Menjadi Guru Milenial

  • Whatsapp

Oleh: Jasman Jalil

Kepala SMAN 1 Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan

Read More

Era milenium diisi oleh kaum milenial. Wajar, karena memang masanya para milenial. Pemerintah pun ikut-ikutan latah dengan arus milenial. Terbukti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat ini baru menginjak usia 35 tahun. Disusul juga Staf Khusus Presiden yang notabene berasal dari kaum milenial, 23 tahun hingga usia 36 tahun.

Jangan sampai kita kalah dengan Mas Menteri dan Staf Khusus-nya Presiden Joko Widodo. Guru-guru pun harus milenial. Menjadi Guru yang milenial adalah suatu keharusan. Milenial yang maksud di sini adalah spirit-nya, semangat guru-guru masa kini. Walaupun banyak guru kita yang sudah tidak milenial dalam kategori usia. Tetapi, guru-guru harus tetap upgrade spirit untuk tetap milenial.

Guru milenial tidak harus berpuas diri dengan capaian yang telah diraih saat ini. Guru-guru jangan pernah merasa cukup dengan ilmu dan pengalaman yang sudah dimiliki. Guru harus selalu memiliki “rasa rakus” terhadap ilmu pengetahuan. Guru harus terus belajar.

Dr. Zaprulkhan secara ekstrim menuliskan guru yang berhenti belajar sebaiknya berhenti juga dalam mengajar. Sindiran keras ini memberikan pesan kepada seluruh elemen guru harus terus belajar untuk dapat meng-update pengetahuan dan meng-upgrade kompetensi.

Sosok milenial yang “diajak” Presiden Jokowi menjadi bagian jajarannya tidak lain karena jiwa yang inovatifnya. Dua diantaranya, melalui aplikasi bisnisnya dan aplikasi “guru maya” mereka mampu menyihir kehidupan masyarakat menjadi lebih praktis. Gagasan inovatifnya mempersempit ruang kesulitan menjadi lebih mudah.

Pesan tersirat dari dua hal ini adalah guru zaman sekarang harus inovatif. Guru harus mampu melaksanakan pengembangan profesi secara optimal. Guru milenial adalah guru yang mampu mengembangkan diri demi kemajuan pembelajaran di kelasnya.

Guru milenial tidak diukur secara usia. Guru milenial diukur secara kompetensi ataupun pola pikirnya. Karena tidak sedikit guru fresh graduate tapi berpola pikir kolot. Apalagi yang sudah duduk di zona nyaman. Kekolotannya semakin menjadi-jadi.

Guru milenial harus visioner. Guru harus mampu menjadi pemikir apa yang akan dilakukan di masa depan. Guru milenial yang visioner harus mampu melihat tantangan yang ada demi perbaikan kompetensi yang lebih berkualitas. Guru visioner adalah guru yang hari ini sudah menyusun rencana aksi untuk beberapa waktu ke depan.

Guru milenial bukan guru yang termatikan dengan rutinitas hariannya. Pagi hari berangkat ke sekolah sembari menunggu sore untuk pulang ke rumah. Tidak ada aktivitas lebih bermakna dilakukan selain masuk kelas. Bahkan, terkadang guru-guru hanya sekedar melepas kewajiban masuk kelas dengan pembelajaran yang tak terencana sama sekali.

Pembebasan ala Mas Menteri disambut hangat bahkan dengan penuh kegirangan. Pesan merdeka belajar dimaknai sebatas kulit. Rencana pembelajaran yang selama ini komprehensif dianggap mencekik. Makna merdeka belajar ala Mas Menteri seolah memjadi pembela untuk tetap stay pada kuadran empat; guru yang tidak berkompeten dan tidak inovatif.

Guru yang tidak inovatif akan mudah tertinggal oleh zaman. Guru yang demikian tidak akan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka akan terkalahkan dan tergantikan dengan “guru maya” miliknya Mas Belva.

Guru milenial jangan sampai kalah dengan sepak terjang “guru maya”. Guru yang hanya ditemui anak-anak melalui aplikasi online. Guru maya tidak bertatap muka secara langsung dengan anak-anak. Tetapi mereka mampu menarik atensi peserta belajar dengan luar biasa. Bahkan, orang tua pun ikut latah membanggakan “guru maya”. Anak-anak mereka pintar, berprestasi, dan sebagainya atas jasa guru-guru online. So, biaya mahal pun tak segan dikorbankan untuk tetap bisa sekolah di dunia internet.

Artinya apa? Eksistensi guru-guru di kelas bakal tergusur secara pelan-pelan. Guru yang tetap dengan gaya jadulnya akan tergerus oleh keberadaan “guru maya”. Orang tua dan anak akan lebih percaya dengan guru di aplikasi gawainya.

Hanya saja, “guru maya” tidak mampu memegang perang guru seutuhnya. Guru maya hanya bergerak pada ranah pikir. Sedangkan guru di sekolah merangkap dalam empat ranah secara total dan komprehensif; hati, rasa dan karsa, raga, dan pikir.

Peran guru dalam mendidik tidak bisa digantikan oleh mesin. Guru adalah orang tua kedua bagi semua peserta didik. Guru memiliki peran menanamkan karakter kepada peserta didik. Sebagai suru milenial, kita harus mampu mendidik peserta didik dengan metode-metode yang identik dengan karakteristik anak-anak didiknya.

Cara paling mudah agar guru di sekolah tidak kalah dengan guru maya adalah menjadi guru milenial. Guru milenial adalah guru yang mampu melakukan perubahan diri (Self-Disruption), kata Rheinald Kasali. Berubah secara pola pikir, kompetensi, maupun keteladanan bagi anak-anak didiknya. Pola pikir bekaitan dengan niat, motivasi, maupun totalitas dalam mengajar. Kompetensi berbicara pada ranah kemampuan mengajar dan penguasaan materi pembelajaran. Sedangkan keteladanan kaitannya dengan adab, perilaku, dan gaya hidup sang guru.

 Self-Disruption bukan sekedar perubahan. Tetapi perubahan yang membawa masa depan menjadi masa kini. Visi seorang guru harus berada jauh ke depan. Kemajuan teknologi serta factor-faktor lain harus mampu dikolaborasikan menjadi sebuah potensi. Sehingga, guru mampu merubah gaya konvensional dengan dengan gaya yang disruptive.

Guru harus menjadi teladan. Kalau hanya mampu berada di ranah olah pikir. Guru di sekolah tidak ada bedanya dengan guru maya. Karena Ki Hajar Dewantara mengamanatkan empat ranah tugas guru, olah pikir, olah raga, olah hati, dan olah rasa dan karsa. Dalam kurikulum pendidikan kita sudah tercantum dalam lingkup empat kompetensi; kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap social, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.

Semoga ke depan guru-guru kita menjadi guru milenial. Guru-guru yang bisa membawa pendidikan Indonesia terbang tinggi mengalahkan bangsa lain, baik secara karakter (spiritual dan sikap social), pengetahuan, maupun keterampilan (skil). Wallahu a’lam. (***)

Related posts