Mengisi Kemerdekaan dengan IMTAQ

No comment 417 views

Oleh: Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI dan Budi Pekerti SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Tujuh Puluh Dua Tahun bangsa ini menghela nafas merdeka dari cegkraman kolonial dan mengisi kemerdekaan dengan fase-fase pembangun dan beradaban di segala lini. Bangsa ini kian beranjak menjadi negara yang maju, namun perlu mempertanyakan juga individu-individu yang justru terpuruk dalam pemujaan benda dan pergaulan bebas, yang menjurus pada rusaknya nilai-nilai moral.

Peradaban bukan hanya pencapaian teknologi maha canggih, namun juga keteraturan sosial. Bila demikian, masyarakat madani yang diimpikan adalah sebuah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.

Membicarakan masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim, dituntut untuk mewujudkan masyarakat yang terikat ukhuwah Islamiyyah (ikatan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyyah (ikatan kemanusiaan) dalam bingkai NKRI. Peran ormas Islam dalam masyarakat madani, adalah menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai landasan tata kehidupan mereka. Di dalamnya terisi dengan individu-individu yang bebas dari sikap menzalimi diri sendiri. Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi dan ideologisasi nilai-nilai kebaikan dan keimanan.

Masyarakat yang religius, yang seluruh komponennya bekerja sama dalam kebaikan, tolong-menolong dalam menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan keimanan. Masyarakat yang adil dan makmur, yang melindungi warganya, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut menjaga ketertiban dunia. Suatu masyarakat dan bangsa yang hidup berdampingan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, masyarakat dengan budaya takwa.

Indonesia yang dicitakan adalah kondisi masyarakat yang hidup penuh dengan kasih-sayang, yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda, laki-laki bahu membahu dengan perempuan, dalam pluralitas kebudayaan. Sebuah taman sari kehidupan kolektif, yang bermuara pada terjaminnya manusia dalam memenuhi 5 kebutuhan primer hidupnya (maqosid syariah), yakni perlindungan atas: agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Masyarakat adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

Lalu, di mana peran iman dan taqwa (IMTAQ) dalam pembangunan peradaban Indonesia madani? Ada pada jantung peradaban itu sendiri. Alasannya sederhana, karena Indonesia madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.

Masyarakat madani sangat bergantung manusia menjadi obyek dan subyek. Karena membangun peradaban madani ini, bertumpu pada manusia sebagai obyek sekaligus subyek (aktor), maka pembangunan manusia ini perlu dijalankan secara terpadu antara sisi brain (aqliyah), mind (qolbiyah), dan body (jasadiyah). Pada titik inilah pentingan Imtaq-spiritualitas-religiusitas guna membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya menuju peradaban madani atau dalam bahasa yang lebih operasional, menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya. Sebab, perlu memandang kebodohan (rendahnya kualitas pendidikan), kekerasan (hilangnya kesantunan dan kedamaian dalam menyelesaikan segala bentuk konflik), serta keterbelakangan (kemandegan dan kejumudan) sebagai musuh sosial bangsa memerlukan kecerdasan bukan hanya dari sisi intelektual/rasional (IQ).

Namun, IQ harus ditunjang sisi emosional (EQ) dan spiritual (SQ), agar sempurnalah sosok manusia Indonesia (insan kamil). Sisi emosional dan spiritual perlu mendapat perhatian yang memadai dalam proses pembangunan manusia Indonesia ke depan. Manusia yang cerdas paripurna itu, akan lebih mampu menanggung beban dan menghadapi segenap cobaan hidup (adeversity quotient/AQ) dalam menggerakkan roda dan sebagai subyek pembangunan bangsa.

Manusia yang seimbang antara sisi intelektual, emosional dan spiritual itu, sangat menyadari posisi dirinya dan tujuan yang akan dicapainya. Mereka tidak akan mudah mengalami krisis identitas sebagaimana terlihat pada sebagian warga di sekelilingnya, sehingga mereka dapat berperan sebagai unsur pengubah lingkungan dan pengarah masyarakat untuk menuju masyarakat madani. Bagi insan kamil sebagai subyek masyarakat madani, kesalehan bukan hanya semata bermakna ketaatan menjalankan ritual agama dan ketentuan hukum, melainkan juga mengobarkan spirit agama yang membebaskan dan substansi hukum yang menjunjung keadilan dan kebenaran.

Kesalehan (ascetism) berpangkal dari iman (faith) dan taqwa (pious), yang akhirnya melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Karenanya, menjadi jelas bila Imtaq-spiritualitas-relijiusitas menjadi strategis dalam pembangunan peradaban Indonesia madani.

Selain faktor-faktor nomatif, untuk mewujudkan pembangunan peradaban Indonesia madani, para aktornya harus memiliki kredebilitas yang cukup (credibility agent of change). Tanpa syarat kualitas ini, maka peradaban yang dicitakan tidak akan pernah terwujud apalagi membawa berkah bagi kehidupan kolektif. Tiga syarat kredibilitas itu adalah: integritas, akseptabilitas dan profesionalitas.

Dengan demikian, peran Imtaq menjadi penting, strategis dan dominan dalam seluruh bangunan peradaban Indonesia Madani. Imtaq menjadi ruh dan spirit peradaban Indonesia madani, yang menyiadakan basis epos, etos dan elan vital dinamika transformasi bangsa menuju keunggulan.(****).

No Response

Leave a reply "Mengisi Kemerdekaan dengan IMTAQ"