencana kerja sesuai dengan Surat Edaran Menteri Desa PDTT Nomor 8 tahun2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 terkait dengan langkah-langkah pencegahan dan penangananCovid-19. Apakah sudah ada Posko Relawan Covid-19 Desa di kantor kepala desa atau di tempat yang representatif. Apakah sudah menyiapkan peralatan, bahan dan fasilitas yang digunakan untuk operasional Posko. Apakah desa sudah melakukan sosialisasi yang dilakukan oleh Relawan Desa Lawan Covid-19 atau lainnya yang dikordinasikan oleh Ketua Tim Relawan Desa Lawan Covid-19. Apakah Desa telah menyampaikan informasi terkait dengan gejala Covid-19, seperti demam, batuk, pilek, gangguan pernapasan, sakit tenggorokan, letih dan lesu. Apakah Desa telah menyampaikan informasi terkait dengan cara penularan Covid-19. Apakah desa telah menyampaikan informasi terkait dengan pencegahan Covid-19. Apakah desa telah memiliki materi sosialisasi informasi Covid-19 berupapamflet, poster, spanduk, brosur, baliho, radio komunitas, pengeras suara di tempat ibadah, keliling desa, dan media social. Aparat Desa/RT/RW juga harus bisa memberikan pengertian kepada masyarakat untuk tidak mendiskriminasikan masyarakat lain yang sedang isolasi diri karena terpapar Covid-19. Harus ada gotong royong di Desa/RT/RW jika ada warganya yang terpapar Covid-19.

Mari kita lakukan pemetaan-pemetaan dan perketat audit resiko Covid-19. Kita harus siap menghadapi risiko yang sudah terjadi. Konon kabarnya, pandemi disease selalu terjadi selama 10 abad sekali, entah virus ini buatan manusia atau bukan, tetapi jika Tuhan sudah berkehendak menjadikan sesuatu terjadi, maka kapan pun itu akan terjadi. Tinggal seberapa besar kesiapan dan kemampuan kita menghadapi ujian ini, serta tetap mengedepankan sifat dermawan warga Indonesia membantu satu sama lain dengan menjalankan pola hidup “new normal”. Yakinlah itu tidak merubah semua perilaku kita tetapi hanya sebagai bentuk transmisi penyesuaian diri akibat dampak Covid-19. Jika kita selalu terlena dengan kata “salah si A, salah si B”, “andai kata” dan kalimat-kalimat pesimis lainnya, maka kita akan selalu menjadi individu-individu cuek dan tergopoh-gopoh, yang akhirnya akan kalah menghadapi Covid-19. Jadi, mari menyiapkan diri memetakan dan mengaudit Covid-19.Menyiapkan Diri Memetakan dan Mengaudit Covid-19.(***).

Related posts