Menjadi Kesayangan Allah dengan Berhaji

  • Whatsapp

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat

Beberapa bagian kehidupan dari keluarga Nabi Ibrahim AS diabadikan Allah menjadi cikal bakal prosesi ibadah haji yang setiap tahun dilakukan umat islam dari seluruh dunia di Bulan Dzulhijjah.

Muat Lebih

Dikisahkan, pada suatu hari Nabi Ibrahim AS membawa istrinya yang bernama Siti Sarah yang memiliki kecantikan yang luar biasa dari tempat tinggal mereka di Palestina ke Mesir untuk menyiarkan agama yang ia bawa, agama Tauhid. Agama Tauhid adalah agama yang sama dengan agama yang dibawa Rasulullah. Pada saat itu, Mesir diperintah oleh seorang raja yang zalim, memiliki hobi mengambil istri orang, sehingga Nabi Ibrahim bersepakat dengan istrinya jika mereka telah berada di Mesir, mereka akan mengatakan bahwa mereka adalah saudara agar istrinya terhindar dari ketertarikan raja yang zalim tersebut. Setiap Raja Mesir itu ingin menyentuh Siti Sarah, dan Siti Sarah berdo’a kepada Allah dan tiba-tiba saja raja tersebut menjadi lumpuh. Hal itu terjadi berulang kali sehingga Raja Mesir menyuruh Siti Sarah pergi dari negerinya dengan menghadiahkan Siti Sarah seorang perempuan bernama Siti Hajar diikuti dengan Nabi Ibrahim AS yang akhirnya juga pergi meninggalkan Mesir.

Pasca kejadian itu, Siti Hajar hidup bersama suami istri tersebut. Siti Hajar memiliki selisih umur 15 tahun dengan Siti Sarah. Kala itu Siti Sarah berusia 30 tahun. Sampai Siti Sarah berusia 60 tahun, Siti Sarah dan Nabi Ibrahim AS belum memiliki anak. Dengan niat baik agar Nabi Ibrahim AS memiliki keturunan, Siti Sarah menghadiahkan Siti Hajar kepada Suaminya untuk dinikahi. Tak lama setelah menikah dengan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar pun hamil kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Singkat cerita, datanglah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar dan Ismail pergi dari rumah mereka di Palestina menuju Mekkah. Dahulu di Mekkah sudah terdapat Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Adam AS namun tinggal pondasinya saja setelah terjadi peristiwa banjir besar di zaman Nabi Nuh A.S.

Setelah peristiwa tersebut, Mekkah menjadi sebuah padang pasir tandus yang tidak ada kehidupan sama sekali. Sesampainya mereka di Mekkah, Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah untuk pulang ke Palestina meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di sana. Nabi Ibrahim AS adalah seorang ayah yang penyayang dan tentunya ia sedih meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus yang tidak ada kehidupan. Namun, karena ketakwaan Nabi Ibrahim AS yang begitu besar kepada Allah, ia menuruti perintah Allah sambil berdo’a dimana do’a yang dipanjatkannya diabadikan Allah dalam QS Ibrahim ayat 38 yang berbunyi: “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Ka’bah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Panasnya matahari yang terik di siang hari dan dinginnya malam yang luar biasa adalah situasi yang harus dihadapi Siti Hajar dengan anaknya Ismail yang masih bayi. Suatu hari habislah persediaan air minum Siti Hajar dan Ismail pun tak berhenti menangis karena kehausan. Siti Hajar melihat sekelilingnya berusaha mencari air untuk diminum anaknya, karena matahari yang begitu terik bersinar membuat dua buah bukit diantara tempat Siti Hajar tinggal bersama anaknya menampilkan fatamorgana yang dikira Siti Hajar adalah air. Berlarilah Siti Hajar ke Bukit Shofa untuk mengambil air, namun sesampainya di Bukit Shofa air tersebut tidak ada, ia justru melihat Bukit Marwa di depannya ada air, berlarilah ia menuju ke Bukit Marwah dan ternyata di Bukit Marwah tidak ada air.

