Menumbuhkan Hobi Baca Anak Pada Momentum Liburan Sekolah

  • Whatsapp

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa

World’s Most Literate Nations adalah sebuah penelitian tentang budaya baca pada negara-negara di dunia yang dilakukan oleh sekumpulan ahli dari Universitas Negeri Connecticut (Central Connecticut State University) Inggris tahun 2017. Dari 61 negara yang menjadi objek penelitiannya, negara-negara wilayah Skandinavia menduduki peringkat lima besar, dimulai dari Finlandia diperingkat teratas, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Peringkat selanjutnya diraih oleh Swiss, Amerika Serikat, Jerman, Latvia, dan terakhir Belanda yang menggenapi peringkat kesepuluh. Botswana menduduki peringkat terakhir dan Indonesia berada tepat diatas Botswana atau di peringkat 60. Hasil penelitian yang memang menyedihkan bagi bangsa ini ditambah lagi kajian perilaku baca masyarakat dari Perpustakaan Nasional Indonesia tahun 2017 yang menjabarkan fakta bahwa rata-rata orang Indonesia membaca buku hanya 3-4 kali perminggu dan pada setiap durasi baca tidak melebihi dari 60 menit.

Sementara, Prof. Dr. Badaruddin, MA., seorang guru besar yang merupakan alumni dari Nanyang Technological University, Singapura pernah menyatakan, seharusnya kualitasmembaca anak-anak Indonesia perlu lebih ditingkatkan lagi untuk memperoleh penalaran yang lebih baik. Pernyataan ini, menarik untuk dikaji lebih lanjut untuk menyadarkan masyarakat kita akan pentingnya memiliki soft skillmembaca, terlebih saat ini pengalaman empiris membuat kita melihat bahwa negara-negara yang bertumbuh menjadi negara mapan diseluruh bidang termasuk kemapanan ekonomi tak lepas dari basis pengetahuan masyarakatnya yang sangat tinggi, yang tidak lain dicapai karena kecintaan mereka terhadap dunia literasi yang akhirnya menjadi budaya masyarakat negara maju.

Dewasa ini, fenomena kuantitas individu yang memiliki perspektif bagai katak dalam tempurung yang menjadi sasaran empuk hoax maupun menjadi konsumen informasi pembunuh nalar semakin mengkhawatirkan.Sejatinya, perspektif itu dapat diperbaiki jika individu mencintai kegiatan literasi. Selain sebagai jendela dunia, nampaknya tak berlebihan jika buku diberi “gelar” sebagai guru kehidupan karena selain memperluas perspektif, kemampuan membaca yang baik juga menumbuhkan imajinasi dan kreatifitas, memberikan inspirasi dan motivasi, melahirkan empati, dan menstimulasi berbagai soft skill yang bergunauntuk menjadi pribadi berkualitas. Orang tua menjadi garda terdepan sekaligus pendamping utama dalam menumbuhkan hobi baca yang berkualitas pada anak mengingat pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan yang pertama didapatkan oleh anak.

Momentum Liburan Sekolah
Pada momentum ini, banyak keluarga yang mengisi liburan sekolah dengan berwisata alam seperti ke pantai, pegunungan, air terjun, danau, dan lain-lain. Banyak juga keluarga yang mengisi liburan dengan wisata kuliner, menonton di bioskop dan bisa jadi sekaligus berbelanja dipusat perbelanjaan. Ada baiknya orangtua menyelipkan wisata literasi dalam agenda rekreasi keluargamisalnya ke perpustakaan daerah sekitar tempat tinggal. Toko buku yang menyediakan fasilitas membaca gratis di dalamnya juga bisa menjadi alternatif pilihan wisata literasi.

Mendampingi anak membaca buku diperpustakaan, mengenalkan e-book ataupun belanja buku bersama anak merupakan kegiatan liburan yang tak kalah seru jika orangtua dapat mengemasnya dengan menarik. Tentunya anak dibebaskan untuk memilih buku mana yang akan ia baca atau ia beli. Hal ini berguna agar ia merasa nyaman dan betah melakukan aktifitas literasi. Setelah anak menyelesaikan bacaan dari buku yang ia pilih dengan didampingi orang tua, hendaknya orangtua melatih anak untuk menceritakan kembali bacaan yang dibaca kemudian orangtua dapat mengajak anak berdiskusi perihal bacaan yang dibacanya tadi. Keluarga yang mengontinuekan pembiasaan baik ini akan membentuk karakter anak yang suka berdiskusi dan lapang menerima perbedaan. Bonusnya anak akan terbuka kepada orang tua dan orangtua menjadi teman diskusi terbaik bagi si anak.

Orangtua adalah Role Model Anak
Sampai disini, penting menyadari bahwa anak-anak sekarang terlahir dalam generasi yang jauh berbeda dengan generasi oranagtuanya. Paparan teknologi dan radiasi informasi yang telah memasuki anak sedari dini membuat oranngtua mau tidak mau harus menampilkan perilaku yang orangtua harapkan dari anak. Secara sederhana, anak akan mencontoh perilaku orangtua termasuk dalam hal kebiasaan membaca. Bagaimana mungkin anak mencintai literasi jika anak tidak pernah melihat orangtuanya asik membaca buku? Kemudian budaya literasi akan dengan mudah terlindas oleh budaya menonton televisi, budaya selfie, budaya penggunaan gawai, atau budaya-budaya kekinian yang minim manfaat hingga menggerus kualitas anak bangsa dimasa depan dan itu terjadi karena orangtua gagal menjadi role model yang baik untuk anaknya.

Dalam ikhtiar menumbuhkan hobi baca pada anak, kalau bukan orang tua yang menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan hobi baca anak, Siapa lagi? Kalau tidak dimulai pada momentum ini, kapan lagi?(***).

Related posts