Menjadi Guru Penerobos

  • Whatsapp

Oleh: Yudi Sapriyanto, S.Pd

Muat Lebih

Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan

“Menjadi Guru Penerobos merupakan konsekuensi sebagai seorang Guru. Menjadi Guru Penerobos harus mengalahkan gengsi dan rasa malu mendidik di luar kewajaran. Di luar kewajaran karena tidak biasa dilakukan pendidik pada umumnya. Mendidik dengan berpusat pada peserta didik, mendidik dengan kesabaran maksimal dan menerapkan kooperatif learning.”

Guru adalah Profesi Mulia

Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi  hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak. Namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam pendidikan (Dewantara I; 2004). Guru selaku pendidik merupakan pelaku utama perubahan. Guru melahirkan perubahan, menelorkan pembaharuan dan menetaskan kebaikan bagi zaman. Profesi Guru mulia karena menalarkan mimpi masa depan dan membawanya menjadi kenyataan hari ini. Pengemban visi, mewujudkan misi dan melaksanakan tujuan para visioner sehingga alam terang benderang dari zaman kegelapan. Guru mulia karena selaku kader zaman yang senantiasa memberikan kebermanfaatan bagi setiap insan dan keberadaan lingkungan.

Saat ini, sayangnya sebagian Guru masih tidak menyadari peranan vitalnya selaku pendidik yang kebaikannya bukan saja berimbas pada dirinya, namun keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sehingga terkadang guru memiliki paradigma yang paradoks atau parsial. Guru kurang memahami tujuan pendidikan, bahkan masih terdapat guru kurang memahami akan kemuliaan dirinya selaku pendidik. Tujuan keberadaan seorang Guru selaku aktor utama terhadap perubahan, menjadikan seorang Guru harus bijak terhadap keberadaan dirinya demi kebermanfaatan pada peserta didiknya.

Sentuhan Guru melalui pengetahuan yang diajarkan, keterampilan yang dibimbingnya dan karakter yang diberikan seharusnya menjadikan peserta didik lebih baik dari sebelum mendapatkan pendidikan. Keberadaan Guru dengan peranan esensial ini setidaknya membutuhkan kompetensi pendidik yang dimilikinya relevan dengan zamannya. Kompetensi guru setidaknya dengan empat kompetensi (kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial) yang dimiliki saat ini perlu diasah lagi agar memiliki daya asah, asih dan asuh yang semakin efektif. Oleh karena itu, dalam mengembalikan peranan seorang guru yang vital dan urgen dalam pendidikannya bukan saja bijak terhadap keberadaan dirinya tetapi diharuskan arif terhadap era dirinya berada.

Era Revolusi 4.0 sebagai Pijakan Perubahan

Revolusi 4.0 membawa pengaruh besar terhadap pendidikan saat ini. Pendidikan abad 21 yang dikenal sekarang, untuk mempersiapkan SDM abad 21 pada peserta didik sejak dini melalui pembelajaran. Kurikulum 2013 yang saat ini berlaku pada pembelajaran, perlu mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical thinking and problem solving), kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama (Communication and collaboration), kemampuan mencipta dan memperbaharui (Creativity and innovation Skills), kemampuan belajar kontektual (Contextual learning skills), kemampuan literasi informasi, teknologi dan media (Information, technology and media literacy skills). Pentingnya membiasakan peserta didik dalam pembelajaran dengan menerapkan keterampilan belajar abad 21 merupakan hal yang sebaiknya guru lakukan.

Saatnya menjadi Guru Penerobos

Penerobos berasal dari kata dasar terobos. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata menerobos adalah menembus atau mendobrak. Perlunya Guru menjadi orang yang menembus atau mendobrak kebiasaan agar peserta didiknya dapat menerapkan keterampilan belajar abad 21. Menurut Susan Powter, “kebiasaan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun, tidak hanya membutuhkan satu hari untuk mengubahnya”.

Sejatinya menjadi seorang Guru penerobos sebaiknya Guru memiliki tiga hal, diantaranya selalu memiliki pandangan postif dan berprasangka baik, menjadikan sekolah selalu menjadi tempat belajar dan seorang Guru penerobos adalah seorang pemimpin, sehingga prilakunya dalam mempengaruhi peserta didik. Seorang Guru penerobos sadar bahwa dirinya, visi dan citra dirinya akan dicontoh oleh peserta didik.

Menerobos Zona Nyaman

Seorang Guru Penerobos tidak pernah puas terhadap hasil yang saat ini didapat. Merasa cukup terhadap hasil yang diterima dalam mendidik, sehingga nyaman dan tidak mau berubah adalah cikal sebuah kemunduran. Seorang pendidik tidak hanyut dalam urusan administrasi ensik, melainkan yang lebih penting daripada itu agar peserta didik dapat difasilitasi untuk dapat mengenal metode dirinya dalam belajar. Peserta didik yang mampu mengenal cara dirinya dalam belajar akan membuat peserta didik sadar akan pentingnya belajar dan menjadikan belajar sebagai sebuah kebutuhan. Guru Penerobos harus membuat dirinya keluar dari zona nyaman yang membuat dirinya terus berpikir kritis, melakukan kolaborasi dalam mendidik, meningkatkan kemampuan komunikasi dan terus melakukan inovasi serta meningkatkan kreatifitas mendidik.

Faktor lingkungan terkadang membentuk karakter Guru menjadi stagnan. Apalagi sudah “merasa berhasil” dan hanyut dalam lingkungan kerja yang bertahun-tahun yang tidak berubah. Padahal lingkungan yang terus berubah menuntut perubahan yang terus menerus sebagai bagian karakter dari seorang pendidik. Pada aspek budaya kerja, contohnya dak kawa nyusah (tidak mau repot), besungkun-sungkun (menyuruh-nyuruh orang lain), ku dak pacak padahal belum dicube (merasa tidak bisa sebelum memulai), dak kanggo (seperti pantangan sehingga tidak boleh bekerja) dan lain-lain. Budaya seperti ini terkadang tidak dipahami secara logis dan ilmiah, sehingga membuat guru tidak berani memulai, tidak berani menjalani proses pembelajaran, tidak berani berkorban, tidak berani dievaluasi dan tidak berani yang lainnya, sehingga membuat Guru tidak berkembang dan profesional menerapkan pendidikan abad 21.

Menjadi Guru Penerobos merupakan konsekuensi sebagai seorang Guru. Menjadi Guru Penerobos harus mengalahkan gengsi dan rasa malu mendidik diluar kewajaran. Diluar kewajaran, karena tidak biasa dilakukan pendidik pada umumnya. Mendidik dengan berpusat pada peserta didik, mendidik dengan kesabaran maksimal dan menerapkan kooperatif learning. 

Sukses Bersama Guru Penerobos

Menjadi Guru Penerobos adalah menjadi sikap mental penting seorang guru. Menjadi Guru yang mampu memfasilitasi pembelajaran dan membelajarkan peserta didiknya sebanyak mungkin untuk mendapatkan hikmah (pengetahuan, keterampilan dan karakter) kebaikan merupakan langkah-langkah kecil seorang guru dalam menata langkah-langkah besar peserta didik dalam mencapai impiannya yang tidak sekedar dalam mencetak dunia, namun impian Guru Penerobos untuk menyebarkan hikmah yang merupakan amal jariyah mencapai kunci surga. Siapkah kita? (***)

Pos terkait