by

Menumbuhkan Pribadi Berintegritas dari Rumah

-Opini-81 views

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat

Korupsi itu seperti kanker yang perlahan mengikis kesehatan penderitanya dengan penyebaran dalam tubuh relatif cepat, yang mengakibatkan momok kematian kapan saja bisa terjadi. Pada stadium awal, mungkin saja penderita tidak menyadari dalam tubuhnya ada bibit kanker yang bersiap menggerogoti, karena penderita masih terlihat sehat segar bugar. Namun, jika tidak ada pengobatan secara intensif, perlahan tapi pasti kanker akan memasuki stadium lanjutan yang bisa menyebabkan kondisi kesehatan seseorang semakin melemah yang berarti semakin dekat dengan kematian.

Jika penderita kanker sudah sampai pada stadium akhir, ia hanya mampu bertahan hidup dalam waktu yang relatif singkat. Tanpa mengesampingkan bahwa umur manusia dalam kuasa Allah, akan tetapi sangat minim penderita kanker yang sembuh dan berhasil recovery pasca kanker dengan baik, terlebih dalam banyak kasus penyakit kanker, lebih dari 50 persen penderita kanker menghembuskan nafas terakhir di ruang kemoterapi rumah sakit.

Mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, dua cara sederhana agar seseorang tidak terjangkit bibit kanker dalam tubuhnya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Begitulah kira-kira ilustrasi dari analogi betapa bahayanya korupsi yang identik dengan bahayanya kanker. Setali tiga uang dengan kanker yang menjadi penyakit yang paling menakutkan bagi sebagian besar manusia dan merupakan salah satu penyebab kematian paling tinggi di dunia, watak korupsi juga pada tahap awal sering tidak terdeteksi dan kurang dihiraukan padahal korupsi adalah penyakit mental yang bisa membuat suatu negara di ambang kehancuran.

Kemudian, upaya pencegahan sejak dini mutlak dilakukan. Pendidikan di dalam rumah yang sarat akan nilai-nilai integritas urgent diterapkan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Artinya, mengajarkan sikap integritas kepada anak-anak dengan startegi yang tepat sesuai dengan usia mereka.

Keluarga memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi setiap generasi. Sekolah pertama setiap manusia adalah keluarganya. Ayah dan ibu merupakan guru terbaik dari sekolah terbaik pula, kedua orang tua adalah orang yang pertama kali memperkenalkan dunia kepada anak-anaknya. Untuk itu orang tua harus menjadi role model dalam keluarga untuk menumbuhkan pribadi anti korupsi pada anak-anaknya. Walaupun anak-anak belum paham sama sekali dengan sikap-sikap integritas yang diajarkan orang tua dalam keseharian, namun seiring bertambahnya usia mereka, dalam jiwa mereka akan terpatri sikap-sikap integritas tersebut.

Psikolog Riska Prameswari, M.Psi., pemilik Bright Psychology Center (pusat layanan psikologi) yang beralamat di Jl. Pahlawan 12 No.227 Pangkalpinang – Bangka Belitung dalam wawancara via e-mail yang Penulis rangkum mengatakan, implementasi pendidikan anti korupsi dalam lingkup keluarga seyogianya adalah sebagai berikut: Pertama, Teladan dari orangtua. Orangtua sudah seharusnya sadar bahwa anak-anak tidak akan menuruti perkataan, nasehat, maupun perintah orangtua tanpa adanya keteladanan langsung yang diajarkan. Sikap, perilaku, kebiasaan, dan kegiatan sehari-hari yang dilakukan orang tua baik di rumah, tempat bekerja, tempat tinggal, tempat berlibur, atau dimanapun harus memperlihatkan ke anak sepuluh nilai pribadi yang berintegritas.

Kedua, Dilakukan dengan konsisten dan berkelanjutan. Orang tua yang sudah berperilaku sesuai sepuluh nilai pribadi yang berintegritas didepan anak-anaknya tetap harus mempertahankan menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang tidak berubah-ubah. Orangtua juga harus menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Orangtua yang tidak konsisten dalam bersikap atau berperilaku dalam kegiatan sehari-harinya mengakibatkan anak gagal dalam memiliki nilai-nilai pribadi berintegritas.

Ketiga, Komitmen untuk selalu mendukung anak berproses. Anak-anak membutuhkan waktu untuk berproses menjadi pribadi yang berintegritas. Orang tua harus berkomitmen untuk mendukung tercapainya tujuan itu. Ketika orang tua dihadapkan pada suatu kasus anak mengikuti perlombaan yang mengandalkan keterampilan anak dan mendapati fakta bahwa anak tidak berpeluang menang, orangtua harus memberikan dukungan karena anak sedang berproses menjadi pribadi yang berani, mandiri, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Orangtua harus membiarkan kekalahan berlangsung secara alami dan apa adanya. Tugas orangtua di sini adalah sebagai pendamping dan pemberi dukungan kepada anak untuk menerima kekalahan tersebut dengan jiwa yang lapang. Disinilah anak juga belajar untuk memiliki kesabaran dan memahami tentang nilai integritas adil dalam penjurian lomba.

Keempat, Religius. Religius bukan sekedar memiliki pengetahuan yang banyak perihal ajaran agama yang dianutnya dan mengajarkannya kepada anak. Religius lebih menekankan kepada perilaku nyata tofottakut Tuhan dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti mengambil sesuatu yang bukan merupakan haknya atau merampas hak orang lain. Perilaku nyata takut Tuhan ini harus dipraktikan orangtua didepan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengimplementasikan keempat langkah di atas, orang tua dapat menumbuhkan pribadi berintegritas dari rumah dan mewujudkan cita-cita Indonesia bebas korupsi di masa yang akan datang. (***).

Comment

BERITA TERBARU