Mengokohkan Perjuangan Islam di Tengah Wabah COVID-19

  • Whatsapp
Ummu Khadijah
Muslimah Bangka Belitung

Segala puji hanya milik Allah SWT yang masih memberikan nikmat kesempatan dan kesehatan kepada kita untuk berjumpa dan mengisi bulan Ramadhan 1441 H dengan beribadah kepada Allah SWT. Tentunya Ramadan kali ini terdapat perbedaan dari Ramadan sebelumnya, karena seluruh umat muslim di dunia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan di tengah wabah pandemi COVID-19. Beberapa kegiatan ibadah termasuk salat tarawih, hingga pengajian sore menjelang berbuka, yang biasanya dilaksanakan secara offline di bulan Ramadan juga terpaksa dihentikan untuk menghindari penularan Corona. Sebagai gantinya, banyak kajian dan dakwah diadakan secara online, sehingga agenda Ramadan tetap dapat dijalankan. Tentunya kesempatan berjumpa dengan Ramadan tahun ini harus tetap kita maksimalkan untuk memperbanyak taqarrub illallah karena belum tentu kita berjumpa kembali dengan Ramadan tahun depan.

Sesungguhnya semua ibadah yang kita lakukan adalah dalam rangka untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Di antara hikmah disyariatkannya ibadah shaum adalah agar kita menjadi seorang mukmin yang bertakwa, la’allakum tattaqun. Allah SWT berfirman:

Read More

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Apa yang disebut dengan takwa? Imam ath-Thabari, saat menafsirkan ayat di atas, antara lain mengutip Al-Hasan yang  menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang telah Allah haramkan atas diri mereka dan melaksanakan perkara apa saja yang telah Allah titahkan atas diri mereka.”

Jika umat ini mengerjakan ibadah puasa dengan benar (sesuai tuntunan al-Quran dan as-Sunnah) dan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, niscaya takwa sebagai hikmah puasa itu akan dapat terwujud dalam dirinya. Maka idealnya usai Ramadhan, setiap Mukmin senantiasa takut terhadap murka Allah SWT. Lalu ia berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ia berupaya menjauhi kesyirikan. Ia senantiasa menjalankan ketaatan. Ia takut untuk melakukan perkara-perkara yang haram. Ia senantiasa berupaya menjalankan semua kewajiban yang telah Allah SWT bebankan kepada dirinya.

Menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya tentu dengan mengamalkan seluruh syariah-Nya baik terkait aqidah dan ubudiah; makanan, minuman, pakaian dan akhlak; muamalah (ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya, dll); maupun ‘uqubat (sanksi hukum) seperti hudud, jinayat, ta’zir maupun mukhalafat. Bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan salat, melaksanakan puasa Ramadan atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah; sementara ia biasa memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat dan menolak penerapan syariah secara kaffah. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya,  dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian” (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Imam Ibnu Katsir rahimahulLah menegaskan dalam tafsirnya, bahwa dalam ayat ini Allah SWT menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada Dia serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah Allah SWT, melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya dengan semaksimal mungkin.

Tentang kewajiban menjalankan seluruh syariah Islam dijelaskan  oleh Al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil: “Frasa ayat ‘Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan’ merupakan indikasi (qarinah) atas kewajiban dari perintah Allah dalam ayat yang agung ini untuk berislam secara totalitas.”

Semua bentuk ibadah mahdhah yang kita lakukan seperti shalat, shaum, zakat, haji sudah seharusnya semakin memperkuat ketaatan kita kepada hukum-hukum Allah SWT secara menyeluruh. Shaum kita  pun sepantasnya semakin mengokohkan perjuangan kita untuk menegakkan hukum Allah SWT baik dalah ranah individu, masyarakat maupun Negara. Perjuangan menjadi hamba-hamba terbaik di hadapan Allah subhanahu wa Ta’ala. Sejarah telah mencatat kemenangan Islam banyak terjadi di bulan Ramadhan. Dimasa Rasulullah SAW dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim, Ramadhan telah dijadikan sebagai bulan perjuangan untuk meninggikan panji-panji Islam Al Liwa’ dan Ar Rayah.

Pada tahun kedua hijriyah terjadi perang Badar al Kubro. Kaum muslim memenangkannya melawan kebatilan dan kemusyrikan. Pada 21 Ramadan tahun kedelapan hijriyah, kota suci Makkah ditaklukan. Peristiwa Fathul Makkah menjadi tanda bahwa Islam mulai tersebar ke seluruh jazirah Arab.

Di bulan Ramadan tahun kesembilan hijriyah, perjuangan dan keikhlasan kaum muslim teruji dalam perang Tabuk. Saat itu, perjalanan menempuh wilayah Tabuk sangat berat. Dalam kondisi berpuasa, medan yang berat harus dialalui kaum muslimin. Yakni teriknya matahari yang begitu menyengat. Hingga di antara kaum muslim ada yang merasa berat hati memenuhi seruan Rasulullah SAW untuk berjihad. Disinilah seleksi itu terjadi. Antara pejuang dan pecundang.

Belajar dari kegigihan Rasulullah SAW dan para sahabat, mari jadikan Ramadan sebagai momen sebaik-baiknya perjuangan sekaligus momen mengokohkan perjuangan islam di tengah mewabahnya Covid-19. Perjuangan untuk terus membumikan Islam sebagai jalan kehidupan. Mendakwahkannya agar masyarakat semakin memahami dan mencintai ajaran Islam. Agar masyarakat mampu menerapkannya dalam kehidupan.

Ramadan ialah perjuangan. Perjuangan mengendalikan hawa nafsu. Tidak sekadar menahan diri dari lapar dan haus, akan tetapi mencegah diri dari dosa. Ramadan itu perjuangan. Berjuang membersihkan diri dari segala dosa. Hijrah dari kemaksiatan menuju ketakwaan. Yaitu, ketaatan total pada Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadan senantiasa terjaga. Menjadikan diri kita hamba bertakwa nan istiqomah. Berpegang teguh pada Islam hingga akhir hayat. Sampai Allah memanggil kita pulang dengan gelar muttaqin.  Wallahu a’lam bisshowab.(***).

JustForex

Related posts