Mengintip Angka Kematian Ibu di Babel

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

lbu adalah figur perempuan yang paling berjasa dalam kehidupan seorang anak. Kasih ibu sepanjang masa, begitulah peribahasa yang kita kenal untuk menggambarkan betapa besarnya kasih sayang ibu untuk anaknya. Tak ada perumpamaan seindah apapun mungkin yang sebanding dengan realita kasih sayang yang ibu berikan dengan tulus kepada kita. lbu adalah anggota keluarga yang berperan penting dalam mengatur semua terkait urusan rumah tangga, pendidikan anak dan kesehatan seluruh keluarga. Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, ibu merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesehatan ibu mendapat perhatian khusus. Penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu penting untuk dilakukan pemantauan. Hal tersebut dikarenakan Angka Kematian lbu (AKI) merupakan salah satu indikator yang cukup peka dan representatif terhadap upaya dalam menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah.

AKI masih menjadi permasalahan di dunia sampai saat ini. AKI merupakan salah satu indikator derajat kesehatan di suatu negara yang menunjukkan kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan, kapasitas pelayanan kesehatan, kualitas pendidikan dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan lingkungan, sosial budaya serta hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan.

Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari atau 6 minggu setelah berakhirnya kehamilan, yang diakibatkan oleh semua faktor yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu sekitar 359 per 100.000 kelahiran hidup (KH). Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI tahun 1991, yaitu sekitar 390 per 100.000 KH. Kemudian pada Tahun 2015, berdasarkan SDKI, angka ini menurun lagi, menjadi sebesar 305 per 100.000 KH. Merujuk kepada target global MDGs (Millenium Development Gools) ke-5 yaitu menurunkan Angka Kematian lbu (AKI) menjadi 102 per 100.000 KH pada tahun 2015, dan mengacu ke kondisi saat ini, maka target MDGs ke-5 untuk menurunkan AKI adalah offtrack, artinya diperlukan kerja keras dan sungguh­sungguh untuk mencapainya.

Hal ini dapat terjadi karena adanya kelompok kehamilan beresiko. Berdasarkan hasil laporan survei yang dilaksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional RI, Kelompok kehamilan resiko tinggi di Indonesia pada tahun 2017 adalah sekitar 37%, dimana kategori dengan resiko tinggi tunggal mencapai 22,4%, dengan rincian umur ibu <18 tahun sebesar 4,1%, umur ibu ˃34% tahun sebesar 3,8%, jarak kelahiran <24 bulan sebesar 5,2%, dan jumlah anak yang terlalu banyak (˃3 orang) sebesar 9,4% (BkkbN, 2008).

Jika kita cermati salah satu sasaran yang ingin dicapai dalam Program Indonesia Sehat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015 – 2019 adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. Untuk itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan beberapa indikator untuk mencapai sasaran tersebut, diantaranya menurunkan AKI dari 359 per 100.000 KH menjadi 306 per 100.000 KH (RPJMN RI, 2015-2019).

AKI Babel
Data mengenai kasus AKI bisa kita lihat dari publikasi Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kepulauan Bangka Belitung secara berkala setiap tahun. Pada publikasi tersebut bisa kita lihat bahwa AKI Tahun 2016 di Babel terjadi sebanyak 24 kejadian, dengan rincian di setiap Kabupaten/Kota yaitu di Bangka 6 kasus, Belitung 4 kasus, Bangka Barat 5 kasus, Bangka Tengah 2 kasus, Belitung Timur 2 kasus, Pangkalpinang 5 kasus, dan 0 kasus di Bangka Selatan.

Kemudian pada Tahun 2017, AKI menurun menjadi sekitar 21 kasus saja, dengan rincian di setiap Kabupaten/Kota yaitu di Bangka 4 kasus, Belitung 6 kasus, Bangka Barat 4 kasus, Bangka Selatan 2 kasus, Belitung Timur 1 kasus, Pangkal Pinang 4 kasus, dan 0 kasus di Bangka Tengah. Namun, alih-alih semakin turun, justru kasus AKI mengalami kenaikan pada Tahun 2018, AKI malah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 25 kasus sepanjang tahun 2018 lalu.

Penyebab
Jika kita cermati kasus per kasus sebagaimana yang dilaporkan di dalam publikasi Profil Kesehatan yang disusun oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara berkala setiap tahun, bisa kita simpulkan bahwa penyebab terbesar kematian ibu selama beberapa tahun belakangan ini, masih tetap sama yaitu pendarahan. Sementara itu penyebab lain-lain juga berperan cukup besar dalam menyebabkan kematian ibu secara tidak langsung seperti kondisi penyakit kanker, ginjal, jantung, tuberkulosis atau penyakit lain yang diderita ibu

Masih tingginya AKI, juga dipengaruhi dan didorong berbagai faktor yang mendasari timbulnya resiko maternal dan neonatal, yaitu faktor-faktor penyakit, masalah gizi dari wanita usia subur (WUS) serta faktor 4T (terlalu muda dan terlalu tua untuk hamil dan melahirkan, terlalu dekat jarak kehamilan/ persalinan dan terlalu banyak hamil dan melahirkan). Kondisi tersebut di atas lebih diperparah lagi oleh adanya keterlambatan penanganan kasus emergensi/ komplikasi maternal dan neonatal akibat oleh kondisi 3T (terlambat), yaitu: 1) Terlambat mengambil keputusan merujuk, 2) Terlambat mengakses fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat, dan 3) Terlambat memperoleh pelayanan dari tenaga kesehatan yang tepat/ kompeten.

Solusi
Kematian ibu akibat persalinan merupakan masalah yang bersifat multidimensional. Kematian ibu akibat persalinan tidak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan sang ibu semata seperti kekurangan gizi, anemia dan hipertensi, melainkan juga turut dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai, serta kesadaran keluarga untuk meminta bantuan tenaga kesehatan dalam proses persalinan. Artinya, intervensi yang dilakukan oleh pemerintah harus menyasar lebih dari satu insititusi, dan turut melibatkan masyarakat sipil dalam prosesnya. Berangkat dari permasalahan yang menjadi penyebab masih tingginya AKI di Babel beberapa tahun belakangan ini, maka perlu upaya serius dari seluruh kalangan, terutama dari Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun paket kebijakan yang efektif guna menyelesaikan masalah tingginya AKI sebagaimana telah diuraikan di atas.

Pemerintah bersama masyarakat bertanggungjawab untuk menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, dan perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, serta akses terhadap keluarga berencana. Di samping itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu yakni kepada kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI. Semoga ke depan permasalahan sosial ini bisa segera diatasi, sehingga Babel bisa terlepas dari masalah kematian ibu yang masih menghantui. Aamiin.(***).

Related posts