Menghormati dan Menghargai Seorang Guru

  • Whatsapp

Oleh: Ucu Kausariah
Mahasiswi IAIN SAS Babel

Islam menganjurkan umatnya agar senantiasa berusaha mencari ilmu pengetahuan disamping berusaha untuk memingkatkan kemahiran dan penguasaan diri dalam berbagai bidang. Selain itu, ilmu pengetahuan juga merupakan kunci kepada kebahagiaan hidup manusia di dunia. Karena, sekiranya kita hidup tanpa ilmu pengetahuan, kemungkinan kita pada hari ini, masih berada dalam kemunduran dan kemiskinan. Oleh sebab itu, jelaslah kepada kita bahwa ketinggian ilmu pengetahuan merupakan ukuran yang sangat penting dalam membedakan antara kemajuan dan kemunduran bagi sesuatu bagsa dan negara.
Oleh sebab itu, kita seharusnya bersyukur di atas pengorbanan dan jasa guru yang telah mendidik serta membimbing kita menjadi manusia yang baik pada hari ini. Baik guru yang terlibat secara langsung mendidik kita di sekolah maupun diperingkat universitas, dan tidak kurang penting juga kepada guru yang mengajarkan kita mengenal membaca ayat-ayat Al-Qur’an, ilmu fardhu’ain dan sebagainya. Tanpa bimbingan dan tunjuk ajar dari mereka, kita tidak mempunyai asas yang kuat untuk mengamalkan kefardhuan asas dalam Islam. Kita sedar bahawa ilmu yang ada pada diri kita ini, sebenarnya hanyalah sedikit. Ini jelas sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 109: “Katakanlah wahai Muhammad, kalaulah seluruh lautan menjadi tinta untuk menulis kalimah-kalimah Tuhanku, sudah tentu akan habis kering lautan itu sebelum habis kalimah-kalimah Tuhanku, walaupun kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya sebagai bantuan.”
Nabi Musa, Kaliimullah dengan segenap ketinggian maqomnya di hadapan Allah, tidak diizinkan untuk mengambil ilmu dari Khidir, sampai akhirnya percakapan berlangsung dan membuahkan hasil dengan sebuah syarat dari Khidir : “Khidir berkata, jika engkau mengikuti maka janganlah engkau menanyakanku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya” (QS. Al Kahfi:70)”.
Jangan bertanya sampai diizinkan, itulah syarat Khidir kepada Musa. Maka jika seorang guru tidak mengizinkannya untuk bertanya maka janganlah bertanya, tunggulah sampai ia mengizinkan bertanya. Kemudian, do’akanlah guru setelah bertanya seperti ucapan, Barakallahu fiik, atau Jazakallahu khoiron dan lain lain. Banyak dari kalangan salaf berkata, “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”
Memandangkan kedudukan guru itu sangat mulia, maka sawajarnya mereka dihormati dan dikenang jasanya sepanjang hayat. Para sahabat dan salaf al-soleh merupakan suri tauladan umat manusia yang telah memberikan banyak contoh dalam menghormati seorang guru. Rasulullah sallallahualaihi wasallam bersabda : “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (Riwayat Ahmad).
Brrikutnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan al-Syafi’e melihatku kerana segan kepadanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Tawadhu’lah kalian terhadap orang yang mengajari kalian.”
Manakala Imam al-Syafi’e rahimahullah berkata; “Dulu aku membolak-balikkan kertas di depan gurunya (Imam Malik) dengan sangat lembut kerana segan kepadanya dan supaya dia tidak mendengarnya.”
Oleh sebab itu, kita sebagai penuntut ilmu haruslah bersabar dan belajar untuk berfikir positif terhadap guru kita. Terkadang apa yang dipikiran kita negatif terhadap guru kita belum tentu benar, adapun yang dapat kita petik dari cerita antara Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diceritakan di Al-Qur’an dalam Surah Al-Kahfi dari ayat 65-82, ayat-ayat tersebut menceritakan tentang pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir Alaihiwassalam.
Padahal, Nabi Musa adalah Nabi pilihan yang bercakap-cakap secara langsung dengan Allah SWT. Namanya pun disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 300 kali. Kalimatnya pun tidak kalah halus dan menunjukkan jauhnya sifat sombong. Nabi Musa menyadari bahwasannya di atas ilmunya masih ada orang lain yang jauh lebih berilmu. Jauh berbeda dengan kebanyakan orang sekarang, mereka merasa bahwa dirinyalah yang paling berilmu dibandingkan orang lain. Sehingga ketika ada seseorang yang mengingatkan akan kesalahannya, dia tidak mau menerimanya.
Adapun hikmah yang lain dapat kita petik bahwa ilmu harus dicari dengan istiqomah dan sabar. Walaupun jarak kita dengan sumber ilmu terpaut ratusan kilometer. Hal ini banyak dipraktekkan oleh generasi awal dari sahabat rasul. Mereka rela menempuh jarak yang begitu jauh hanya untuk belajar satu hadits.
Berbeda dengan kondisi para penuntut ilmu zaman sekarang, dimana mereka tidak sabar dan tergesa-gesa dalam menyelesaikan proses belajarnya. Hal ini didorong oleh rasa bosan dan jenuh dalam belajar. Mereka tidak meneladani sikap gigih dari Nabi Musa yang walaupun sudah ditegur sedemikian rupa oleh sang guru, tidak membuatnya untuk menyerah sedikitpun dalam berguru kepada Nabi Khidir.
Adapun syarat yang diajukan Nabi Khidir kepada Nabi Musa hanya satu syarat jika ingin diangkat menjadi murid adalah keharusan untuk bersabar dalam menuntut ilmu. Namun diperjalanan, banyak perbuatan aneh Nabi Khidir yang membuat Nabi Musa tidak sabar untuk memprotesnya. Nabi Khidir pun mengingatkan Nabi Musa akan perjanjian diawal, maka Nabi Musa pun segera meminta maaf dan menyadari kesalahannya.
Kisah ini menunjukkan tentang sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Musa, yaitu segera minta maaf setelah ia menyadari kesalahannya. Sedangkan murid-murid sekarang malah sakit hati dan menyimpan dendam ketika kesalahannya ditegur oleh sang guru.(***).

Related posts