by

Menjadi Sosok (Guru) Perempuan 4.0

-Opini-159 views

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat

Kaum perempuan masih dipandang sebagai entitas yang kurang piawai dalam mengelola pendidikan di Indonesia. Terbukti dalam catatan sejarah Republik Indonesia Raya tercinta, tak pernah ada satupun perempuan yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Perempuan disangsikan kapabilitasnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Benarkah demikian?

Ketimpangan gender masih tetap menjadi isu yang kompleks sampai pada tahun ini, tepat ketika kaum perempuan memperingati hari perempuan internasional. Sejalan dengan hal tersebut, tahun ini tema yang diangkat pada hari perempuan internasional ke 110 adalah balance for better. Balance for better dimaknai sebagai usaha untuk mewujudkan kesetaraan gender perempuan dan laki-laki.

Di sisi lain, perempuan lah yang selalu menjadi pemenang dalam ajang Global Teacher Prize. Global Teacher Prize merupakan sebuah ajang perdana diadakan Tahun 2015 untuk mengapresiasi guru terbaik di seluruh belahan bumi dan berhadiah 1 juta Dolar Amerika. Di tahun perdana pelaksanaannya, apresiasinya Global Teacher Prize diberikan kepada Nancie Atwell, guru perempuan dari pedesaan Maine, Amerika Serikat. Kali kedua penyelengaraan Global Teacher Prize, pemenangnya diberikan kepada Hanan Al Hroub, guru perempuan dari Bethlehem, Palestina. Global Teacher Prize Tahun 2017 berhasil diraih oleh Maggie MacDonnell, guru perempuan dari Salluit, Quebec, Kanada dan juara Global Teacher Prize Terbaru, yakni tahun 2018 jatuh kepada Andria Zafirakou, seorang guru perempuan dari Brent, London, Inggris.

Semua pemenang pada ajang Global Teacher Prize yang diborong oleh kaum perempuan membuktikan bahwa kompetensi guru perempuan mampu untuk disandingkan setara dengan laki-laki. Terlebih di era kecerdasan 4.0 yang dimulai sejak tahun 2011, perempuan semakin menunjukan eksistensi kepandaiannya dengan ikut hadir dalam segala bidang yang umumnya masih “dikuasai” laki-laki. Lantas bagaimana mencetak generasi perempuan yang memiliki jumlah yang setara dengan laki-laki dalam segala bidang di masa depan?
Guru perempuan memiliki kewajiban untuk memperjuangkannya. Semua yang terjadi di masa depan di mulai dari apa yang kita tanam saat ini. Memang realitas yang terdapat dikurikulum pendidikan kita masih menyuguhkan perkara yang menunjukan laki-laki berada pada sektor publik, sementara perempuan berada pada sektor domestik. Dengan kata lain, kurikulum yang memuat bahan ajar untuk siswa belum bernuansa netral ihwal gender, baik dalam ilustrasi kalimat maupun gambar yang sebagai pendukung dari penjelasan materi. Sebuah penelitian yang pernah Penulis baca menyuguhkan hasil bahwa buku teks sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai menengah mengindikasikan adanya potret peranan gender yang sesuai dengan norma sosial tradisonal, yakni mengakui superioritas laki-laki atas perempuan. Padahal suatu keniscayaan, semua siswa perempuan dan laki-laki diberikan kesempatan yang adil untuk berhasil dan maju disekolah.

Dalam observaasi tidak resmi yang Penulis lakukan selama Penulis menjadi guru sejak Tahun 2019, pengalaman belajar antara siswa perempuan dan siswa laki-laki dalam pembelajaran di kelas dan kegiatan yang dilakukan dilingkungan sekolah diketahui berbeda. Kemudian pengalaman belajar yang didapati berbeda antar gender siswa ini mempengaruhi keaktifan dan keikutsertaan belajar mereka dalam kelas, prestasi, dan hasil belajar mereka. Beberapa guru juga acapkali menanamkan nilai sosial dan stereotype yang telah mengakar di masyarakat mungkin secara tidak sengaja baik interaksi dengan sesama siswa maupun interaksi dengan guru, dan warga sekolah lainnya semisal yang seharusnya memindahkan kursi dan meja itu laki-laki, dan yang seharusnya menyapu kelas itu perempuan, juga cara melibatkan dan menilai siswa seringkali membela kaum laki-laki.

Awareness pemerintah terhadap kesetaraan gender Penulis nilai masih rendah. Tolak ukurnya tak pernah diadakannya pelatihan untuk guru perihal bagaimana memperlakukan siswa perempuan dan laki-laki secara adil dan menghapuskan streotype yang membudaya di masyarakat selama ini. Guru tidak pernah di tatar untuk peka dengan isu ini. Alangkah baiknya jika pemerintah bisa mengadakan pelatihan yang berfokus pada metode yang responsif terhadap gender.

Guru sebagai petani inti dari ladang pola pikir siswanya, harus memanfaatkan posisinya untuk menanam ulang pemahaman siswa tentang kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Stateginya dengan mendorong siswa perempuan dan laki-laki untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sama, semisal kegiatan yang dalam norma sosial tradisonal harusnya dilakukan oleh perempuan saja kini dilakukan bersama antara perempuan dan laki-laki, pun demikian dengan kegiatan yang dalam norma sosial tradisonal harusnya dilakukan oleh laki-laki saja, kini dilakukan bersama antara perempuan dan laki-laki. Guru utamanya guru perempuan tentunya berperan sebagai teladan, pemberi arahan, fasilitator, dan inspirator.

Strategi unggulan lain untuk memperjuangkan pembelajaran kesetaraan gender di sekolah adalah dengan menantang stereotype yang selama ini membudaya, termasuk dalam memberi tanggapan, menampilkan perilaku terhadap kebolehan siswa perempuan yang mampu mengerjakan pekerjaan di sekolah yang selama ini dikerjakan oleh laki-laki. Begitu juga sebaliknya. Selain itu, siswa perempuan juga ditawarkan untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler yang kebanyakan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut adalah laki-laki, dan guru berupaya untuk menyeimbangkan kuantitas antara siswa perempuan dan laki-laki dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut.

Akhir kata, Penulis berharap semoga dengan momentum hari perempuan internasional ini, para (guru) perempuan di masa 4.0 ini, memiliki semangat baru dalam memperjuangkan balance for better between male and female students at school. Selamat hari perempuan internasional, para (guru) perempuan yang hebat!!!!(***).

Comment

BERITA TERBARU