Menikah karena Kesepakatan atau Sekadar Pembuktian?

  • Whatsapp
Jarir Idris
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling IAIN Surakarta

Bulan syawwal adalah bulan pembuktian, dimana seorang hamba yang sudah terbiasa dengan nuansa ramadan, lantas tidak seolah terlepas dari belenggu yang mengekang. Melainkan, menjadikan suatu momen untuk senantiasa meningkatkan ketaan dan itibar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan syawwal selain berpuasa selama enam hari, adalah anjuran untuk melaksanakan pernikahan bagi yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah, tentunya adalah suatu keharusan untuk memupuk kembali keharmonisan dalam rumah tangga. Karena menikah adalah ibadah yang dibawa sampai mati, bahkan sampai hidup lagi.

Read More

Dalam sebuah pernikahan era kini, biasanya tidak lagi banyak pertimbangan seperti masa lalu. Dasarnya adalah suka sama suka, kemudian menikah begitu saja tanpa memikirkan efek jangka panjang. Jika dasarnya adalah suka sama suka, maka tidak menutup kemungkinan rasa suka pun akan ada masa naik dan ada masa turunnya, karena rasa suka adalah masalah hati. Ketika berbicara tentang hati, memang tidak akan ada habisnya. Urusan hati, tidak ada yang bisa memaksa apalagi mengintimidasi. Apa yang dilakukan tanpa menggunakan hati, maka akan timbul perilaku keterpaksaan yang ibaratkan bom waktu tinggal menunggu kapan akan meledaknya.

Anjuran baginda Nabi, menikahi wanita itu karena empat hal, yakni karena cantiknya, hartanya, keturunannya dan agamanya. Namun siapa sangka, jika dikembalikan kepada hati, maka tentunya akan berbeda perkara. Apalagi kaum muda masa kini, yang sedang trend menikah di bulan syawwal. Tetapi, apakah menikah itu karena komitmen (kesepakatan) atau menikah sekadar pembuktian?

Menikah karena pembuktian adalah menikah karena memenuhi tantangan sang pujaan hati untuk segera melamar dan melangsungkan pernikahan. Hal ini tentunya tidak baik jika tidak diimbangi dengan komitmen bersama dalam membangun rumah tangga. Jika sekadar pembuktian semata, maka selesai akad nikah tentunya pembuktian itu sudah dilaksanakan. Pun jikalau nantinya sang suami tidak melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, tentu tidak ada salahnya karena memang menikah hanya sekadar membuktikan dan tidak lebih dari itu.

Related posts