Menjaga Keutuhan Keluarga

No comment 197 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Pembaca setia, apa yang dipikirkan tentang pernikahan dan rumah tangga? Mungkin ada sebagian yang menjawab pernikahan dan rumah tangga dipenuhi dengan keindahan dan kebahagiaan. Di dalamnya berisi hal-hal yang penuh dengan romantisme pasangan suami istri, dihiasi canda tawa anak-anak dan keceriaan di raut wajah suami istri.
Di sisi lain, kita menjumpai sebagian keluarga yang gagal dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Sebagian diantara mereka memutuskan untuk pisah dari pasangannya.

Setiap tahunnya diperkirakan rata-rata ada dua juta pernikahan dan di saat yang bersamaan ada 40 kasus perceraian setiap jamnya. Tahun 2009 ada 2.162.268 yang menikah dan sebanyak 216.286 yang bercerai. Tahun 2010 ada 2. 207.364 yang menikah dan sebanyak 285.119 yang bercerai. Tahun 2011 ada 2.291.265 yang menikah dan sebanyak 258.119 yang bercerai. Tahun 2012 ada 2.291.265 yang menikah dan sebanyak 372.577 yang bercerai. Tahun 2013 ada 2.218.130 yang menikah dan sebanyak 324.527 yang bercerai (Data Kementerian Agama RI, 14/11/2014).

Tingkat perceraian yang terjadi di Indonesia masuk peringkat tertinggi se-Asia Pasifik. Hal ini disampaikan oleh Dr. Sudibyo Alimoeso MA, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN pada Desember 2013. Kasus perceraian berdasarkan data
di atas menunjukkan kecenderungan meningkat setiap tahun. Penyebab utama perceraian pada tahun 2011 saja didominasi oleh pertama faktor masalah ekonomi dan kedua dikarenakan perselingkuhan (disampaikan oleh Ditjen Badilag MA). Sedangkan berdasarkan data dari Kemenag RI, pada tahun 2013 penyebab utama perceraian disebabkan karena sudah tidak terjalin keharmonisan lagi di dalam menjalani rumah tangga.

Pembaca setia, kemajuan teknologi dan informasi yang hari ini tidak terbendung, tidak lantas menjadikan kehidupan rumah tanggan menjadi dekat dan rekat. Kondisi ini malah menjadi ironis, kemajuan teknologi dan informasi malah membuat yang jauh menjadi dekat dan dekat menjadi jauh. Sebagai contoh, semakin berkembangnya alat komunikasi smart phone sebut saja android, menjadikan hubungan suami istri menjadi renggang.

Bayangkan, ketika pasangan suami istri masing-masing punya android, mereka secara fisik selalu berada dekat namun hakikatnya berjauhan. Sudah tidak terjalin keharmonisan dalam rumah tangga. Saat di ruang makan, ruang keluarga, berkendaaraan, di kamar bahkan di kasur masing-masing asik dengan handphonenya. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian melakukan perselingkuhan melalui wasilah berselancar di sosial media. Hal inilah yang penulis lukiskan dengan gambaran menjadikan yang jauh menjadi dekat.

Awal mulanya, terjadi ketidakharmonisan dan keretakan hubungan, karena masing-masing pihak sibuk dengan sosial media. Hal ini, apabila terus dibiarkan akhirnya memicu
pada perceraian. Saat ini, sosial media tanpa disadari atau tidak telah menjadi candu baru bagi para orang tua. Tidak sedikit akibat dari hal tersebut, membuat para orang tua menjadi abai
dan menelantarkan kewajiban mereka dalam mendidik dan membina anak-anaknya. Fenomena ini mulai cenderung mengarah pada status yang mengkhawatirkan.

Perkuat Ketahanan Keluarga
Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapi fenomena ini? Penulis berpendapat bahwa keutuhan keluarga dapat dijaga bila semua pihak (dalam hal ini anggota keluarga) berkomitmen untuk memperkuat ketahanan keluarga. Penulis mengutip penjelasan dari Cahyadi Takariawan dan Ida Nur Laila (Konselor Rumah Keluarga Indonesia) tentang bagaimana kiat kiat merawat cinta sampai tua.

Pertama, yang bisa dilakukan adalah menguatkan kembali visi dan motivasi dalam membangun rumah tangga. Visi adalah pernyataan luhur atas cita-cita yang ingin diwujudkan bersama pasangan. Visi yang kuat akan membawa bahtera rumah tangga berlayar menuju pulau harapan, yaitu menuju keluarga yang terjauhkan dari kekerasan, kekasaran sikap, kesewenangan dan kehancuran.

Pembaca yang budiman, bagi seorang muslim, visi pernikahan yang diidamkan adalah terbentuknya keluarga sakinah, mawaddah dan warrohmah. Hal ini tertuang di dalam QS. Ar- Rum: 21, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawaddah) dan saying (warrohmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Menjaga visi pernikahan akan menghindarkan anggota keluarga termasuk pasangan suami-istri dari penyimpangan. Keluarga sakinah, mawaddah dan warrohmah di dalamnya terdapat suasana saling memberi, menerima, memahami, membutuhkan satu sama lain. Selain itu juga masing-masing anggota keluarga saling memaafkan, saling mengalah, menguatkan dalam kebaikan, saling mencintai dan saling merindukan. Semua ini harus terinternalisasikan
dan diupayakan pencapaiannya oleh seluruh anggota keluarga.

Selain harus membangun visi pernikahan yang kuat, motivasi dari masing-masing anggota keluarga dalam menjalani bahtera rumah tangga pun harus diperkuat. Hal yang mendasar untuk mewujudkan ini adalah dengan senantiasa meluruskan niat. Motivasi pernikahan diperjelas hanya semata-mata untuk ibadah kepada Allah Swt. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, “Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.”

Menikah bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan syahwat biologis semata, namun untuk membangun peraaban yang cemerlang. Ikatan yang dijalin dalam pernikahan harus atas nama Allah SWT, pelaksanaannya berdasarkan tuntunan Nabi Saw dan dilegalkan dalam lembar dokumen pemerintah kemudian disaksikan oleh keluarga dan masyarakat. Bila ada kelebihan rizki dibuatkan pesta syukuran.

Kedua, upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan keluarga, yaitu dengan menciptakan komunikasi dan relasi yang efektif di dalam rumah tangga. Pembaca yang budiman, berdasarkan hasil survey dari Cahyadi Takariawan, 70 % permasalahan rumah tangga disebabkan oleh kegagalan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Beberapa factor yang menyebabkan hal ini terjadi dikarenakan faktor kultur, pemahaman, dan keterampilan dalam berkomunikasi dan berempati.

Sebagai penutup, penulis akan mengutip QS. An Nisa: 19, “Dan bergaullah dengan merela secara makruf.” Muhammad Abduh menjelaskan ayat di atas, artinya wajib bagi kalian wahai orang-orang yang mukmin untuk mempergauli isteri-isteri kalian dengan bijak, yaitu menemani dan mempergauli mereka dengan cara yang makruf yang mereka kenal dan disukai hati mereka serta tidak dianggap mungkar oleh syara’, tradisi dan kesopanan. Hal yang tidak makruf dalam konteks ini adalah dengan mempersempit nafkah dan menyakiti hati pasangan dengan perkataan atau perbuatan, banyak cemberut dan bermuka masam ketika bertemu dengan pasangan.Wallohu’alam [****].

 

No Response

Leave a reply "Menjaga Keutuhan Keluarga"