Menumbuhkembangkan Jiwa Entreprenuership Pelajar Melalui Pembelajaran Ekonomi

  • Whatsapp
Penulis: KURNIAWATI, S.E
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Bangka, Babel

Salah satu pelajaran IPS yang paling banyak diminati oleh siswa di sekolah adalah mata pelajaran Ekonomi. Karena prinsip pelajaran ekonomi adalah pelajaran yang dapat dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Selain itu, mata pelajaran Ekonomi juga dapat menumbuhkan semangat siswa untuk belajar menjadi seorang “Entreprenuer”. Kata entreprenuer merupakan istilah yang berasal dari bahasa Perancis berarti between-taker atau go-between. Secara luas entreprenuer adalah seseorang yang memiliki dorongan atau kemauan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai dengan modal dan siap menanggung risiko, menerima balas jasa/kepuasan serta kebebasan pribadi atas usaha yang dikerjakan. Seseorang yang berjiwa entreprenuer adalah seorang memiliki keberanian mengambil risiko dari setiap kegiatan yang dikerjakan, riset atau penelitiannya dalam rangka membuat produk yang baru dengan menemukan cara-cara baru, dan ia mendapatkan jawaban baru dari setiap masalah yang muncul yang ada disekelilingnya.

Pengertian entrepreneurship yang jika disematkan dalam diri seseorang yang seringkali disebut sebagai entrepreneur atau wirausaha, adalah orang yang memiliki syarat entrepreneurship, yaitu orang-orang yang inovatif, kreatif oportunistik, bersedia menanggung risiko, selalu memiliki insiatif, selalu berkeinginan untuk senantiasa mencoba atau merubah sesuatu menjadi lebih berguna, mempunyai motivasi untuk mengejar prestasi yang tinggi dan memiliki rasa percaya diri. Selain itu, diperlukan juga kunci sukses bagi entrepreneur adalah memiliki jiwa kepemimpinan (leadership), memiliki kemampuan untuk bersaing secara sehat, dan memiliki sehat jasmani dan rohani, selalu memiliki energi yang tinggi, memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik, tidak haus akan kekuasaan dan memiliki kemampuan dan keinginan untuk berafiliasi.

Prespektif dasar untuk mengidentifikasi seseorang sebagai entrepreneur dalam diri seseorang dapat dilihat dari dua kateogori, yakni faktor obyektif yang lebih bersifat kuantitatif dari pelaku usaha seperti demografi dan pengalaman, juga faktor subyektif yang dinilai melalui sikap, sifat dan nilai yang melekat pada entrepreneur itu sendiri. Konseps dasar kajian entrepreneur dewasa ini, cenderung untuk mengungkapkan secara mendalam faktor-faktor subjektif sebagai dasar penilaian entrepreneur. Entrepreneur dalam presfektif Bill Bolton and John (2004:16) mengutip Bo Peabody (entrepreneur, millionaire and founder of Internet business, Tripod) adalah: “A person who habitually creates and innovates to build something of recognized value around perceived opportunities”. Dalam pandangannya entrepreneur adalah perilaku individu yang menjadi kebiasaan bukan suatu sistem yang diciptakan dan didorongkan pada seseorang.

Entrepreneurs lebih cenderung pada kebiasaan yang dilakukan seseorang. Kebiasaan seorang entrepreneur atau kelompok orang dalam perusahaan yang dimaksud adalah kebiasaan untuk selalu ingin merubah sesuatu menjadi lebih berguna dan menguntungkan. Kebiasaan itu ditunjukan melalui perilaku-perilaku (behaviors) individu dan menjadi gaya hidup. Seseorang tidak dapat diorong atau dihentikan kebiasaan dan gaya hidupnya sebagai entrepreneur atau bukan, karena menjadi  entrepreneur menjadi dasarnya adalah karakter dirinya. Formulasi sederhana yang menggambarkan seseorang dapat digategorikan sebagai entrepreneur atau bukan Keith S. Glancey and Ronald W. McQuaid (2002:6-10) memberikan ciri utama entrepreneur, yaitu orang-orang yang dapat menggabungkan kemampuan fungsi dalam dirinya sebagai pengambil resiko, mampu mengalokasikan sumber daya dan innovator.

Baca Lainnya

Coskun Samli (2009;28) merujuk pada Contillon (1755) menerangkan bahwa entreprenur merupakan orang yang dipersepsikan selalu “proaktif, berpikir, kreatif dan personal yang memiliki keahlian khusus”, lebih jauh Samli (2009;28). Dengan kata lain tidak semua orang dapat menjadi seorang entrepreneur. Dalam konteks ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa entrepreneur adalah orang yang selalu yakin bahwa mereka dapat menyelesaikan apapun, keyakinan ini didasari oleh kebiasaannya yang selalu bekerja keras, tidak mudah putus asa, cepat dalam bertindak dan efisien, ketika menghadapi masalah cepat mengambil tindakan dan memiliki alternatif yang beragam. Wirausaha juga dituntut untuk mengambil alternatif tindakan secara rasional dan realistis, memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, sehingga mampu mengendalikan semua pekerjaan yang telah diputuskannya. Ambisi untuk meraih kesuksesan harus menjadi dasar perilakunya yang ditunjang dengan keahlian personalitas untuk menyelesaikan tantangan dan hambatan dari luar. Sebagai wirausaha, seseorang di tuntut untuk mendayagunakan sumberdaya organisasinya secara efektif dan efisien.

