Menjauhkan Anak dari Kasus Kekerasan Seksual dengan Islam

  • Whatsapp

Oleh: Novita Ertiana, S.Si

Muat Lebih

Pemerhati Anak dan Keluarga Bangka Belitung

Anak adalah buah hati bagi kedua orang tua, hampir semua orang tua bahagia akan kelahiran anak-anaknya, bahkan anak adalah dambaan setiap manusia setelah menikah. Hal ini adalah fitrahnya manusia, karena Allah menciptakan naluri kasih sayang pada setiap hambaNya. Bahkan dalam Alqur’an Surat Al furqon ayat 74 “Dan orang – orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” menunjukkan bahwa manusia fitrahnya menginginkan keturunan yang sholih dan sholihah.

Namun hari ini, betapa banyak orang tua yang sedih melihat anaknya tidak bisa menikmati kebahagiaannya sebagaimana anak lainnya karena mereka menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual,  trauma yang membekas menimpa mereka, bahkan tidak sedikit trauma yang membekas itu menjadikan mereka pelaku pelecehan seksual pada saat mereka dewasa.

Baru-baru ini, kita mendapati lagi berita yang mengejutkan, MY di Belinyu diamuk masaa karena telah melakukan pelecehan seksual pada seorang bocah,tak berselang lama berita di media massa dan media sosial di heboh kan juga adanya perlakuan sodomi oleh seorang yang berinisial AL di Belitung. Perilaku menyimpang ini tentu saja bukan baru kali ini terjadi, namun terus berulang, dan pelakunya adalah orang yang tinggal disekitar korban bahkan orang terdekat dengan korban, seperti pamannya, kakaknya,  ayah tiri,  ayah kandung, guru sekolah, guru ngaji, dan guru di pondok pesantren. Sungguh fakta yang sangat miris bagi perkembangan anak-anak.

 

UU yang Dibuat tidak Berpengaruh

Undang-Undang Perlindungan Anak sudah disahkan sejak tahun 2002 dan sudah mengalami perubahan beberapa kali yang tujuannya untuk memberi perlindungan terhadap tumbuh kembang anak Indonesia, namun alih-alih mengeliminasi kasus kekerasan seksual pada anak, justru semakin menyuburkan kasus-kasus tersebut. Di daerah pun demikian, sudah ada berbagai Perda Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan yang disahkan untuk menunjang UU PPPA. Seperangkat aturan yang dibuat didalam negara kapitalis seperti Indonesia saat ini, belum mampu memberikan solusi tuntas atas kasus yang menimpa anak dan perempuan.

Komisioner KPAI Jasra Putra mengungkapkan, data menunjukkan bahwa pada tahun 2017 tercatat sebanyak 116 kasus, di tahun 2018 tercatat 206 kasus,  dan telah terjadi 236 kasus terjadi pada tahun 2019. Dan kasus pun semakin beragam. Semakin bertambahnya jenis dan jumlah kasus ini menunjukkan UU yang dibuat tidak berpengaruh terhadap masalah kekerasan sekasual.

Ketidak mampuan perangkat hukum menyelesaikan problematika ini tidak terlepas dari sistem kapitalis yang diadopsi negeri ini, kapitalisme yang mengagungkan materi (baca uang)  melahirkan gaya hidup liberal (bebas)  akibat dipengaruhi peradaban asing. Situs pornografi dan konten asusila begitu mudah diakses. Rangsangan berbuat fahisyah/keji bertebaran diberbagai media informasi. Wajar jika akhirnya UU  tidak mampu membendung perilaku bejat tersebut, begitu pun sangsi yang diberikan sama sekali tidak mampu memberi efek jera pada pelaku. Maka berharap solusi pada payung hukum negara kapitalis hari ini bagaikan pungguk merindukan bulan.

 

Islam Melahirkan Generasi Bebas Kemaksiatan

Islam agama yang sempurna telah mengatur semua aspek kehidupan, begitu pun masalah kekerasan seksual. Perangkat aturan yang bersumber dari Al Quran dan As sunah dapat direalisasikan dalam kehidupan sehingga mampu mencegah dan menghukum kemaksiatan tersebut. Sebagaimana dalam Al Quran Surat Al Ankabut ayat45 yang artinya “ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sistem kehidupan yang mengadopsi islam dalam pemerintahannya akan menjalakan hal-hal sebagai berikut: Pertama, Dibangun ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT,  pada setiap individu masyarakat dalam setiap momen,  bahkan di TV,  media sosial selalu dikampanyekan siaran-siaran yang membangun keimanan masyarakat, begitu pun masjid dan majelis taklim tidak hanya diajarkan masalah ibadah dan akhlak namun juga dibagun pondasi akidah yang sangat menentukan langkah kehidupannya. Maka wajar jika masyarakat tidak akan terpikir berbuat maksiat. Namun yang lahir adalah generasi yang berkualitas yang penuh prestasi karena dorongan imannya.

Kedua, Masyarakat yang saling amar ma’ruf nahi mungkar. Kehidupan islam yang meliputi masyarakat akan membuat nuansa saling peduli, tidak cuek dengan lainnya, sehingga ketika terjadi kasus pelanggaran hukum Allah dapat cepat dicegah. Ketiga, Negara yang mengambil dan menerapkan hukum syara’ secara kaffah, akan membuat seperangkat hukum yang diambil dari Tuhan yang maha adil, yaitu Allah SWT. Negara akan menerapkan system pergulan islam yang memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan baik di kehidupan umum maupun kehidupan khusus. Sehingga tak membuka peluang bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk melakukan perbuatan keji. Negara islam ini pun akan memberlakukan system sangsi yang akan membuat jera pelaku kekerasan seksual. Disamping itu juga memberlakukan sistem pendidikan islam, sistem ekonomi islam, sistem pemerintahan dan politik islam yang akan saling mendukung diterapkan hukum yang tegas sebagai pencegah dan penebus dosa pelaku kekerasan seksual tersebut.

Demikian islam telah memiliki sistem hidup yang sempurna yang akan melahirkan kehidupan sejahtera, tak khawatir akan kekerasan seksual yang selalu mengintai anak-anak kita. Merindukan sistem islam yang mampu mensejahterakan harus kita wujudkan dengan bersama-sama memperjuangkan tegaknya dalam dakwah islam secara kaffah.  (***)

Pos terkait