Menjaring Lailatul QadarMenjaring Lailatul Qadar

Oleh :Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI&BP SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Pada suatu hari Rasulullah SAW bercerita, ada empat orang dari kalangan Bani Israil, mereka beribadah kepada Allah selama 80 tahun tak sekejap matapun mereka maksiat kepada-Nya, mereka adalah Ayub, Zakaria, Hizqil bin Ajuuz dan Yusa’ bin Nuun. Mendengar cerita itu, para sahabat takjub terhadap keimanan mereka. Dari cerita itu, lantas Malaikat Jibril mengatakan, “umatmu takjub dengan empat orang yang beribadah selam 80 tahun tak pernah maksiat sekejap matapun, padahal Allah telah menurunkan hal yang lebih baik dari demikian itu.” Lantas Jibril membacakan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr: 1-5). Lantas teladan apa Rasulullah SAW lakukan di 10 malam terakhir ini sebagai waktu turunnya lailatul qadar itu, untuk umatnya? Pertama : Nabi Muhammad SAW serius dalam melakukan amaliah ibadah lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Keseriusan dan peningkatan ibadah di sini tidak terbatas pada satu jenis ibadah tertentu saja, namun meliputi semua jenis ibadah baik shalat, tilawatul qur`an, dzikir, shadaqah, dan ibadah lainnya. Kedua : Rasulullah SAW membangunkan istri-istri beliau agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Hal ini, karena semangat besar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluarganya juga dapat meraih keuntungan besar pada waktu-waktu utama tersebut. Sesungguhnya itu merupakan ghanimah yang tidak sepantasnya bagi seorang mukmin berakal untuk melewatkannya begitu saja.
Ketiga : Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 terakhir ini, demi beliau memutuskan diri dari berbagai aktivitas keduniaan, untuk itu beliau konsentrasi ibadah dan merasakan lezatnya ibadah tersebut.
Keempat : Pada malam-malam 10 Terakhir inilah sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Suatu malam penuh barokah yang lebih baik daripada seribu bulan.
Pahala amalan pada malam yang barokah itu setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama 1000 bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. 1000 bulan itu sama dengan 83 tahun lebih. Itulah di antara keutamaan malam yang mulia tersebut. Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW berusaha untuk meraihnya, dan beliau bersabda: “Barangsiapa menegakkan shalat pada lailatul qadar atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari No.1768).
Dengan apakah menghidupkan 10 terakhir Ramadhan dan lailatul qadar? Rasulullah SAW pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat (malam), membaca Al-Qur’an, dan berdo’a daripada malam-malam selainnya. Demikianlah hendaknya seorang muslim/muslimah menghidupkan malam-malamnya pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan dengan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT dengan shalat tarawih dengan penuh iman dan harapan pahala dari Allah semata, i’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an dengan berusaha memahami maknanya, mengkaji Hadits dan Sunnah, dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a, memperbanyak dzikrullah. Doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah adalah : “Allahumma innaka ‘affuwun Karin tuhibbul afwa fa’fu anni“ artinya ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi maaf, Engkau suka pemberian maaf, maka maafkanlah aku”. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Di antara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurafat dan keyakinan bathil, seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya.
Lalu, bagaimanakah tanda-tanda yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini ? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu: Pertama, udara dan suasana pagi yang tenang, Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan).
Kedua, cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya, dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim).
Ketiga, terkadang terbawa dalam mimpi, seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
Keempat, bulan nampak separuh bulatan, Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim).
Kelima, malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan), sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thabrani).
Keenam, orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya. Wallahu a’lam. 
Semoga di tahun ini kita sebagai kau muslimin sukses dalam melaksanakan serangkaian puasa Ramadlan, termasuk di dalamnya adalah Puasa, Shalat Tarawih, Tadarus Al Quran, Lailatul Qadar dan di tutup dengan membayar Zakat Fitrah. Amin.(****).

No Response

Leave a reply "Menjaring Lailatul QadarMenjaring Lailatul Qadar"