Menjadi Orang Tua Bukanlah Pekerjaan Paruh Waktu

Oleh : Denni Candra
Penulis & Founder Sahabat Aksara Indonesia
www.dennicandra.com

Denni Candra

Terungkapnya kasus bisnis prostitusi dan kejahatan human trafficking (perdagangan manusia) di Kota Muntok Kabupaten Bangka Barat baru-baru ini, cukup membuat miris kita semua khususnya para orang tua. Karena bisnis haram ini, melibatkan pelajar dibawah umur yang seharusnya fokus menata masa depan dan belajar di bangku sekolah. Tetapi, entah apa yang ada dipikiran mereka, sehingga menempuh jalan pintas yang menjanjikan keuntungan instan dan kenikmatan sesaat.
Tanpa memperbanyak dalih serta alasan atau pun saling lempar tanggung jawab, seharusnya hal ini menjadi perhatian kita semua mulai dari pemerintah daerah, guru dan para pendidik, terlebih lagi bagi para orang tua. Bagi para orang tua, hal ini menjadi semacam “warning” atau peringatan. Bahwa seiring kemajuan teknologi serta cepatnya arus informasi yang mengepung kehidupan anak-anak, sebagai orang tua kita juga dituntut untuk lebih waspada. Tidak cukup penanaman nilai-nilai positif dan perbaikan perilaku dibebankan hanya kepada para guru di sekolah. Namun, para orang tua juga harus ikut berpartisipasi aktif dan mengambil peran serta tanggung jawab lebih besar dalam membentuk atau mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi berkualitas yang memegang teguh nilai-nilai kebaikan.
Menjadi orang tua bukan hanya konsekuensi dari kehidupan berumah tangga dan efek dari hubungan biologis suami-istri. Namun, peran tersebut haruslah dijalani dengan perencanaan dan persiapan yang matang baik secara emosional juga persiapan keterampilan serta pengetahuan yang memadai. Kenyataan bahwa belum ada perguruan tinggi yang menyediakan jurusan ataupun fakultas yang mengkhususkan diri menyiapkan peserta didiknya untuk menjadi orang tua yang baik, seharusnya mendorong orang tua untuk lebih aktif lagi menggali dan meningkatkan kompetensi dirinya dalam keterampilan mengenai tumbuh kembang dan pengasuhan anak.
Dan itu semua harus dimulai dan berawal dari kondisi rumah tangga yang mendukung serta menghadirkan kenyamanan bagi terciptanya hubungan harmonis antara orang tua dan anak-anak. Hubungan yang harmonis dan saling mendukung merupakan kondisi yang harus selalu hadir dan dijaga keberadaannya dalam sebuah institusi keluarga. Sehingga rumah bisa menjadi semacam tempat meletakkan pondasi utama dan mengajarkan kepada anak-anak tentang nilai-nilai positif, baik itu mengenai perilaku sosial maupun perilaku spiritual yang kelak mereka butuhkan sebagai pegangan dalam menapaki lorong-lorong panjang kehidupan yang penuh dengan tantangan.

Keharusan Menanamkan Nilai Positif
Orang tua merupakan sosok pemegang otoritas tertinggi dalam keluarga yang mempunyai peran dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua sedari kecil akan sangat menentukan dalam pembentukan perilaku serta pandangan anak dalam kehidupannya di masa depan kelak.
Jika sedari kecil anak sudah diperlakukan dengan positif, misalnya dibiasakan dengan memberikan panggilan yang mereka sukai, diberikan apresiasi untuk setiap perbuatan baik yang mereka lakukan serta diberikan pemahaman ketika mereka berbuat sesuatu yang keliru, maka secara tidak sadar orang tua sudah mulai menginstall kebaikan yang pada akhirnya akan lebih mempermudah untuk menciptakan keharmonisan dalam interaksi dan komunikasi bersama anak-anak.
Penanaman nilai-nilai positif tersebut, tidak cukup hanya melalui perintah atau perkataan saja, namun juga mesti dilakukan dengan memberikan contoh serta teladan. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari sikap dan perilaku orang tuanya lebih penting ketimbang apa yang diperintah oleh orang tuanya. Bukankah Rasulullah sendiri berpesan bahwa orang tualah yang menentukan seorang anak menjadi menjadi majusi, nasrani, ataupun yahudi dari fitrahnya yang Islami.
Ingatlah, bahwasanya ada banyak alternatif, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak mau mendengarkan dan menjalankan apa yang diinginkan oleh orang tua, hanya terkadang orang tua menutup mata dari pilihan-pilihan tersebut.
Mungkin karena kemalasan, mungkin juga karena ego, atau karena memang sudah menutup diri untuk alternatif-alternatif itu. Bahkan yang lebih parahnya lagi para orang tua justru tidak mengetahui sebenarnya apa yang mereka inginkan dari anak-anaknya. Tidak ada salahnya sebagai orang tua mulai sekarang mencoba kreatif dalam mencari pilihan-pilihan dan cara-cara baru dalam berkomunikasi dengan anak. Pastikan juga bahwasanya kita sebagai orang tua mengerti apa yang kita inginkan dari anak-anak kita.
Satu hal yang mesti disadari bahwa menjadi orang tua bukanlah pekerjaan paruh waktu atau sambilan, namun ini merupakan tugas suci yang perlu keseriusan, butuh pengorbanan dan menuntut kerja keras secara terus menerus tanpa mengenal kata lelah, gagal apalagi menyerah. Semoga. (****).

 

No Response

Leave a reply "Menjadi Orang Tua Bukanlah Pekerjaan Paruh Waktu"