Menjadikan Babel Wilayah Kerja Baru Program DSCP INDONESIA (DUGONG SEAGRESS AND CONCERVATION PROJECT)

Oleh: Abriandika Pratama
PROJECT ASSISTANT of Yayasan Pan Semujur Lestari
Member of ARIUA (Asian Research Institute of Underwater Archaeology)

Perairan Bangka Belitung tidak hanya terkenal banyaknya Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) sejak era Trade Route setelah era Slik Route, akan tetapi mengenai sumber keaneka ragaman hayatinya sangatlah berlimpah. Bukan hanya beragamnya jenis dari terumbu karang dan juga beragam jenis dari hasil tangkapan ikan serta biota laut dan pesisir, tapi juga beragam dari jenis hewan laut yang dilindungi, salah satunya adalah Dugong atau lebih familyar di masyarakat dengan sebutan Duyung. Duyung bukanlah ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah.

Duyung atau Dugong sendiri adalah salah satu dari sekian banyak mamalia laut yang banyak dijumpai di perairan Indonesia dari Sabang hingga Mauroke. Mamalia yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup selain Manatee ini juga disinyalir hidup di perairan Bangka dan Belitung. Hal ini, diasumsikan pertama karena Suku Seka yang merupakan suku laut yang mendiami wilayah perairan Bangka dan Belitung sejak era kerajaan Sriwijaya sangat familyar dengan hewan yang dianggap sangat sakral (memiliki hubungan magis) dan menjadi buruan mereka selain penyu dan teripang. Yang kedua, pada tahun ini Bangka Belitung menjadi daerah yang paling banyak memiliki kasus Dugong terdampar baik hidup maupun mati, yaitu 6 kasus dengan 7 dugong sejak Januari 2017 hingga November 2017 yang rentan waktu antar kasus sangatlah berdekatan. 4 dari 6 kasus Dugong yang terdampar disinyalir berasal dari perairain Bangka Selatan dan sekitar Selat Nasik, dan sisanya berasal dari perairan Bangka Tengah.

Sebelumnya, pada bulan Juni 2017, pihak dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (Dit- KKHL) – Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) mengadakan pertemuan terbatas dengan mengundang pihak dari Yayasan Pan Semujur Lestari, ALOBI, dan Yayasan Gunung Mangkol Lestari di Jakarta, pasca kasus terdamparnya Dugong pada bulan April yang berhasil dilepas liarkan. Dan dengan dasar banyaknya kasus Dugong terdampar di Bangka Belitung tahun ini, maka pada tanggal 13 November pihak KKP kembali lagi mengundang dalam hal ini pihak Yayasan Pan Semujur Lestari dalam pertemuan Komite Konservasi Dugong terkait implementasi Program Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project UNEP-CMS GEF) di Indonesia atau yang populer disebut DSCP. Dan DSCP sendiri dimotori oleh Muhammed bin Zayed Consevation (MbZ) yang berpusat di Abu Dhabi, dan telah dimulai dari tahun 2016, dan selesai pada tahun 2018 oleh 9 negara yaitu Abu Dhabi, Vanuatu, Timor Leste, Sri Lanka, Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Mozambique, dan Solomon Island.

Dalam pertemuan yang diadakan di Ruang Pertemuan Hotel Doubletree pada Senin 13 November 2017 dapat diambil beberapa poin penting dalam catatan tentang Inisiasi Kerjasama yang diantaranya: Pertama, KKP melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (Dit. KKHL) – Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), menargetkan 20 spesies perairan yang menjadi prioritas untuk dikelola dan dikonservasi, salah satunya adalah dugong atau dikenal sebagai duyung. Dugong ini merupakan salah satu jenis 35 mamalia laut yang berada di wilayah Indonesia. Dan salah satu daerah yang akan dijadikan wilayah kerja DSCP bersama adalah di Provinsi Bangka Belitung.

