Menjadi Guru Unggul

  • Whatsapp

Oleh: Dra. Robiati, S.Pd – Guru Sekolah Dasar Negeri 3 Sungailiat Bangka, Babel

Read More

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Republik Indonesia selalu mengingatkan untuk menghadirkan inovasi-inovasi, yakni model-model baru, cara baru dan nilai-nilai baru dalam pengelolaan suatu organisasi. Selain itu, cara-cara lama serta pola-pola lama yang tidak relevan dalam pengelolaan suatu organisasi dan pemerintahan, mesti ditinggalkan. Di lingkungan dunia pendidikan, pesan tersebut diterjemahkan dengan menghadirkan kebijakan Merdeka Belajar. Setidaknya ada 5 hal utama yang termaktub dalam kebijakan Merdeka Belajar, yaitu Pertama, semua pemangku kepentingan harus berdaya sekaligus memberdayakan. Dalam hal ini, salah satu yang penting adalah guru harus bisa menjadi guru penggerak. Kedua, kualitas layanan kepada siswa harus berorientasi, terutama kepada para siswa. Dalam hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim meminta agar ada penyederhanaan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ketiga, fokus kegiatan mengajar dan belajar di kelas harus dialihkan dari sekadar menguasai konten ke peningkatan kemampuan bernalar sekaligus meningkatkan karakter baik. Hal ini diimplementasikan melalui asesmen kompetensi minimum survei karakter. Keempat, sekolah harus menjadi unit inovasi yang salah satunya diterjemahkan dengan mengembalikan wewenang ujian kelulusan ke sekolah. Kelima, pemerintah akan lebih fokus menjadi enabler yang dapat memberdayakan ekosistem yang menjunjung budaya inovasi.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah (Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Guru merupakan seseorang yang mempunyai tugas mulia untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan serta bertanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas dalam membantu proses perkembangan siswa.

Sebagai landasan pendidikan yang paling dasar dalam membentuk generasi mencerdaskan bangsa, pondasi utama terletak pada Guru Pendidikan Dasar. Hal ini dikarenakan di pendidikan dasarlah  pembentukan karakter dari seorang peserta didik/murid/siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran dilakukan. Guru  merupakan pribadi yang akan digugu dan ditiru oleh peserta didik baik sikap, penampilan dan pengetahuan yang ada pada dirinya. Maka dari itu, perlu bagi seorang guru meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta karakter dalam membimbing peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar yang diharapkan bagi peserta didiknya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Undang-undang No.14 tahun 2015  dan Peraturan Pemerintah No.74 tahun 2008 tentang Guru, maka seorang guru harus dan atau memiliki kompetensi. Secara pengertian Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Dimana kompetensi ini meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Apabila semua kompetensi itu bisa dimaknai suatu tangungjawab moral yang mumpuni sebagai pertanggungjawaban seorang guru terhadap kewajibannya akan timbul seperti yang dinamakan guru profesional,  guru cerdas,  guru ideal, guru abad 21, guru revolusi industri 4.0, guru super, guru good dan juga muncul guru unggul (excellent teacher).

Secara umum ada beberapa disiplin ilmu dasar yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang guru, meliputi: a) penguasaan bidang studi (materi) pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan; b) memilih, mengembangkan kurikulum dan atau silabus sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

Dari pengetahuan dan kemampuan tersebut, maka kompetensi guru dapat dikategorikan atas: 1) memahami standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang keahliannya; 2) mampu memilih dan mengembangkan materi pelajaran; 3) menguasai materi, struktur, dan konsep pola pikir keilmuan yang mendukung bidang keahlian; 4) menguasai metode untuk melakukan pengembangan ilmu dan telaah kritis terkait dengan bidang keahlian; 5) kreatif dan inovatif dalam penerapan bidang ilmu yang terkait dengan bidang keahlian; 6) mampu mengembangkan kurikulum dan silabus yang terkait dengan bidang keahlian; 7) mampu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran; 8) mampu berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan maupun tulisan; 9) mampu memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran, j) berkomunikasi dan mengembangkan diri sebagai seorang guru.

