Menghargai Privasi Keluarga Korban Kecelakaan Transportasi Massal

  • Whatsapp

Oleh: Samsun, S.Pd
Guru PPKn SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat

Reformasi telah banyak mengubah tatanan kehidupan sosial bermasyarakat menjadi lebih “liberal”. Tak terkecuali dengan tergerusnya bentuk empati ketika terjadi kecelakaan transportasi. Maraknya video yang menampilkan tangisan duka mendalam keluarga korban tanpa mendapatkan persetujuan pihak yang bersangkutan untuk dipublikasikan sangat banyak bersebaran di lini media massa digital.
Bulan ini, tepatnya hari Minggu tanggal 10 Maret 2019, lagi-lagi kecelakaan pesawat jenis Boing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines terjadi dan diduga menewaskan seluruh penumpang di dalamnya karena belum ada satu penumpangpun yang ditemukan dalam keadaan selamat. Jenis pesawat yang mengalami kecelakaan bulan ini masih sangat diingat oleh masyarakat Indonesia, membuat ingatan kembali kepada pesawat jenis Boing 737 MAX 8 milik Lion Air mengalami kecelakaan naas sesaat setelah tinggal landas pada hari Senin tanggal 29 Oktober 2018.
Tentunya hari itu bisa jadi tak pernah ditunggu kehadirannya oleh para keluarga korban pesawat Lion Air rute Jakarta – Pangkalpinang. Pesawat lion air yang diperkirakan mendarat di Pangkalpinang pukul 07.30 WIB tidak pernah sampai di Pangkalpinang dan secara mendadak hilang kontak pada pukul 06.33 sekitar 13 menit pasca lepas landas dari Jakarta. Selang beberapa saat pasca pesawat hilang kontak, BASARNAS mengumumkan bahwa pesawat Lion Air JT610 sudah A1 (Jatuh) diperairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pernyataan BASARNAS ini membuat publik terutama warga pangkalpinang dan sekitarnya menjadi panik mencari tahu apakah ada keluarga mereka di daftar manifest penumpang Pesawat Lion Air JT610 tersebut.

Muat Lebih

Lalu seperti pemberitaan aktual lainnya, bermunculan berita-berita seputar jatuhnya Pesawat Lion Air JT610 ini diberbagai lini media lokal maupun nasional. Bagikan jamur yang tumbuh subur sesudah musim hujan, media sosial dan aplikasi messenger seperti whatsapp, bbm, dan semacamnya seakan berlomba-lomba membagikan informasi jatuhnya pesawat nahas tersebut. Wajar dan boleh saja membagikan informasi dari pihak-pihak yang kredibel menjelaskan terkait insiden ini seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan SAR Nasional, pihak KNKT, BMKG, DISHUB, atau pihak terkait lainnya. Namun, sangat tidak empatik membagikan informasi wawancara keluarga korban kecelakaan pesawat nahas ini.
Implikasinya, banyak wawancara dengan keluarga korban yang beredar dan dapat diakses siapapun seringkali tak mengindahkan etika dalam pemberitaan bahkan mengabaikan sisi privasi mereka. Miris membaca materi pemberitaan yang mengeksploitasi kesedihan dan duka keluarga korban. Walaupun mungkin ada keluarga korban yang tidak menampakan kesedihan, tidak histeris, tidak menangis, dan berusaha tenang. Apapun itu kita semua harus menyadari bahwa mereka sedang berduka dan kita sewajarnyalah mengharagai privasi kedukaan mereka bukan malah mengeksploitasinya. Sejalan dengan hal ini, Margaretha juru bicara Himpunan Psikologi Indonesia mengatakan peran media massa untuk mambantu proses pemulihan trauma dan kesedihan keluarga korban, dapat dilakukan dengan tidak terlalu mengeksploitasi kesedihan sebagai materi pemberitaan.
Solusinya, kita semua harus dapat memilah mana informasi yang layak untuk disebarluaskan dan mana informasi yang hanya akan menambah duka bagi keluarga korban jika disebarluaskan bukan malah menambah beban kesedihan keluarga korban dengan mengeksploitasi foto-foto korban. Memang, tak dipungkiri keluarga korban membutuhkan informasi dan informasi sekecil apapun berkaitan dengan kecelakaan pesawat yang terjadi sangat berarti bagi keluarga korban. Namun, informasi yang didapatkan dan cara menyampaikan informasi tersebut harus dilakukan secara empatik. Empatik tidak berfokus pada kesedihan keluarga korban, tetapi lebih kepada upaya-upaya yang dilakukan tim rescue dan sukarelawan dalam mengevakuasi korban. Selain itu, kehati-hatian sangat diperlukan dalam mengeluarkan pernyataan yang belum dipastikan kebenarannya karena dapat membangun harapan keluarga korban yang berimbas semakin bertambahnya kesedihan keluarga korban.
Oleh sebab itu, dari kejadian ini, seharusnya kita semua belajar dan menyadari bahwa ruang privasi setiap insan manusia itu adalah hal yang harus disadari dan dijaga sebaik mungkin, terutama ruang privasi keluarga korban bencana apapun. Publikasi profesional yang dilakukan media komersilpun harus mengedepankan kode etik wawancara, dan jika keluarga korban menyatakan tidak bersedia di wawancara atau rekaman video yang dilakukan tidak mendapat ijin mereka untuk dipublikasikan, sewajarnya memang tidak disebarluaskan, karena perlindungan terhadap privasi korban bencana memang dilindungi undang-undang. Lebih dari itu, sebagai masyarakat digital yang memiliki empati, bentuk keprihatinan kita terhadap keluarga korban ya dengan cara selektif dan memilah milih hal yang bermanfaat saja jika ingin membagikan sesuatu di sosial media, aplikasi messenger, ataupun media lainnya. (***).

Pos terkait