Kedua, Dugong dilindungi secara nasional melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Berdasarkan kriteria Lembaga Konservasi Internasional (IUCN), duyung (Dugong dugon) merupakan salah satu spesies yang bersifat rentan (vulnerable) terhadap kepunahan. Sementara Konvensi Internasional Perdagangan Flora dan Fauna yang Terancam Punah (CITES) memasukkan duyung ke dalam Apendiks 1 yang berarti tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apapun. Atas dasar hukum di atas, masyarakat tidak diperbolehkan memburu mamalia tersebut, baik sengaja maupun tidak sengaja, dan harus melepas liarkan apabila ditemukan atau tertangkap dalam keadaan hidup serta memberi laporan kepada pihak terkait yang dalam hal ini dapat disampaikan ke Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah masing-masing.
Ketiga, di dalam upaya konservasi dugong dan habitatnya di Indonesia, KKP mendapat dukungan dari United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) dan Muhammed bin Zayed Consevation (MbZ) di dalam sebuah Program Konservasi Duyung dan Lamun atau Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP). Program ini, dimulai dari tahun 2016 dan selesai pada tahun 2018, melibatkan berbagai pihak di antaranya yaitu Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI (P2O-LIPI), Instititut Pertanian Bogor (IPB) serta WWF Indonesia yang dalam juga membuat kemitraan-kemitraan dengan lembaga non-pemerintah di daerah-daerah yang memiliki banyaknya kasus Dugong terdampar.

Keempat, Isu dan permasalahan utama Dugong di Indonesia adalah keterbatasan data dan informasi, perburuan dan perdagangan ilegal, tertangkapnya dugong secara tidak sengaja (bycacth), kerusakan habitat pakannnya yaitu lamun, dan rentang remote area pengelolaan yang luas. Dengan demikian, dibutuhkan peran banyak pihak dalam upaya perlindungan dan pelestarian dugong di Indonesia. Bangka Belitung sendiri merupakan daerah yang memilki perairan laut yang luas yang berada di tiga pulau besar di Indonesia yaitu Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.

Keempat, dalam rangka meningkatkan efektifitas konservasi dugong dan lamun, KKP telah membentuk Komite Konservasi Dugong yang merupakan wadah koordinasi para pihak terkait baik pemerintah maupun LSM/ NGO yang dibentuk pada tahun 2017.

Tahun ini, telah dilaksanakan beberapa kali pertemuan rutin anggota komite tersebut. Terakhir, telah diadakan pertemuan pada tanggal 13 November 2017 di Hotel DoubleTree Jakarta, oleh KKP dengan para stakeholder DSCP yaitu LIPI, IPB, WWF Indonesia, LAMINA dan beberapa NGO yang berpotensi sebagai mitra dalam implementasi DSCP yaitu: Yayasan Pan Semujur Lestari yang bergerak di bidang Konservasi dan Perlindungan Biota Laut dan Underwater Archaeology yang ada di Pangkalpinang (wilayah kerja Bangka Belitung), LSM Burung Indonesia (BI) yang mempunyai Program Kemitraan Wallacea yang mencakup Kepulauan Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara di Indonesia, dan Timor Leste. Serta LSM Fauna dan Flora International (FFI) yang melakukan konservasi jenis di Raja Ampat dan Aceh.

Salah satu cara termudah ikut serta dalam berpartisipasi pelestarian Dugong adalah ikut menjadi volounteer (sukarelawan) bersama dengan pihak yang dijadikan mitra oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dalam hal ini YPSL (Yayasan Pan Semujur Lestari) yang mencoba berkontribusi dalam pengumpulan data dan informasi tentang kejadian kemunculan, tertangkap dan terdamparnya dugong di wilayah Bangka dan Belitung dan juga dapat mengikuti perkembangan dan penyampaian laporan ke fanpage: dscp.indonesia, twitter: @ditkkji, dan email : humas.prl@kkp.go.id untuk melengkapi data dan informasi yang sudah ada.(****).

 

No Response

Leave a reply "Menjadikan Babel Wilayah Kerja Baru Program DSCP INDONESIA (DUGONG SEAGRESS AND CONCERVATION PROJECT)"