Dari Bukit Marwah, ia melihat Bukit Shofa seperti ada air menggenang, berlarilah lagi ia ke Bukit Shofa begitu seterusnya sampai 7 kali ia berlari antara Bukit Shofa dan Bukit Marwah. Setelah tujuh kali berlari tanpa mendapatkan air, Siti Hajar pun turun dari Bukit Marwah menuju ketempat dimana ia meninggalkan anaknya. Alangkah terkejutnya ia, sesampai disana, ia melihat dibawah kaki anaknya terdapat mata air dan segeralah ia membuat cerukan kecil agar air tersebut mengalir ke cerukan yang ia buat sembari berujar “zam-zam” (berasal dari bahasa palestina yang artinya berkumpul).

Atas kehendak Allah, Negeri Yaman yang berada di Selatan Mekkah menderita kekeringan dan Bangsa Yaman hendak pindah Negeri Syam yang berada di Utara Mekkah. Negeri Syam terkenal sebagai negeri yang subur menjadi alasan Bangsa Yaman untuk berhijrah kesana. Segeralah Bangsa Yaman secara besar-besaran melakukan perjalanan menuju Negeri Syam, Namun ditengah perjalanan ketika melewati Mekkah, mereka mendapati Siti Hajar dan anaknya duduk di sebelah mata air dan meminta kesediaan Siti Hajar agar memperbolehkan mereka tinggal di dekat mata air tersebut.

Sejak saat itu, Mekkah menjadi sebuah peradaban yang subur dan banyak didiami orang. Nabi Ibrahim tercatat sejarah pernah mengunjungi anaknya Ismail di Mekkah sebanyak 2 kali. Pada kunjungan pertama Nabi Ibrahim AS kembali lagi ke Palestina, Namun pada kunjungan kedua Nabi Ibrahim AS menetap bersama dengan anaknya di Mekkah. Qadarullah pada kedua kunjungan, Nabi Ibrahim AS tidak bertemu dengan anaknya namun bertemu dengan istri dari anaknya. Pada kunjungan pertama, istri Ismail selalu mengeluhkan kehidupannya bersama dengan Ismail sehingga Nabi Ibrahim AS kemudian berpesan kepada Ismail melalui istrinya untuk mengganti palang pintu rumah mereka. Pesan itu memiliki arti bahwa Nabi Ibrahim AS menyuruh Ismail untuk menceraikan istrinya. Kemudian Ismail menceraikan istri pertamanya dan menikah lagi. Kali kedua kunjungan Nabi Ibrahim AS, istri Ismail sangat bersyukur dengan kehidupan yang dijalaninya bersama dengan Ismail sehingga Nabi Ibrahim AS pun berpesan kepada Ismail melalui istrinya untuk mempertahankan palang pintu rumah mereka.

Tak berapa lama hidup bercengkrama dengan Ismail, Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah yang luar biasa dari Allah untuk menyembelih Ismail di dekat Gunung Mina dan Nabi Ibrahim AS pun mengutarakannya ke Ismail. Ismail mengatakan siap menjalani apa yang diperintahkan Allah melalui mimpi ayahnya. Jawaban Ismail sungguh mencerminkan insan yang takwa kepada Allah. Kemudian mereka berdua pergi menuju tempat yang diperintahkan Alloh untuk menyembelih Ismail. Mereka telah sampai di Mina, namun belum sampai ditempat tujuan penyembelihan. Nabi Ibrahim melihat setan yang mencoba membuatnya ragu atas perintah Alloh tersebut. Nabi Ibrahim AS melempari kerikil kecil ke arah setan tersebut sambil membaca “Bismillahi Allahu Akbar” disetiap lemparan. Setanpun pergi dari situ setelah ia melemparinya sebanyak 7 kali. Nabi Ibrahim AS dan Ismail melanjutkan perjalanannya.

Namun, setan kembali muncul lagi ketika mereka melanjutkan perjalanan dan Nabi Ibrahim AS melempari kerikil kecil lagi ke arah setan yang muncul tersebut sambil membaca “Bismillahi Allahu Akbar” disetiap lemparan. Setanpun pergi dari situ setelah ia melemparinya sebanyak 7 kali. Kejadian ini berulang sebanyak 3 kali sebelum Nabi Ibrahim dan Ismail sampai di tempat sembelihan. Sesampainya mereka ditempat sembelihan, mereka mempersiapkan prosesi penyembelihan dan pada saat Nabi Ibrahim AS sudah mengangkat pedangnya dan mengayunkan kearah Ismail, pedang tesebut ditahan oleh Malaikat Jibril yang menggantikan Ismail dengan seekor domba.

