by

Menumbuhkan Minat Baca Generasi Milenial dengan Sistem “Keroyokan”

-Opini-140 views

Oleh: Muhammad Tamimi
Wartawan/Penulis Bangka Belitung

Saat ini, Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota terus membangun minat baca masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan studi yang dilakukan Central Connecticut State University tahun 2016, bahwa minat baca di Indonesia masih memprihatinkan. Indonesia berada di urutan 60 dari total 61 negara, dalam artian lain minat membaca masyarakat Indonesia hanya berada pada presentase 0,01 persen saja.

Menyikapi kondisi tersebut, beragam cara dilakukan pemerintah mulai dari menggerakkan program Satu Guru Satu Buku (Sagu Sabu) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, menggelar lomba bercerita, mendongeng, menggambar, menulis, mendirikan taman bacaan, pojok baca dan sejenisnya. Wadah berkreasi untuk generasi milenial itu, dalam upaya menumbuhkan minat baca masyarakat yang kini kian tergerus oleh pesatnya teknologi informasi.

Parahnya, sejatinya masyarakat kita lebih cenderung suka berbicara ketimbang membaca dan menulis, sehingga berbicara menjadi kebiasaan dan membaca menjadi kemalasan. Makanya perlu dengan perjuangan ekstra yang dilakukan pemerintah dan penggiat literasi di Bangka Belitung untuk mengapresiasi dan memotivasi generasi milenial kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

Usaha dalam menumbuhkan minat baca generasi milenial itu merupakan tantangan bagi pemerintah, kelompok literasi, lembaga pendidikan dan swasta untuk melawan dengan menggunakan sistem “keroyokan”. Bahkan dalam setiap kegiatan tentang literasi, seluruh unsur dilibatkan yakni para guru, anak-anak, tenaga perpustakaan, lembaga pendidikan dan kelompok penggiat literasi tadi. Karena mereka inilah nantinya akan menjadi motor penggerak untuk menghidupkan wadah literasi di Bumi Serumpun Sebalai tercinta.

Akan percuma manakala pemerintah berteriak kencang ingin menumbuhkan minat baca, bila penggiat literasi tidak ikut serta. Hal ini masih banyak terjadi dalam setiap kegiatan lomba tentang literasi, karena sekolah sengaja tidak mengutus perwakilan peserta dalam ajang lomba. Padahal kesempatan tersebut sebagai awal cikal bakal menciptakan lingkungan literasi di sekolahnya. Guru dan anak didik sebaiknya diikutsertakan setiap ada lomba, karena awalnya tumbuh minat baca dari para guru-guru tersebut baru diikuti anak didik.

Kegiatan memancing minat baca yang lain dengan menciptakan lingkungan sekolah atau rumah yang penuh dengan produk literasi, seperti perpustakaan sekolah, perpustakaan pribadi, tata letak foto, ruangan membaca yang unik dan menarik. Bahkan setiap minggu jadwalkan 1-2 kali mengunjungi perpustakaan atau toko buku. Setelah rutin, tambahkan waktu lebih banyak lagi untuk produktif membaca. Hal itu dalam upaya beradaptasi dengan buku. Pelan tapi pasti, persoalan ini pada waktunya akan terjawab. Selain upaya itu, disarankan pula mengurangi berinteraksi dengan gadget, karena bahaya sangat menggangu konsentrasi anak-anak kita saat membaca dan menulis. Silakan menggunakan gadget seperlunya untuk mencari informasi penting yang mendukung kegiatan membaca dan menulis.

Mindset

Kebanyakan dari kita malas membaca bukan karena tidak ada minat, tetapi lebih kepada mindset atau cara berpikir. Selalu berpikir positif bahwa membaca mempunyai tujuan dan manfaat. Adapun tujuan membaca menurut Blanton dkk dan Irwin (Farida Rahim, 2008: 11), diantaranya kesenangan, menyempurnakan strategi tertentu, mempergunakan strategi tertentu, memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik, mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, mengkonfirmasi atau menolak prediksi, menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan suatu informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Sedangkan Fajar Rachmawati (2008: 4) menyebutkan manfaat membaca adalah sebagai berikut: meningkatkan kadar intelektual; memperoleh berbagai pengetahuan hidup; memiliki cara pandang dan pola pikir yang luas; memperkaya perbendaharaan kata; mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia; meningkatkan keimanan; mendapatkan hiburan.

Demikian juga buku, bila ingin belajar dengan profesor, maka cukup beli bukunya kemudian baca. Maka ada istilah, jika ingin mendatangkan profesor ke rumahmu, maka belilah bukunya dan bawa ke rumah, karena tidak ada buku ditulis oleh orang bodoh. Semua buku pasti ditulis oleh orang yang cerdas.

Masyarakat Cerdas adalah yang Rajin Membaca

“Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik,” demikian kata Buya Hamka, seorang Ulama, Aktivis dan Sastrawan Indonesia (1908-1981). Kalau minat masyarakat kita sudah terbangun dan terus tumbuh, maka pelan-pelan “penghuni” daerah ini (Bangka Belitung) akan cerdas. Bila sudah cerdas masyarakatnya, maka Insya Allah akan cepat maju. Lebih mudah lagi, setiap program apapun yang ditawarkan pemerintah akan diterapkan langsung oleh masyarakat.

Manfaatnya, pembangunan berkelanjutan lebih mudah direalisasikan yang dilengkapi sarana dan prasarana. Kendati program Gubernur Babel hebat tanpa diiringi oleh meningkatnya Sumber Daya Manusia yang ditandai cerdas masyarakatnya, maka akan sulit berjalan dan diterima. Karena masyarakat merupakan ujung tombak maju mundurnya roda pembangunan. Sekali lagi, semua unsur harus terlibat dalam membangun dunia literasi di negeri ini, untuk bergerak menyemangati dan memotivasi masyarakat kita supaya rajin membaca dan menulis.

“Memperoleh kearifan bukanlah cuma kegiatan teoritis, kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan “How to… “; kita harus terjun, kadang hanyut atau berenang dalam pengalaman, kita harus berada dalam laku dan perbuatan, dalam merenung dan merasakan: ujian dan hasil ditentukan di sana (Goenawan Mohammad, Sastrawan dan Pendiri Majalah Tempo, 1940). Salam Literasi. (***).

Comment

BERITA TERBARU