by

Menumbuhkan Jiwa Anak Muda yang Militan

Oleh: Muhammad Tamimi
Wartawan Rakyat Pos/Ketua KAHMI Bateng

Muhammad Tamimi

Menjadi seorang tukang ngulon memang tak gampang dan mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan diperjuangkan. Selain diri sendiri dituntut menjadi sempurna, seorang tukang ngulon juga harus bersikap sabar dalam menghadapi perbedaan karakter rekanan yang ada dilapangan atau komunitas. Dengan keberagaman tersebut justru beruntung bagi seorang diri tukang ngulon, karena mendidik yang bersangkutan menjadi manusia yang teruji dan terasah. Memang Penulis akui selama pengalaman di organisasi, ada kesulitan menemukan fatner kerja dalam membangun organisasi itu. Padahal, niat murni untuk membesarkan organisasi bukan buat kepentingan pribadi. Jika dasar orang itu pernah terlibat dalam organisasi, diyakini kuat tak akan sulit diajak berunding. Sebaliknya, bila pondasinya belum ada, mungkin perlu perkaderan kembali di sebuah komunitas tertentu.

Dalam sebuah organisasi, memang dianggap nggak aneh tatkala ada sikap rekan yang tidak inisiatif, hanya menunggu perintah dari pimpinan baru bergerak. Sebagai tukang ngulon, memang harus mengedepankan sikap sabar dan loyal terhadap organisasi, karena dua sikap tersebut mendorong seseorang menjadi pribadi yang kawa nyusah. Sangat sulit rasanya baru sibuk belajar ketika mau dibutuhkan. Syarat menjadi pemain organisasi minimal telah mengantongi sikap nek kawa nyusah alias bersedia bekerja. Tugas selanjutnya hanya mengasah dan menguji kemampuan seorang kader.

Berperan sebagai tukang ngulon, tugas Penulis cuma membagikan ilmu yang Penulis miliki kepada kawan-kawan dalam komunitas Jurnalis Bangka Belitung. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang siap bekerja kapan saja, sabar, loyal dan tangguh. Perubahan sistem organisasi di era saat ini, membuat pemainnya terlalu bersantai, karena terlena dengan penyajian dan aksesoris teknologi. Akibatnya, tak tertanam jiwa militansi seorang organisatoris. Keberadaan sikap loyal dan militan inilah yang Penulis maksud sudah hampir punah dari peredaran diri anak muda. Padahal dua sikap tersebut harganya tak ternilai. Karena sudah tergerus oleh perubahan zaman dan teknologi, membuat pelakunya menjadi malas dan tidak mau bersusah payah. Nilai-nilai alamiah itulah yang sekarang terus meredup. Kejadian buruk itu, sebagai akibat dari penjajahan para lawan kita untuk merusak pribadi anak muda. Konsep penjajahan pun bukan lagi menggunakan kekerasan dan senjata, namun dengan merusak mental dan sikap militansi generasi penerus, tanpa terasa tetapi ada dampaknya.

Terganggunya nasib sikap militansi para anak muda inilah yang perlu disikapi oleh pemerintah dan pemangku kepentingan (staekholder). Dalam hal ini, pemerintah melakukan mediasi para anak muda sebagai wadah melaksanakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Hasilnya, memang tampak lama, tetapi rutinnya kegiatan seminar atau dialog interaktif, maka bisa mensuplay “makanan” rohani para anak muda. Harapannya adalah anak muda sebagai fungsinya agen of control memiliki sikap kritis dan cara berpikir yang konstruktif dalam mengawal dan memonitor roda pembangunan di negeri Bangka Belitung. Untuk mencapai itu, terlebih dahulu pikiran anak muda diisi dengan makanan rohani, seperti rutin membaca buku, menulis, menggelar seminar, whorkshop, dialog interaktif atau kegiatan sejenisnya. Wadah yang dibungkus berbentuk kegiatan inilah penulis rasa sangat mendorong sekaligus membantu lahirnya inovasi baru dalam membangun sebuah peradaban di kabupaten masing-masing di Serumpun Sebalai.

Penulis yakin dan percaya melalui kesibukan kegiatan, mampu menumbuhkan jiwa anak muda yang militan di masa akan datang. Minimal yang bersangkutan sudah menguasai satu modal sebagai calon calon pemimpin yang diikuti oleh syarat-syarat lainnya sebagai pelengkap agar menjadi sempurna. (****).

Comment

BERITA TERBARU