Setelah kejadian itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk membangun kembali Ka’bah di pondasi yang telah di bangun Nabi Adam dahulu. Setelah selesai membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS lantas menyuruh Nabi Ismail AS mencari batu yang kokoh untuk memperkuat pondasi Ka’bah. Nabi Ismail AS pun berkeliling mencari batu yang kokoh dan datanglah Malaikat Jibril membawa Batu Hajar Aswad yang kemudian ia berikan kepada Nabi Ismail AS. Kemudian Nabi Ibrahim meletakan Hajar Aswad di pondasi Ka’bah (tempat hajar aswad sekarang).

Rupanya inilah rencana Allah atas kehidupan keluarga Nabi Ibrahim AS. Di Mekkah, terdapat mata air yang diberi nama zam-zam oleh Siti Hajar. Bukit Shofa dan Marwag berdiri kokoh disisi kiri dan kanan zam-zam, peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS yang digantikan Alloh oleh seekor domba, Ka’bah dibangun kembali dan diletakan Hajar Aswad untuk memperkokoh pondasinya.

Allah kemudian memerintahka kepada Nabi Ibrahim AS menyerukan kepada seluruh umat manusia untuk berhaji dan Nabi Ibrahim AS pun menuju Jabal Rahmah yang berada di Padang Arafah guna menyerukan perintah berhaji kepada seluruh umat manusia. Suara Nabi Ibrahim AS dibawa angin keseluruh pelosok bumi dan semua orang beriman mendengar seruan itu datang untuk berhaji.
Rangkaian semua yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya menjadi rangkaian ibadah haji seperti sekarang ini. Semoga cerita di atas menimbulkan rasa rindu kita sebagai umat islam untuk melakukan ibadah haji yang ternyata merupakan perintah Allah dan dirintis pembangunannya oleh Abul Anbiya Kesayangan Allah.

Pelaksanaan Ibadah Haji
Setelah masa Nabi Ibrahim AS usai dan digantikan oleh masa nabi-nabi lain pembawa wahyu Allah dan saat ini adalah masa akhir zaman dimana wahyu Allah diturunkan ke nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW juga menyerukan hal yang sama dengan apa yang di serukan oleh Nabi Ibrahim AS dahulu kepada umatnya yaitu melaksanakan haji. Melaksanakan haji adalah rukun umat islam yang kelima setelah mengucapkan syahadat, mengerjakan sholat, membayar zakat, dan melaksanakan puasa. Haji merupakan ibadah yang dilakukan setiap tahun oleh umat muslim seluruh dunia pada bulan Dzulhijah. Ibadah haji memiliki nilai historis yang luar biasa yang mencerminkan salah satu bentuk ketaatan hamba kepada Allah. Berdasarkan hadist Rasululloh, pelaksanaan ibadah haji dibedakan menjadi 3 macam yaitu: haji Ifrad, haji Qiran dan haji Tamattu.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan ibadah haji dan umrah sekaligus maka kerjakanlah, barangsiapa yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan haji saja maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan umrah saja maka kerjakanlah” (HR Ahmad).

Ironinya fakta yang ada saat ini menunjukan calon jamaah yang mendaftar haji sebagian besar berusia 40-50 tahun. Dengan waktu tunggu berkisar antara 10 sampai dengan 39 tahun berdasarkan daerah, calon jemaah haji yang berhasil mendapatkan kuota haji pada tahun yang bersangkutan telah menjadi golongan jamaah beresiko tinggi karena telah berumur lebih dari 50 tahun.

Hal ini berimbas pada jumlah angka kematian jamaah yang tinggi ketika melaksanakan ibadah haji. Tidak mengherankan, karena banyak orang yang mengatakan bahwa haji merupakan ibadah fisik. Artinya, kondisi fisik yang bugar sangat berpengaruh besar untuk berhasil melalui tiap tahapan prosesi ibadah haji.(***).

Pos terkait