Melalui pembelajaran Mata Pelajaran Ekonomi siswa diajak untuk memiliki jiwa wirausaha, menciptakan lapangan kerja, serta mau bekerja keras. Membangun jiwa wirausaha kini bagi pelajar melalui pembelajaran Ekonomi tidaklah mudah, sehingga menjadi sebuah tantangan yang cukup besar. Apalagi ketika masih bergantung pada penghasilan orang tua. Minat siswa terhadap wirausaha semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini terbukti dari banyaknya inovasi-inovasi kreatif yang lahir dari keinginan kuat para wirausahawan muda. Memulai usaha dalam hal ini dapat dilakukan dalam contoh kecil adalah berdagang. Para Siswa diajak untuk mencoba menciptakan suatu lapangan pekerjaan sendiri dan berwirusaha untuk dapat menghindari pesatnya dunia pekerjaan yang semakin menyempitkan peluang kita karena tamat SMA tidak menjamin sesorang itu bisa langsung bekerja.

Mengembangkan entrepreneurship siswa adalah tema tulisan kali ini. Pelajar adalah  sebagai agent of change juga agent of control masa depan, serta pelajar adalah harapan masa depan. Pelajar haruslah mampu mengembangkan ilmu yang telah mereka serap di dunia pendidikan sebagai bekal dasar sebelum menginjakkan kaki mereka di lingkungan masyarakat secara utuh. Dasar-dasar nilai kehidupan yang sudah mereka timba dilingkungan sekolah seharusnya telah menjadi pondasi dalam berpijak di masyarakat dan bersosialisasi sesuai dengan lingkungan mereka. Pelajaran Ekonomi adalah pelajaran yang sangat menarik bagi siswa yang memiliki jiwa  Entrepreneurship, karena dalam pelajaran Ekonomi siswa diajar bagaimana menerapkan prinsip ekonomi yang baik untuk memulai usaha.

Melalui pelajaran Ekonomi penanaman jiwa Entrepreneurship merupakan kemampuan dan kemauan yang harus ditumbuhkembangkan dalam diri seorang siswa, dan hal ini harus kelihatan secara nyata seorang individu, yang berasal dari diri mereka sendiri, dalam tim di dalam maupun luar organisasi yang ada, untuk menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru. Entrepreneurship bukan hanya dimiliki oleh siswa yang suka pelajaran Ekonomi saja, tetapi seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama. Akan tetapi, jiwa entrepreneur itu  tumbuh pada setiap jiwa manusia tidak sama. Seorang Siswa harus mempunyai wawasan yang luas dan harus mau belajar dengan keras. Wawasan yang luas sangat mendukung kesuksesan seorang pelajar dalam berbagai segi kehidupan.

Dalam dunia kewirausahaan wawasan yang luas adalah kunci utama dalam memenangkan persaingan dunia kerja. Dengan wawasan yang luas kita akan dengan mudah membuat dan mengembangkan jaringan yang kita miliki. Oleh sebab itu, seorang siswa jangan puas dengan ilmu yang didapat di sekolah saja, tetapi harus mau belajar dengan lingkungannya melihat peluang yang dapat menciptakan wirausaha. Disamping dengan wawasan yang luas dan pemanfaatan setiap kesempatan yang ada sebaik mungkin, kita juga perlu menumbuhkan sikap-sikap seorang entrepreneur sejati.

Ada beberapa sikap yang perlu dimiliki Seorang siswa untuk menjadi seorang Entrepreneur: Pertama, Memiliki disiplin yang tinggi. Kita tentu pernah mendengar istilah “disiplin adalah kunci kesuksesan”. Tentu saja kalimat itu bukan hanya sekadar selogan saja, tetapi hal ini adalah sebauh realita yang harus dimiliki seorang pelajar apabila ingin berhasil menjadi seorang Entrepreneur. Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti, dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan dalam melakukan tugas atau pekerjaan. Ketepatan yang dimaksud yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja, serta semangat yang tidak mudah kendur. Ketepatan terhadap waktu, dapat dibina dalam diri seseorang siswa dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Sifat yang sering menunda-nunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan, adalah masalah besar yang dapat menghambat seorang wirausahawan untuk meraih hasil yang diharapkan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan terhadap komitmen tersebut. Wirausahawan harus taat azas, hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausahawan memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan.

Dua, Memiliki Komitmen Yang Tinggi. Semangat untuk tetap komit adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausahawan terhadap orang lain, terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan sebagainya. Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya terhadap konsumen, akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen.

 Tiga, Memiliki Sifat Jujur. Kejujuran merupakan modal moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang Entrepreneur. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks. Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan oleh wirausahawan. Harga sebuah kejujuran sangat penting bagi seorang pelajar, karena apabila seorang pelajar sejak dini sudah memiliki sifat jujur, maka hal ini akan membawanya pada sebuah keberhasilan karena orang lain akan selalu mempercayainya.

 Empat, Mampu untuk Berdiri Sendiri. Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Seorang pelajar harus mempu untuk berdiri sendiri, tidak selalu bergantung pada orang lain, hal ini akan melatih mental agar mejadi seorang yang berani.

Lima, Berpikir Secara Logika. Seseorang yang dikatakan berpikir secara logika bila orang tersebut mampu menggunakan fakta sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun perbuatannya. Banyak calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena berpikirnya tidak realistis, obyektif  dan rasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya. Karena itu, dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan atau sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis. Seorang siswa dalam melakukan sesuatu harus banyak belajar dari pengalaman orang lain, karena pengalaman itu merupakan guru yang sangat berharga dalam hidupnya. (***).

 

 

 

Related posts