Menuju Pendidikan yang Humanis

No comment 183 views

Oleh: Muntoha, S.Pd.I
Guru SMP Negeri 3 Lepar Pongok Kab. Bangka Selatan

Muntoha, S.Pd.I

Pendidikan merupakan sebuah proses dialektika manusia untuk mengembangkan kemampuan akal pikirnya, menerapkan ilmu pengetahuan dalam menjawab problem-problem sosial, serta mencari hipotesa-hipotesa baru yang kontekstual terhadap perkembangan manusia dan zaman.  Sebuah institusi dalam  dunia pendidikan yang bernama sekolah adalah salah satu faktor pendorong kearah kemajuan menuju masyarakat yang sejahtera secara ekonomi, berdaulat secara politik, demokratis secara hukum dan partisipasi secara budaya.
Paulo Freire dalam bukunya “Menggugat Pendidikan” sangat mengecam pendidikan yang selama ini dianggap sebagai sumber kebajikan telah menjadi penindas yang ulung. Pendidikan yang pada umumnya dianggap memiliki misi umum untuk mencerdaskan bangsa ternyata malah berperan aktif mengkerdilkan anak didik, karena tidak mampu membuat mereka lebih humanis atau lebih manusia. Pendidikan  yang selama ini dipercaya memiliki tugas untuk membukakan pikiran dan nurani manusia akan berbagai kesadaran palsu yang tumbuh dalam masyarakat justeru  turut serta menjadi  pencipta kesadaran-kesadaran palsu sendiri dan menjadi pengekang kebebebasan, dengan cara-caranya  yang terselubung.  Katanya Freire: “Pendidikan yang sungguh-sungguh membebaskan takkan berjarak dari kaum tertindas, takkan memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang tak beruntung, serta menyuguhi kaum tertindas itu model panutan dari antara kaum penindas. Pendidikan seperti itu adalah alat mendehumanisasi manusia”.
Jika kita setuju dengan Freire, tentu kita akan dengan jeli mencermati kedudukan kita sebagai pendidik, untuk mempertanyakan apakah selama ini kita telah mampu membuka mata anak didik kita terhadap berbagai kesadaran palsu, yang biasanya berjubah kedermawanan atau kemuliaan, atau kita mungkin tanpa kita sadari,  justru telah ‘bersetubuh’ dengan para penindas dan menjadi ujung tombak mereka dalam rangka melipur lara anak didik kita agar tidak merasa bahwa mereka telah menjadi objek penindasan. 

Paradigma-Paradigma  Pendidikan Paling tidak ada tiga macam paradigma yang biasa mewarnai gerak langkah lembaga-lembaga pendidikan. Bagi mereka yang menganut paradigma konservatif, ketidaksetaraan merupakan hukum alam, dan oleh karenanya mustahil untuk dihindari, karena ia merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Perubahan sosial bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan dengan serius, karena dikhawatirkan justeru akan membawa manusia kepada kesengsaraan baru. Bagi penganut paradigma ini, menjadi miskin, tertindas, terpenjara adalah buah dari kesalahan mereka sendiri, karena kelalaian atau kemalasan mereka untuk belajar dan bekerja keras. Jika mereka mau keadaan dapat berbalik bagi mereka. Kaum konservatif beranggapan bahwa harmoni dalam masyarakat merupakan hal yang penting agar konflik dapat dihindari.
Paradigma liberal menganggap bahwa persoalan ekonomi dan politik tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Oleh karenanya usaha-usaha pemecahan persoalan pendidikan yang dilakukan pada umumnya berupa usaha-usaha reformasi yang bersifat kosmetik seperti pembangunan kelas dan fasilitas baru, memodernkan peralatan sekolah, pengadaan laboratorium atau  komputer dan sebagainya yang secara umum terisolasi dari sistem dan strruktur ketidakadilan kelas, gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat. Pendidikan justru berfungsi untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat, menjadi media untuk mensosialisasikan dan memproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi dengan baik. Paradigma ini pada umumnya berupaya membangun kesadaran naif, di mana pendidikan tidak berusaha mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada dianggap sudah baik atau given dan oleh karenanya tidak perlu dipertanyakan.
Paradigma yang ketiga adalah paradigma kritis, yang memandang pendidikan sebagai arena perjuangan politik. Pendidikan dengan paradigma ini mengagendakan perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat di mana ia berada. Bagi mereka, kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan.  Dalam perspektif ini urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap the dominant ideology, ke arah transformasi sosial. Tugas utama pendidik, dengan demikian adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Paradigma kritis ini sekaligus mengadopsi kesadaran kritis dengan cara melatih anak didik untuk mampu mengidentifikasi segala bentuk ketiakadilan yang mengejawantah dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. 
Alur dari skema di atas jelas memberi peluang yang sebesar-besarnya bagi lembaga pendidikan untuk mengadopsi paradigma kritis menuju pendidikan yang humanis dan ilmiah. Karena apabila di negeri ini pendidikan tidak berparadigma kritis maka pendidikan tidak akan  bisa  memanusiakan manusia (humanis) dan kita hanyalah sebagai penikmat canduisasi kemiskinan, kelatahan dan kebodohan di negeri sendiri.(****).

No Response

Leave a reply "Menuju Pendidikan yang Humanis"