Sebagai tindak lanjut dari memiliki kompetensi sebagai guru dan memiliki disiplin ilmu dasar, jika terus bekerja dan berusaha, maka akan didapatkan seorang guru unggul. Menurut Latif dkk dalam buku yang berjudul Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia dini yang dikutip oleh  Winda Widyaningrum dkk  (Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2019  Universitas Indraprasta PGRI Jakarta)  latif, dkk, menyebutkan dua istilah yaitu Guru cerdas dan Guru excellent.  Didalam buku tersebut menyebutkan tentang beberapa hal yang dimiliki oleh seorang guru yang excellent, yaitu: Pertama, Dapat mengerti apa yang anak ucapkan dan anak lakukan sehingga dapat memberikan respons, komentar yang positif pada anak; Kedua, Dapat memberikan feed back yang spesifik, bukan komentar yang umum; Ketiga, Dapat menjadi model bagi anak. Semua nilai luhur yang mau dibangun di anak dapat dimodelkan oleh guru utama; Keempat, Guru dapat mendemonstrasikan cara yang benar dalam melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan prosedur kerja yang seharusnya dilakukan;

Kelima, Guru dapat memberikan pertanyaan yang dapat mempengaruhi anak untuk maju; Keenam, Guru yang excellent adalah guru yang dapat memberikan pijakan pada anak agar mereka dapat belajar; Ketujuh, Guru yang excellent dapat membuat rencana kurikulum yang membuat anak berhasil mencapai tujuan pembelajarannya; Kedelapan, Guru yang excellent dapat memantau tahap perkembangan anak dan belajar anak melalui observasi yang detail dari waktu ke waktu dari main anak dan mengumpulkan hasil/milestone anak; Kesembilan, Guru yang excellent adalah yang dapat membangun jembatan antara rumah dan sekolah. Membangun kerja sama yang erat antara guru dan orang tua; Kesepuluh, Guru yang excellent adalah guru yang mempunya prinsip hidup, yakni papun yang saya lakukan untuk membantu orang lain (murid-murid) akan dikembalikan 1000 kali lipat dan tidak masalah apakah itu akan terjadi dalam masa hidupnya atau masa hidup anak-anak atau cucu-cucunya, karena hidupnya selalu terhubung dengan kehidupan generasi-generasi selanjutnya. Kesebelas, untuk menjadi guru yang excellent dituntut untuk terus belajar. Karena guru tidak dapat memberikan ke murid apa yang belum dia punya.

Ketika kita berbicara tentang guru, mari kita menyimak apa yang tertera pada buku yang berjudul “Teaching Outside the Box” karya Lou Anne Johnson tahun 2009 yang dikutip dalam kompasiana Maret 2016). Dia  membagi katagori guru menjadi tiga rasa dasar, yaitu (1) Super; (2) excellent, dan (3) good. Memilih menjadi salah satu diantaranya dipengaruhi oleh kekuatan personal, hubungan pertemanan, tujuan profesional, dan prioritas individu seseorang guru. Salah satu rasa dasar guru yang excellent yaitu mengajar dengan excellent mengeluarkan energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan mengajar super. Meskipun begitu, mengajar dengan excellent tetap dapat membuat lelah jika tidak hati-hati dalam menjaga keseimbangan pembagian waktu untuk diri dan keluarga. Guru-guru yang excellent menikmati pekerjaan mereka, tetapi tetap membatasi jumlah waktu dan energi dibaktikan untuk mengajar. Guru excellent peduli dan melakukan yang terbaik untuk murid, tetapi tidak mengorbankan kebutuhan keluarga. Para guru excellent juga bekerja lembur, karena untuk mengajar yang baik dibutuhkan waktu lembur yang tidak dibayar, tetapi memberi batasan waktu lembur yang dibutuhkan.

Tanpa memandang apa yang menjadi pilihan kita dalam menjadi seorang guru, baik itu guru – guru profesional,  guru cerdas,  guru ideal, guru abad 21, guru revolusi industri 4.0, guru rasa super, guru rasa good dan juga muncul guru rasa unggul, kita tetaplah seseorang yang memberikan kontribusi besar kepada masyarakat dan bangsa dalam menjalankan tugus mulia seorang guru guna memberikan yang terbaik dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi anak bangsa, karena kita tahu salah satu guru yang unggul yaitu Guru yang excellent, yaitu guru yang mempunya prinsip hidup ‘apapun yang saya lakukan untuk membantu orang lain (murid-murid) akan dikembalikan 1000 kali lipat, dan tidak masalah apakah itu akan terjadi dalam masa hidupnya atau masa hidup anak-anak atau cucu-cucunya, karena hidupnya selalu terhubung dengan kehidupan generasi-generasi selanjutnya.

Selamat mencoba menjadi guru excellent dan yang di cintai siswanya. Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan siswanya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati,  dan kepergiannya ditangisi. (***)

Related posts